February 2, 2023
Feminism A to Z

Belum Tentu Perempuan atau Laki-laki: Penggunaan AFAB dan AMAB dalam Keseharian

Orang yang lahir dengan rahim belum tentu perempuan, seperti orang yang lahir dengan penis belum tentu laki-laki. Yuk, mengenal istilah AFAB dan AMAB!

Avatar
  • January 16, 2023
  • 7 min read
  • 437 Views
Belum Tentu Perempuan atau Laki-laki: Penggunaan AFAB dan AMAB dalam Keseharian

Simone de Beauvoir terkenal dengan bukunya The Second Sex, yang dianggap sebagai tanda awal berkembangnya feminisme glombang kedua di seluruh dunia. Penulis dan filsuf asal Prancis ini, mempertanyakan kembali pengalaman hidup perempuan dalam masyarakat patriarki.

Salah satu kutipannya yang terkenal: ‘One is not born but rather becomes a woman’, hingga kini masih sangat relevan. Kutipan itu dipakai banyak peneliti dan kajian feminis untuk membedah konsep di balik pertanyaan: “Apa sebetulnya arti lahir sebagai perempuan?”

Buat de Beauvoir, kata perempuan lebih dari sekadar “jenis kelamin”. Ia adalah label yang menentukan peran, identitas, dan ekspektasi yang akan diajarkan dan ditanamkan pada mereka yang terlahir dengan vagina dan rahim. Mereka yang dilabeli perempuan, seumur hidupnya akan diikuti dengan harapan-harapan tertentu yang seringnya membatasi hidup mereka.

Lantas, sejak kapan sebetulnya vagina dan rahim jadi penanda seseorang disebut perempuan?

Baca juga:  Magdalene Primer: Memahami Gender dan Seksualitas

Perkembangan ilmu medis berperan besar di sini. Agustín Fuentes, profesor antropologi di Universitas Princeton mengatakan ketentuan seks atau jenis kelamin mulai terjadi sejak 1871, ketika Charles Darwin memberi tahu dunia terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan. Tak hanya dari organ eksternal mereka saja, tetapi sifat atau karakteristik bawaan yang mereka miliki.

Dalam gagasannya, Darwin menekankan laki-laki yang ditandai dengan kepemilikan penisnya lebih berani, agresif, energik, dan lebih cerdas dibandingkan perempuan. Gagasannya ini kemudian diperkuat dengan sebagian besar teori evolusi pada abad ke-19 dan 20—karya-karya yang rata-rata ditulis laki-laki kulit putih. Dalam teori ini mereka menyatakan bahwa evolusi menciptakan dua jenis makhluk—laki laki dan perempuan. Teori ini yang kemudian berumur panjang, dan jadi pegangan mereka yang percaya bahwa biologis manusia terdiri dari dua spektrum saja, alias biner. 

Dampak dari terbatasnya sains melihat gender terlihat lewat pembatasan pemahaman ilmu medis terhadap anatomi tubuh manusia. Individu interseks atau individu yang lahir dengan salah satu dari beberapa karakteristik seks termasuk pola kromosom, gonad, dan alat kelamin dianggap “tidak normal” dan perlu diperbaiki. Hal ini pula akhirnya menimbulkan stigma dan prasangka bagi mereka yang tidak mengidentifikasikan diri baik sebagai laki-laki atau perempuan.

Padahal, sains hari ini memahami bahwa gender adalah produk dari kolonialisme, imperalisme, ilmu medis Barat, dan agama samawi seperti Kristen dan Islam.

Di Twitter, misalnya. Diskusi tentang perkembangan sains memandang gender ini bisa jadi dikskursus saban hari. Di sana, tak jarang individu nonbiner juga transgender merasa lebih terbuka membahas pengalaman dan identitas gender mereka. Namun, tak jarang pula, banyak kelompok yang menolak progresvitas menginvalidasi pengalaman dan pengetahuan tersebut.

