November, 20 2017
Bercermin dari Setiap Dwi Hartanto dalam Diri Kita

Masyarakat yang materialistis membuat banyak orang terdorong untuk meraih pencapaian semu atau palsu.

by Antonina Suryantari
Issues // Politics and Society
Share:
Kisah tentang Dwi Hartanto, mahasiswa doktoral Indonesia di Belanda, yang memalsukan prestasinya mulai menghilang dengungnya. Begitu juga kisah suami istri pemilik agen perjalanan First Travel yang menggelapkan dana jemaah umrah untuk memperkaya diri. Namun bagi saya, kisah-kisah mereka memperingatkan saya akan betapa mudahnya kita menjadi palsu. Dan betapa sejujurnya saya sendiri banyak mengagumi hal palsu.

Kemudian saya bertanya-tanya, apakah saya pantas ikut-ikutan mencaci mereka sementara saya juga sering menjadi Dwi Hartanto dalam skala yang lebih kecil? Saya rasa ada banyak Dwi Hartanto lain di luar sana yang juga diagung-agungkan keberhasilannya (yang palsu) dan dihempaskan ketika terbuka kedoknya.

Saya tumbuh di lingkungan yang menganggap pencapaian material itu penting. Dalam pertemuan keluarga besar, para oom dan tante akan memamerkan barang-barang yang mereka miliki, mulai dari mesin cuci dan lemari es, sampai sepeda motor dan mobil. Pertanyaan orang dewasa yang bertemu anak usia sekolah juga sebagian besar adalah tentang pencapaian di sekolah. “Ranking berapa?”, “Masuk IPA atau IPS?”, “Lho kok di IPS?”, dan pertanyaan lain sejenisnya.

Saya pertama kali merasakan nikmatnya kepalsuan semacam itu ketika duduk di bangku SMP kelas tiga. Secara akademis, saya tidak termasuk anak pintar kesayangan guru, tapi juga bukan yang terburuk. Saat penerimaan rapor caturwulan, saya berada di peringkat tiga besar. Bagi saya itu ajaib karena saya tahu ada teman-teman lain yang nilainya jauh di atas saya. Bapak saya yang seorang guru sudah mengatakan bahwa rapor akhir suatu jenjang sekolah itu isinya nilai tambahan semua. Namun demikian, nikmatnya dipuji mengalahkan keinginan saya untuk tidak merasa bangga. Ternyata mendapat pujian atas pencapaian palsu itu sangat memabukkan. “Enak juga ya, dilihat dan dianggap sebagai anak yang punya aji,” pikir saya saat itu.

Di tahun ketiga kuliah, saya menggantikan teman saya sebagai tenaga semi-sukarela di sebuah sekolah dasar yang menampung siswa tidak mampu dan menerapkan pola inklusivitas. Di sebuah pertemuan keluarga, seorang oom bertanya, “Wis ngelesi ning ndi?” (Sudah memberi les di mana?), yang saya jawab dengan cerita bahwa saya saat itu menjadi tenaga sukarela di daerah Mangunan, Yogyakarta. Si oom bertanya lagi,  “Lha, nek ning kana ki njuk dibayar ora?” (Lha, kalau kamu kerja di sana, dibayar atau tidak?).



Saya lupa apa jawaban saya, tapi tanggapan oom selanjutnya jelas meremehkan apa yang saya kerjakan saat itu. Saya ingat saya lari ke kamar mandi dan menangis marah. Tahu begitu tadi saya jawab ngawur saja, yang penting keren karena kelihatan sudah menghasilkan uang. Kenangan dianggap kecil dan remeh di keluarga besar, ditambah kenangan-kenangan lain sebagai obyek risakan, membuat saya dendam pada dunia dan ingin membuktikan diri saya.

Ketika saya berhasil lolos seleksi sebuah program budaya dari pemerintah Amerika Serikat, saya merasa di puncak dunia. Saya lalu tahu nikmatnya tersenyum lebar, bercerita tentang tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi banyak orang di sekitar saya, berbicara tentang rencana penerbangan di sekitar orang lain, berada di antara orang-orang hebat, dan menjadi “setara” dengan orang-orang lain. Saat itu dan setelahnya, saya merasakan betapa susahnya mengingatkan diri saya untuk tidak terpeleset membual.

