Women Lead
July 23, 2021

Buku Sejarah Melenyapkan Perempuan dalam Islam

Literatur sejarah Islam banyak dipengaruhi nilai sosial dan kepentingan politik, sehingga peran perempuan direduksi agar sesuai dengan norma masyarakat.

by Tabayyun Pasinringi, Reporter
Issues
perempuan pejuang Islam pada masa rasululla
Share:

Kita patut bangga, diskusi keagamaan tentang peran perempuan pekerja, menolak poligami, dan anti-objektifikasi seksual kian marak di media sosial. Akun-akun Swara Rahima, Mubadalah, Muslimah Reformis, Cherbon Feminist, dan Muslimah Bekerja termasuk yang ajek menyuarakan pesan bahwa perempuan memiliki peran yang sama seperti laki-laki dalam ajaran agama. 

Namun, di waktu bersamaan, suara-suara yang menempatkan perempuan sebagai objek dengan tugas berkisar di sumur-kasur-dapur hingga kampanye kelas sukses poligami menggunakan dalih agama, juga semakin banyak di media sosial atau ceramah-ceramah.

Ulil Abshar Abdalla, akademisi dan pengampu Ngaji Ihya mengatakan, pemahaman agama yang meminggirkan perempuan, tidak lepas dari cara sejarah dituliskan dengan lensa patriarkal. 

Dalam hematnya, Islam memberikan ruang keadilan untuk perempuan yang pada masa kelahirannya berada di tatanan patriarkal masyarakat Arab. Nabi Muhammad bahkan secara langsung mengonfirmasi pengalaman perempuan. Saat itu, banyak tokoh perempuan yang ikut memperjuangkan Islam, seperti Khadijah RA sebagai pengusaha, Aisyah RA yang menjadi pengajar bagi para Sahabat Nabi, dan Nusaibah RA sang pemimpin perang. 

Namun, peran perempuan dalam kesejarahan Islam semakin lama direduksi dan dihilangkan agensinya. Cara narasi sejarah menghilangkan peran perempuan, imbuhnya, dapat dilihat dari penelitian Asma Afsaruddin, akademisi kajian agama Islam dari Indiana University, AS. Afsaruddin mengaji Thabaqat, literatur kesejarahan yang ditulis berdasarkan era tertentu, dari sejarawan Muhammad Ibnu Sa’d yang hidup di era Abbasiyah (750-1250), Ibnu Hajar di era Mamluk (1250-1517), dan Ibnu Abd-al Barr di era Abbasiyah. 

“Berdasarkan Thabaqat generasi berbeda itu, ada kecenderungan menarik, ulama membersihkan sejarah Islam dari peran perempuan. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan cara Ibnu Sa’d dan Ibnu Hajar menuliskannya,” ujar Ulil dalam diskusi “Islam dan Sejarah Peminggiran Perempuan: Menelaah Kesarjanaan Asma Afsaruddin” yang diselenggarakan Yayasan Rumah KitaB, (16/7). 

Ulil menambahkan, Ibnu Sa’d banyak menuliskan tentang masa awal perkembangan Islam dan perempuan yang memperjuangkannya, seperti Ummu Aiman, sahabat Rasul yang terlibat perang. Pun, Ummu Waraqah yang menjadi imam salat juga untuk keluarga laki-laki karena ia adalah penghafal Alquran, mempraktikkan jiwa kepemimpinan, dan salah satu orang pertama yang masuk Islam. 

Baca juga: Nurul Bahrul Ulum: Menjadi Feminis adalah Agamis

Ibnu Sa’d menuliskan peran mereka dengan apa adanya, lebih ‘santai, dan tanpa beban, terutama untuk Ummu Waraqah. Namun berbeda dengan penulisan Ibnu Hajar yang ‘membersihkan’ peran Ummu Waraqah sebagai imam agar tidak terlalu menonjol karena ada nilai moral berdasarkan peran gender di tahun terakhir masa awal perkembangan Islam. 

“Pemahaman dari masa Mamluk, seperti dari Ibnu Hajar tersebut, yang kemudian populer diajarkan di sekolah saat ini,” ujarnya. 

