July 06, 2017
Curhat

Mengapa cinta seperti labirin yang nihil jalan keluar bagimu?

by Asmayani Kusrini
Culture
Share:
“Kami sudah berpisah.”  Air mata mengalir dari matamu yang sejak tadi berwarna merah muda. Setelah itu kamu terdiam.

Lama.

Kamu sudah berpisah darinya entah untuk yang ke sekian kalinya.

Jarak antara kamu dan aku hanya terpisah sebuah meja segi empat. Kopi yang kita pesan sudah lama dingin. Aku sesungguhnya sudah lapar karena tidak sempat makan siang. Wangi bawang putih dan bumbu-bumbu yang tergenang minyak panas tersebar di ruangan kafe sekaligus restoran tempat kami memilih untuk berbincang. Di luar sana, orang-orang bergegas. Rintik hujan terlalu padat. Usaha orang-orang di jalanan untuk menghindari titik-titik air yang jatuh berirama terbukti sia-sia.

Aku menunggu.



“Dia sudah seperti ayah bagi Biru. Kami sudah bersama sejak Biru masih berumur enam bulan.”

Kamu selalu mengatakan hal yang sama setiap kali kalian putus.

Kembali kamu menangis. Aku tahu, tak  ada kata yang akan bisa membendung air matamu. Gaun hitam dari butik Armani yang kamu beli di Paris itu tampak kumal bersanding dengan wajahmu yang belepotan makeup bercampur air mata. Tapi kamu tetap cantik. Dan statusmu sebagai manajer keuangan sebuah bank berskala internasional membuatmu terlihat makin menawan. Sayangnya, Cupid, sang dewa cinta itu pasti sedang mabuk anggur ketika menembakkan panahnya. Keanggunanmu terjengkang ketika kamu menangis seperti anak kecil kehilangan mainan.

Aku diam. Kembali menunggu.

Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam kafe dengan tergesa. Dentuman suara pintu yang didorong dengan kuat membuat semua mata menoleh. Tapi kamu sedang berada jauh dari kafe itu. Tatapanmu menerawang jauh melintasi jalanan basah di luar sana. Jauh melampaui gedung-gedung tinggi yang menghalangi pandangan mata kita dari taman kota di baliknya. Kamu sedang berkelana menyusuri dunia semu yang kamu bangun sendiri demi untuk mengunjunginya lagi. Dia yang membuatmu sering menangis.

“Tapi aku tidak tahan lagi. Tidak ada jalan lain kecuali berpisah”.

Itu juga yang kamu katakan tiga tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu. Setahun yang lalu. Enam bulan yang lalu. Dua bulan yang lalu.

Kamu tiba-tiba kembali berada di depanku setelah sibuk menerawang ke luar sana. Suaramu tersendat. Sambil tersedu, tanganmu yang gemetar menyambar cangkir kopi yang sudah dingin itu. Tapi cangkir kopi yang hampir mampir di bibirmu hanya tertahan di situ. Kopi dingin yang bergejolak mengikuti irama tanganmu yang gemetar terpaksa harus sabar menunggu untuk sampai ke kerongkonganmu. Kamu membuat cangkir itu seperti perisai yang melindungi sebagian wajahmu yang sembab.

“Kalau itu yang terbaik unt…”

Aku selalu ingin mengatakan hal yang sama setiap kali kamu datang menangis di depanku.

 “Aku tidak tahu apakah ini yang terbaik !” katamu memotong kalimatku yang belum selesai.

Kamu kembalikan cangkir kopi itu ke tempatnya semula. Tanganmu mengelus pinggirannya dengan gelisah.

Aku memandangi jari-jarimu yang sedang sibuk berputar-putar di bibir cangkir. Sebuah cincin berlian mungil menghiasi jari manismu yang lentik dengan kuku-kuku yang dihias seperti porselen cina. Kamu yang selalu memberiku nasihat untuk selalu berhati-hati memilih pasangan.

