March 06, 2020
Citra Tubuh Positif Baru Valid Jika Dilakukan Tokoh Publik

Jangan tunggu Tara Basro mendeklarasikan kampanye tubuh positif untuk mencintai dirimu sendiri.

by Ester Pandiangan
Lifestyle // Health and Beauty
Body Diversity_Body Image_Beauty Standards_SarahArifin
Share:

Jagat dunia maya sedang ramai dengan foto aktris Tara Basro yang memperlihatkan lipatan lemaknya. Awalnya saya ragu apakah itu benar Tara, karena terakhir saya lihat dia di film Perempuan Tanah Jahanam (2019), badannya liat dan pejal. Kemudian saya buka Instagramnya dan masuk ke slide selanjutnya, dan memang benar lemak yang berlipat tersebut adalah milik Tara.

Dan, sungguh dia sangat cantik dan bercahaya dengan keutuhan badannya yang demikian. Foto tersebut sudah disukai lebih dari 600 ribu orang dengan komentar-komentar yang positif, mendukung—ini terlepas dari adanya komen Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang menyebut foto Tara bisa melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Saya termasuk salah satu yang memberikan persetujuan terhadap foto tersebut sampai akhirnya saya unloved. Bukan berarti saya tidak mendukung citra tubuh positif yang dilakukan Tara Basro. Saya hanya menyayangkan, kenapa harus dimulai oleh tokoh publik atau selebritas yang melakukan sesuatu baru para warganet mengakui kalau itu adalah sesuatu yang valid? Lantas kalau orang biasa yang berfoto dengan tumpukan lemak begitu, apakah akan mengundang tagar-tagar kebaikan dan dukungan?

Yang saya alami tidak demikian.

Sudah hampir lima tahun terakhir ini saya menekuni Bikram yoga, yoga panas di suhu 420 Celsius. Ada kontroversi sendiri mengenai penemu aliran yoga ini, yang dilaporkan melecehkan calon guru dan murid-muridnya. Namun dengan melakukan Bikram yoga, saya belajar mencintai tubuh saya. Kulit saya. Keringat saya. Lekuk saya. Otot saya. Lemak saya. Seluruh “kesayaan” pada diri saya secara total.

Baca juga: Tara Basro, Inul, dan Alergi Terhadap Tubuh Perempuan

Saya kerap membagikan aktivitas saya beryoga di Insta Story. Saat melakukan yoga, pakaian saya seadanya, tidak jarang saya memakai atasan dengan perut terlihat. Suatu hari saya membagi foto saya mengenakan pakaian semacam itu dengan posisi duduk dan terlihat lemak bertumpuk tiga lapis. Caption saya: I love my belly.

Alih-alih mendapatkan respons positif seperti Tara Basro, kebanyakan pengikut saya memberikan emotikon tertawa. Ada yang berkomentar, “Wah, sudah yoga mahal tapi tetap berlemak…” Sementara yang lain, “Duh, perutnya maju tuh..”

Hampir semua memberikan komentar yang tidak positif dan membangun, tidak seperti yang diterima Tara. Tidak ada ucapan,” You are always lovable” atau “You’re beautiful, baby” serta kalimat-kalimat pendukung lainnya untuk tetap “just the way you are!”

Yang saya terima malah, “You should cut your motherfucking belly!” “Yoga mahal-mahal tapi kok lemak tetap ada?” Dengan segala hormat, tulisan ini tidak dibuat sebagai bentuk anti terhadap ekspresi diri Tara Basro. Apalagi sebagai perwujudan dendam karena ketika mengunggah foto tubuh berlemak, saya tidak mendapat dukungan positif. Duh, terlalu dangkal kalau hanya itu.

Baca juga: Budaya 'Gym' dan Citra Tubuh yang Buruk: Pengalaman Saya

Hanya saja, saya ingin melemparkan kembali isu citra tubuh positif ini kepada warganet dan pembaca, apakah harus menunggu seorang tokoh publik untuk membentuk citra tubuh positif? Apakah harus menjadi tokoh publik supaya diterima apa adanya?  Coba deh kalau orang awam yang mengunggah tubuh “apa adanya” tersebut, apa tidak dinyinyirin semua umat?

Apa harus menjadi seseorang dulu baru bisa mengekspresikan diri dengan bebas?

Saat yang dibagi tokoh publik adalah tubuh-tubuh langsing, perut rata tanpa lemak, sontak seluruh umat memberikan tagar #bodygoals. Sekarang ketika ada tokoh publik membagikan foto dirinya dengan tubuh yang curvy semua juga berbondong-bondong menyebut #bodygoals. Kok mental kita followers banget?

Semangat menularkan citra tubuh positif, bagaimanapun bentuk tubuhmu, adalah sesuatu yang baik, dan tentunya ini patut didukung. Tapi mbok ya dengan kesadaran dari diri sendirilah, jangan sekadar ikut-ikutan. Apalagi kalau harus menunggu tokoh publik memproklamasikan sesuatu baru kemudian sama-sama dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Lantas, bagaimana kalau tokoh publik itu mengubah pendiriannya, apakah pilihan kamu juga berubah? Apakah pandangan kamu berubah? Peran influencer memang sangat baik untuk mengabarkan kebaikan. Tapi yang paling lebih baik lagi adalah mengedukasi diri sendiri.

Tidak ada yang bisa mengambil ideologimu kalau itu sudah ditanamkan ke dasar hati. Jangan sampai pandanganmu seperti air di daun talas yang berubah-ubah seiring guncangan yang dibuat media sosial.

Ester Pandiangan, penulis tetap aplikasi kesehatan yang baru menerbitkan buku secara indie berjudul “Akibat Menabukan Seks.” Penulis lepas sana sini, penghuni tetap Jakarta dan masih selalu rindu Yogyakarta.