Peran Politik Era Umayyah dan Abbasiyah

Ulil mengatakan, untuk melengkapi temuan dari Afsaruddin, kita bisa melihat temuan Nadia Maria El Cheikh, akademisi sejarah Islam, yang berfokus pada perubahan penulisan tentang perempuan di era Umayyah, tahun awal pembentukan Islam, dan Abbasiyah. 

Mengutip dari El Cheikh, Ulil mengatakan, dalam masa Abbasiyah terdapat penulisan ulang yang berbeda terhadap model Islam sejak pertama kali muncul karena berpusat pada nilai moral, termasuk untuk perempuan. Contohnya, tradisi menangisi orang yang telah meninggal dalam tradisi masyarakat Arab yang membuat perempuan melukai wajah, berteriak histeris, dan merobek kerudung, kata Ulil. 

Era Abbasiyah kemudian menuliskan narasi sejarah yang menilai hal tersebut tidak sesuai moral dan melawan kehendak Tuhan, untuk membedakan perempuan jahiliyah dengan perempuan Islam. Perempuan jahiliyah dianggap sebagai orang yang emosinya tidak terkontrol. Sementara, Islam menilai terlalu emosional bukan sesuatu yang baik dan harus dikontrol. Maka dari itu, muslimah disebut tidak boleh terlalu emosional ketika seseorang terdekat meninggal dunia, Ulil menambahkan. 

“Cara untuk membedakan dan ‘memoralisasi’ perempuan tersebut tidak lepas dari peran kekuasaan politik yang ingin dicapai Dinasti Abbasiyah untuk membawa Islam ke arah ajaran yang lebih ‘murni’,” ujarnya.

Ia mengatakan, Dinasti Abbasiyah dan Umayyah adalah lawan politik. Dinasti Abbasiyah hadir untuk mengoreksi era Umayyah yang dianggap secara moral dikorupsi oleh perilaku yang sangat duniawi. Selain itu, Dinasti Abbasiyah menganggap memiliki klaim lebih kuat untuk merepresentasikan ajaran Islam karena kedekatan dengan silsilah keluarga Rasul yang tidak dimiliki oleh Umayyah. 

Baca juga: Menelusuri Jejak Feminisme di dalam Islam

Untuk menambah kekuatan politiknya berdasarkan nilai moral masyarakat itu, Dinasti Abbasiyah menggandeng ulama-ulama yang sebelumnya dijauhi di masa Umayyah. Dinasti Abbasiyah kemudian memiliki basis politik yang kuat karena didukung oleh nilai-nilai religius. 

Pada masa itu, Islam cenderung dibebani dengan moral dan konstruksi peran sosial, sehingga laki-laki harus begini dan perempuan begitu. Hal ini semakin kuat di era setelah Abbasiyah, seperti era Mamluk kata Ulil.

“Ini juga menjadi penyebab dalam narasi sejarah, Thabaqat, peran perempuan terpinggirkan. Jika perempuan tidak sesuai dengan moral tersebut, maka datanya akan dihilangkan,” Ulil menjelaskan. 

Narasi Sejarah Dipengaruhi Penulisnya

Nur Rofiah, akademisi bidang IImu Alquran dan Tafsir Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta mengatakan, dalam memahami narasi keagamaan berdasarkan sejarah harus menyadari perbedaan antara sejarah sebenarnya dan narasi sejarah yang ada di buku-buku. Narasi sejarah sangat bergantung pada cara penulis yang mendeskripsikannya. Karenanya, perspektif penulis sejarah, umumnya laki-laki dan lekat dengan nilai-nilai patriarki, juga ikut memengaruhi cara perempuan tersebut ditulis. 

“Subjektivitas penulis sejarah sangat memengaruhi posisi perempuan dalam narasi sejarah Tidak mudah bagi laki-laki untuk mengintegrasikan pengalaman kemanusiaan khas perempuan, baik secara biologis dan sosial. Karena tidak mengalaminya, maka cenderung tidak mengetahuinya, menganggapnya tidak ada, lalu tidak mempertimbangkannya. Perempuan rentan dipandang tidak penting lalu tidak dituliskan perannya dalam narasi sejarah,” jelas Nur pada Magdalene, (19/7).