Baca juga: Aprilia Manganang dan Buruknya Wawasan Gender, Seksualitas di Indonesia

Salah satu diskursus yang sempat muncul adalah penggunaan istilah AFAB dan AMAB, untuk menjelaskan gender biologis seseorang. Dua istilah ini diyakini dapat membantu kita memahami bahwa gender tidak tetap dan bertahan sejak lahir. Namun, buat beberapa kelompok trans dan nonbiner, istilah ini juga dianggap mengandung nuansa binerisme, alias masih memandang gender hanya terdiri dari dua sisi.

Lalu apakah sebenarnya AFAB dan AMAB yang dimaksud?

Mengenal Istilah AFAB dan AMAB

Seks dan gender adalah dua hal yang beda. Ia mulai dipisahkan sejak teori evolusi berkembang yang kemudian diintegerasikan ke dalam berbagai ranah ilmu lain seperti ilmu medis bahkan ilmu sosial budaya. Namun, secara garis besar, seks dapat dipahami sebagai label dari karakteristik bawaan lahir seorang individu. Sedangkan, identitas gender dapat dipahami sebagai sebuah pemahaman serta serta kesadaran seseorang mengenai gendernya sendiri.

Karena itu, identitas gender seseorang dapat selaras dengan seksnya yang ditunjuk saat lahir atau justru sepenuhnya berbeda. Transgender memiliki identitas gender yang tidak sesuai dengan jenis kelamin bawaan lahir mereka. Selain itu, individu nonbiner juga tidak mengidentifikasi diri sebagai laki-laki atau perempuan.

Dengan demikian seksualitas, sesuatu hal yang individu alami dan ekspresikan diri mereka secara seksual memiliki spektrum yang luas. Ini melibatkan perasaan dan perilaku biologis, psikologis, fisik, erotis, emosional, sosial, atau spiritual.

Ketika seks dan gender tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang biner dan seksualitas merupakan spektrum yang luas, maka istilah AFAB dan AMAB dianggap tepat digunakan umumnya dalam urusan medis. Dua istilah ini dinilai lebih bernuansa dan inklusif gender karena terdapat pemisahan jelas antara seks biologis dan identitas serta ekspresi gender. Hal ini juga diperkuat karena menurut Claudia Johanson, terapis hubungan, keintiman, dan seks, istilah ini diciptakan oleh transpuan untuk mengekspresikan kekerasan yang mereka alami karena dipaksa memenuhi peran gender laki-laki.

AFAB dan AMAB sendiri secara terpisah merupakan kepanjangan dari Assigned Female at Birth (ditetapkan sebagai perempuan saat lahir)dan Assigned Male at Birth (ditetapkan laki-laki saat lahir). Keduanya adalah deskripsi yang dimaksudkan untuk menekankan bahwa sebagai bayi baru lahir, kita diberi jenis kelamin hanya berdasarkan karakteristik eksternal atau jumlah kromosom yang kita miliki.

Contohnya, bayi yang lahir dengan vagina dan dengan kromosom dominan X, dianggap perempuan. Sedangkan bayi dengan penis dan dengan kromosom dominan Y, dianggap laki-laki. Mereka masing-masing adalah AFAB dan AMAB.

Dalam praktik medis hari ini, para dokter bahkan tidak menerapkan pengecekan kromosom pada bayi yang baru lahir. Cara tradisional seperti melihat penis dan ukuran belahan vagina pada bayi umum dipakai.

Tak jarang bayi-bayi yang sebetulnya termasuk interseks malah diberi gender yang tak sesuai dengan situasi kromosomnya. Ini berdampak pada mereka seumur hidup: seperti akan mengalami kebingungan (umumnya) saat usia remaja, orang tua melakukan operasi mutilasi (sunat pada perempuan) tanpa persetujuan individu terkait, dan merasa ketidaksesuaian situasi diri dengan gender yang ditempelkan.

Kontroversi Istilah AFAB dan AMAB

Namun dilansir dari LGBTQ Nations, terdapat dua catatan penting dalam penggunaan label ini. Pertama label ini biasanya digunakan di area medis. Kedua, label ini juga bukan untuk merujuk pada identitas gender seseorang. Dengan demikian, label AFAB dan AMAB bukan label lengkap yang bisa mengidentifikasikan seseorang secara utuh dan bukan kata benda atau noun.