Sulit sekali untuk tidak menyombongkan diri. Berat sekali untuk tidak merasa panas ketika orang mendadak kehilangan selera mendengarkan saya, ketika tahu bahwa program yang saya ikuti saat itu adalah program non-gelar. Ketika saya mendapatkan kesempatan untuk belajar lagi dengan dana assistantship, saya sering tidak menolak pujian orang-orang yang menyatakan betapa hebatnya saya mendapat beasiswa lagi. Belum banyak orang tahu bahwa banyak mahasiswa pascasarjana di AS yang bersekolah dengan cara tersebut. Saya agak malas menjelaskan. Sejujurnya, saya merasa di langit ketujuh saat dipuji dan merasa dendam saya pada dunia terbalaskan.

Dalam proses menempuh pendidikan magister, sesuatu terjadi. Saya harus melalui perjuangan panjang untuk mendapatkan hak asuh putra saya. Saya yang masuk ke negeri jagung sebagai seorang akademis, sering harus rela dipandang rendah oleh tenaga medis, hakim, pengacara, dan banyak orang lain. Dalam proses ini saya belajar bahwa ada hal lain yang lebih substansial yang harus dinikmati, dibanggakan, dan diresapi. Saya pikir saya sudah insaf soal meninggikan diri ini, tetapi ternyata menjadi sombong itu nikmat dan sangat mudah.

Di sebuah stasiun di Surabaya, saya bertemu seorang teman sekolah dan dicemplungkan ke dalam grup WhatsAppp alumni. Di grup ini saya melihat bahwa teman-teman saya memanggil para teman dokter dengan sebutan “Dok”, yang bagi saya aneh. Bukankah kami semua berada di grup yang sama karena pernah menempuh pendidikan di sekolah yang sama. Perlukah kami saling memanggil berdasarkan profesi? Entahlah.

Saya bertanya-tanya kalau saya yang mendapat panggilan itu apakah saya akan menolaknya? Mampukah saya mengatakan, “Ah, panggil nama aja”? Mungkin saya saja yang sensitif karena saya bukan dokter atau pejabat pemerintah. Di waktu lain, saat sedang mengobrol dengan teman zaman remaja, teman saya menyebut tentang seorang teman lain yang sudah memiliki rumah besar dan jabatan di sebuah kantor dinas. “Jadi apakah itu yang namanya sukses?” Sekali lagi saya gatal ingin mendendam lagi pada dunia.

Beberapa waktu lalu teman yang dokter itu memohon izin untuk meninggalkan grup WA. Bukan pengunduran diri mereka yang menjadi menarik bagi saya, tetapi reaksi teman-teman lain setelah itu. Salah satu teman berkata, “Aku tak metu sisan ben dikira dokter (Aku keluar sekalian deh biar dikira dokter).” Seorang teman yang lain menambahkan bahwa dia juga punya pikiran yang sama. Saya tahu mereka bercanda. Meski demikian, saya juga bertanya-tanya pada saat yang bersamaan, “Njuk ngapa nek dokter?” (Terus kalau dokter kenapa?). Saya rasa jawaban dari pertanyaan tersebut akan tidak jauh dari betapa suksesnya mereka dan betapa mereka sudah memiliki profesi yang baik. Dan hal ini yang membuat saya semakin mengerti mengapa Dwi Hartanto melakukan apa yang dia lakukan.

Saya kembali melihat ke diri saya sendiri. Patut banggakah saya pada apa yang saya lakukan saat ini? Apa yang sudah saya lakukan agar anak dan murid-murid saya tidak perlu menjadi Dwi Hartanto untuk mendapat pengakuan? Saya rasa saya harus berterima kasih pada Dwi karena sudah menjadi pengingat bagi saya.

Antonina Suryantari adalah seorang ibu dan pengajar Bahasa Inggris yang suka menulis. Menulis adalah caranya belajar, bersyukur, melepaskan kepenatan, dan menunjukkan empati.