“Dia selalu mengingkari kehadiran Biru. Dia sepertinya malu memperkenalkan Biru kepada teman-temannya.” Air matamu kembali tak terbendung. Pipimu makin sembab.

“Aku tidak bisa bersamanya kalau dia terus terusan mengingkari Biru.”

Dia jatuh cinta padamu. Sejak awal kamu tahu, Biru tidak pernah masuk dalam kalkulasinya. Tapi kamu masih bertahan dengan harapan suatu hari nanti dia akan menganggap Biru sebagai anaknya sendiri. Tapi berapa banyak lagi air matamu yang akan tumpah untuk memupuk harapan itu?

“Tapi aku mencintainya,” kamu terisak-isak. Orang-orang yang duduk tak jauh dari meja kami melongok ingin tahu. Aku menghindari tatapan ingin tahu mereka dengan mengaduk-aduk kopi yang tampak basi.

Kamu selalu mencintai semua pacar-pacarmu. Kamu juga mencintai ayah Biru. Tapi bagimu, ayah Biru tidak pernah mampu memenuhi standarmu tentang cinta yang ideal. 

Cinta.

Mengapa cinta seperti labirin yang nihil jalan keluar bagimu?

“Aku pikir, kami akan menikmati liburan bersama. Hanya kami bertiga, aku, dia dan Biru. Tapi sejak hari pertama, kami terus-terusan bertengkar. Kami tidak bisa tinggal bersama dalam satu atap tanpa bertengkar.”

Kalian selalu bertengkar. Sudah puluhan kali kamu mengatakan itu sejak kalian bersama tiga tahun lalu.

Isakanmu mereda. Kembali kamu memandang ke luar sana. Mengamati tukang sampah yang memunguti sampah-sampah yang dibuang sembarangan.  Hari sudah menjelang pukul enam sore. Aku ada janji makan malam dengan seorang lelaki yang aku temui di diskotek kemarin malam. Namanya Tomas. Ia seorang pilot. Dua bulan lalu, aku gagal kencan dengan seorang seniman yang baru saja merayakan pameran solo di Galeri tempatku bekerja. Dua bulan lalu, kamu menangis semalaman karena baru saja putus dengan lelaki yang sama yang kamu putuskan hari ini.  Waktu itu aku tak tega meninggalkanmu sendiri. Aku takut kamu bunuh diri.

Beberapa bulan sebelumnya, aku gagal kencan dengan seorang komisaris sebuah bank juga karena kamu baru saja putus dengan lelaki yang sama. Oh ya...aku juga gagal kencan dengan seorang dokter muda yang bekerja untuk WHO tahun lalu, juga karena kamu baru saja putus, lagi-lagi dengan laki-laki yang sama yang kamu putuskan hari ini. Untungnya, aku segera mendapat kencan dengan mantan petinju yang ganti haluan jadi model pakaian dalam. Tapi gara-gara kamu, aku belum pernah kencan dengan seorang dokter.
Suaramu yang serak tiba-tiba memutuskan daftar panjang kegagalanku kencan dengan beberapa lelaki potensial.

“Sudah lama aku ingin melepasnya. Aku tahu, hubungan kami tidak akan pernah berhasil. Terlalu banyak perbedaan yang tidak terjembatani. Tapi setiap kali kami bertengkar, dia selalu datang lagi, dan lagi, dan lagi. Aku kembali mencintainya, lagi, dan lagi, dan lagi.”

Kali ini, kamu seperti berkata kepada dirimu sendiri. Tanganmu memutar-mutar cincin berlian mungil di jari manismu.

Rasanya, malam ini aku akan gagal berkencan dengan seorang pilot.

Asmayani Kusrini adalah wartawan lepas yang bermukim di Brussels dan koresponden sebuah media di Jakarta. Ia bekerja penuh waktu sebagai ibu dan menjadi seksi sibuk di beberapa organisasi budaya. Bisa disapa di Instagram  @travellinckx.