Dalam sejarah kelahiran Islam, tandasnya, perempuan memiliki peran menonjol. Bahkan menjadi subjek utama pada Tarikh Tayri’ (sejarah Syariat), misalnya Siti Hajar dalam sejarah Haji dan Idul Adha, Siti Khadijah RA adalah adalah orang pertama yang beriman, bahkan saat Rasulullah sendiri masih bimbang dengan kerasulannya. 

“Sayang sekali peran perempuan sebagai subjek spiritual utama ini tidak menonjol dalam narasi sejarah. Khatib Idul Adha masih banyak yang hanya menyebut Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tanpa menyebut Siti Hajar,” ujar pendiri Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam) tersebut. 

Baca juga: Kodrat Perempuan adalah Jadi Ibu Merupakan Miskonsepsi

Proses Memahami Kemanusiaan Perempuan

Nur mengatakan, peran menonjol perempuan dalam sejarah akan terlihat jika sejarah Islam dipahami sebagai sebuah sistem yang teksnya berkaitan dengan tujuan menciptakan kehidupan yang rahmat bagi semesta, dan fondasi moral menyempurnakan akhlak manusia, termasuk perempuan. 

Sejarah kehadiran Islam adalah sejarah pemanusiaan perempuan dari titik berangkat sebagai objek menuju subjek penuh dalam sistem kehidupan. Sejarah Muslim kadang bergerak searah dengan misi tersebut, tapi tidak jarang bergerak ke arah yang berlawanan, ia menambahkan. 

“Sistem ajaran Islam juga mesti dipahami sebagai petunjuk untuk memproses secara terus menerus agar sistem kehidupan riil yang dihadapi manusia bergerak menuju misi berdasarkan landasan moralnya,” kata Nur. 

Teks keislaman merekam proses panjang tersebut, sehingga Alquran maupun hadis memiliki tiga jenis teks. Pertama, teks titik berangkat, yaitu teks yang merefleksikan cara pandang masyarakat Jahiliyah yang meletakkan perempuan sebagai objek. 

“Misalnya gambaran surga dengan bidadari. Cara pandang dalam teks titik berangkat adalah sesuatu yang akan diubah selama 23 tahun masa pewahyuan, sehingga gambaran surga yang tertinggi adalah kebahagiaan berjumpa dengan Allah, bukan bidadari,” kata Nur. 

Kedua, tambahnya, teks target antara yang melihat perempuan itu sepersekian laki-laki, seperti teks tentang poligami. Karena teksnya Target Antara, maka pesan tersebut juga tidak bersifat permanen. 

Ketiga, teks tujuan final,menggambarkan cita-cita tertinggi sistem kehidupan yang menjadi misi Islam, misalnya teks tentang monogami yang adil. Surat an-Nisa ayat 3 mengandung pesan tentang poligami dan monogami dan menyebut monogami lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya, ujarnya. 

Nur berpesan, jika teks dan narasi itu dipahami sebagai sistem dan proses tak berkesudahan untuk memanusiakan manusia termasuk perempuan, maka pesan revolusioner Islam akan terus hidup sepanjang zaman. Namun, kesadaran tentang kemanusiaan perempuan sejak dulu hingga sekarang juga bertingkat. 

“Sayangnya, ajaran Islam yang mengubah kesadaran kemanusiaan perempuan secara revolusioner pada abad 7 Masehi ini ada kecenderungan semakin lama redup karena bertentangan dengan sistem budaya, politik, ekonomi, dan lainnya. Bahkan semangat besar untuk kembali hidup seperti pada masa Nabi, justru kembali ke nilai-nilai kemanusiaan perempuan yang berada dalam teks titik berangkat atau target antara,” pungkasnya. 

Tabayyun Pasinringi adalah penggemar fanfiction dan bermimpi mengadopsi 16 kucing dan merajut baju hangat untuk mereka.