Kita tidak boleh menyebut orang lain AFAB atau AMAB (kecuali mereka benar-benar setuju dengannya) dan kita juga tidak mengidentifikasi diri sendiri dengan label ini dengan cara yang sama mengidentifikasi dan menyebut diri sendiri sebagai gay, heteroseksual, biseksual, dan lain-lain. Hal ini tak lain karena identitas dan ekspresi gender adalah bagian dari identitas yang hanya dapat ditentukan sendiri oleh masing-masing individu.

Peleburan pemahaman antara seks dan identitas gender di masyarakat tentu membuat istilah AFAB dan AMAB sulit dipahami. Mungkin sebagian besar dari kita akan mempertanyakan, seberapa penting istilah ini digunakan dan adakah perbedaan yang signifikan terjadi jika kita mulai menggunakan istilah AFAB dan AMAB.

Praktisi perawat bersertifikat Kinsey Kolega yang bekerja di pusat kesehatan LGBTQIA+ punya jawabannya. Diwawancarai oleh Cleveland Clinic, sebagai tenaga medis inklusif, Kolega mengungkapkan penggunaan AFAB dan AMAB sangat penting untuk memperluas akses kesehatan yang non-diskriminatif.

Sebuah Mula Memahami Gender yang Lebih Luas dari Sekadar Spektrum

Pasalnya, pemahaman masyarakat tentang seks dan gender yang biner (sayangnya juga diamini oleh banyak tenaga medis) kerap kali menghadirkan stigma atau prasangka pada individu trans atau nonbiner. Penghakiman dan invalidasi pengalaman dan identitas jadi senjata dan berujung pada terbatasnya akses individu mendapatkan layanan kesehatan yang mumpuni.

“Ketika kita merasa dikecualikan dari percakapan tentang kesehatan, kita mungkin merasa terasing dan terisolasi dari sistem kesehatan. Hal yang justru dapat mencegah kita mencari layanan kesehatan atau bahkan informasi dasarnya,” kata Kolega.

Hal ini terlihat nyata dalam laporan Jurno pada 2022 lalu. Alya Faradisa selaku penulis memaparkan pengalaman diskriminasi akses kesehatan yang dialami dua individu biner dengan rahim. Lana (bukan nama sebenarnya) nonbiner lajang berusia 22 tahun pernah mengunjungi dokter kandungan saat dirinya mengalami periode menstruasi yang fluktuatif.

Baca juga:  Salah Kaprah Tentang Vagina Kita

Bukannya mendapatkan medikasi yang tepat dengan pemberian pil KB yang bisa melancarkan siklus menstruasi, Lana justru diminta menikah dan memiliki anak. Respons yang diterma Lana menekankan bahwa pil KB hanya bisa diresepkan pada perempuan yang sudah menikah dan hendak memiliki anak saja.

Pentingnya pemakaian istilah AFAB dan AMAB menurut Kolega juga dapat mengakomodir dengan baik pelayanan kesehatan bagi individu interseks. Sejarah panjang di ranah medis di mana para profesional kerap kali melakukan prosedur non-konsensual untuk “memperbaiki” apa yang dianggap sebagai alat kelamin luar yang anomali. Ketika hal ini terjadi, dokter dan orang tua memutuskan jenis kelamin individu interseks untuk diri mereka sendiri dan menggunakannya untuk memaksakan identitas gender mereka.

“Istilah AFAB dan AMAB tidak sempurna, tetapi mereka mengakui bahwa jenis kelamin dan gender ada di sepanjang spektrum. Tidak semua orang adalah ‘laki-laki atau perempuan’ atau cocok dengan yang dianggap masyarakat sebagai laki-laki atau perempuan, dalam hal anatomi atau penampilan fisik mereka,” jelas Kolega. Terakhir, penggunaan istilah AFAB dan AMAB dapat memulai perbedaan signifikan di masyarakat tentang pandangan seks dan gender yang biner.


Avatar
About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *