February 1, 2023
Gender & Sexuality

Curhat Seorang Ibu dengan HIV: Kekuatan Terbesar dari Anak-anakku

Setelah ditinggalkan suami, aku harus tetap kuat demi anak-anakku. Solidaritas dan komunitas menguatkanku.

Avatar
  • January 15, 2023
  • 5 min read
  • 474 Views
Curhat Seorang Ibu dengan HIV: Kekuatan Terbesar dari Anak-anakku

Rumah sakit sudah jadi rumah kedua kami. Waktu itu, kesehatan suamiku semakin menurun dari waktu ke waktu. Sudah entah berapa kali suamiku masuk ruangan ICU. Sampai suatu waktu dokter minta dia untuk tes HIV, dan hasilnya positif.

Tak pernah terlintas di benakku dia bisa terjangkit HIV. Dua hari kemudian, pihak rumah sakit mengharuskanku turut mengecek darah. Hasilnya, menunjukkan kalau diriku juga positif HIV.

Rasa tidak percaya langsung menyergap. Sedih? Iya! Kecewa? Pasti.

Tapi, jujur aku tak tahu harus marah dan berontak pada siapa. Saya blank dan kacau… Entah kata-kata apa yang pantas untuk menggambarkan suasana hati dan pikiran saya kala itu. Namun, saat itu aku tidak punya waktu untuk bersedih, down, dan terpuruk. Pikiran saya tertuju pada suami. Saya perlu biaya dan perawatan.

Ternyata pil pahit kehidupan masih harus tetap kutelan. Di tengah kondisi fisik, mental, dan finansial yang tidak baik, tepatnya 12 maret 2019, suamiku meninggal.

Belum tuntas dukaku, saat itu aku juga mendapatkan diskriminasi dari keluarga suami. Satu-satunya yang jadi kekuatan terbesar dalam diriku untuk tetap bertahan adalah anak-anakku—dua malaikat manis yang selalu menatapku dengan penuh cinta.

“Aku tidak boleh terpuruk, aku harus bangkit dan tetap kuat”, aku mendoktrin diri sendiri dalam hati.

Aku lalu mempelajari lebih banyak tentang HIV dan AIDS dari dunia maya dan komunitas. Ternyata HIV tidak semenakutkan dan semenyeramkam seperti yang kupikirkan, dan kata orang-orang.

Virus HIV dapat dikendalikan dengan patuh minum ARV, menjaga pola hidup sehat dan seks aman. Jika viral load (VL) atau jumlah virus dalam darah sudah tidak terdeteksi, dan CD4 sudah di atas 250, maka risiko untuk menularkan HIV kepada orang lain sangatlah kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.

Orang yang hidup dengan HIV (Odhiv) bisa melakukan kegiatan apa pun dan berprestasi, asalkan tetap sehat. Bahkan Odhiv bisa mendapatkan pekerjaan layak. Beberapa orang bahkan jadi role model bagi teman-teman komunitas, dan membantu mereka memupuk kepercayaan diri kembali dan bisa bertahan hidup.

Berjejaring dan Solidaritas yang Menguatkan

Kini, masa-masa terberat dalam hidupku sudah dapat dilalui satu per satu. Pada 1 Januari 2020, saya bekerja sebagai pendamping sebaya untuk teman-teman Odhiv di Yayasan Batang Mas, Manado. Di situ saya dibekali dengan lebih banyak pengetahuan dan bahkan mengikuti pelatihan yang terkait dengan HIV. Bukan cuma menambah pengetahuan, tapi aku juga diajarkan untuk membongkar stigma dan stereotip yang ditanamkan pada Odhiv dan Odha.

Itu semua kujadikan bekal dalam mendampingi teman-teman lain di komunitas. Proses ini pula yang membantuku bisa menerima dan berdamai dengan diri sendiri.

Satu hal yang kupelajari dalam tugas sebagai pendamping, yaitu kita tidak sendiri, kita akan saling mendukung, saling berbagi pengalaman, dan yang utama akan terjalin ikatan emosional antara pendamping dan dampingan dalam hal kepercayaan.

Mereka dengan sendirinya akan membagi kisah dan pengalaman hidup mereka tanpa kita minta sekalipun. Terutama dari keluarga dampingan, dalam hal ini kita bisa memberikan sosialisasi dan edukasi terkait dengan HIV.

Aku belajar pemulihan paling cepat adalah dengan adanya penerimaan dan dukungan dari keluarga terdekat. Pengetahuan bisa mengikis sika-sikap diskriminatif mereka. Kurangnya pemahaman tentang HIV dan AIDS bikin mereka takut dan tak tahu harus bersikap bagaimana jika punya keluarga yang terinfeksi HIV.

Aku melihat sendiri, bagaimana keluarga bisa jadi kelompok pendukung utama yang bisa membantu Odhiv bangkit dan punya hidup layak.

Pada 2021, kami mendirikan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dengan nama One Heart One Spirit. Kami terdiri dari berbagai gender, ada WARIA (Transgender),LSL (Penyuka sesama pria),PSP (Perempuan pekerja seks), pasangan suami-istri dan anak-anak. Di situ kami sering berbagi tentang cara pengobatan, cara penerimaan status, cara melakukan seks aman, dan saling dukung soal masalah yang dihadapi dari semua anggota KDS. Serta memberikan edukasi kepada orang tua dan wali Adha(Anak dengan HIV atau AIDS) tentang bangaimana mendampingi mereka.

Tahun 2022 saya mendapatkan kepercayaan yang luar biasa dari teman-teman Ikatan Perempuan Positif Indonesia(IPPI) sebagai Koorprof IPPI SULUT. Di sini saya dibekali pengetahuan tentang Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Kekerasan yang terjadi kepada perempuan-perempuan yang positif HIV. Faktanya sudah sejak lama hampir semua perempuan dengan HIV positif mendapatkan kekerasan, entah itu dari pasangan, keluarga, lingkungan sekitar, dalam lingkungan pekerjaan bahkan dari layanan tempat mereka mengakses ARV. Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kepercayaan untuk mendengarkan kisah dan cerita mereka karena tidak mudah bagi seseorang untuk berani bercerita soal masalah kehidupan mereka kepada orang lain.

Aku yang sering dijadikan tempat curhat, sering dapat celetukan seperti, “Makasih ya, Kak, sudah mau mendengar ceritaku,” atau “Makasih ya, sudah mau jadi tempat kami bercerita.”

Terkadang, yang mereka butuhkan memang cuma perasaan tidak sendiri. Bahwa, ada orang lain yang bisa dijadikan sahabat, tempat bersandar, berbagi keluh kesah, tanpa menghakimi.

Pada akhirnya, aku sangat bersyukur dengan status HIV yang kumiliki. Aku jadi manusia yang berbeda. Aku belajar jadi manusia yang penuh welas asih, dan itu menyenangkan. Aku juga belajar dari teman-teman di komunitas untuk bisa meliaht sekitar kita, karena alasan untuk bertahan biasanya memang lebih sulit dilihat, tapi bukan berarti mereka tidak ada. Kadang, semangat itu datang dari yang paling dekat, seperti dua malakait kecilku yang jadi sumber tenaga.

Link donasi: Cegah HIV Ibu Anak

Ini adalah artikel ketujuh dari series tulisan pelatihan jurnalis komunitas IAC di Bali, Oktober 2022. Baca artikel lainnya yang terbit setiap Rabu di Magdalene.co.

  1. Orang dengan HIV/ AIDS juga Bisa Berdaya
  2. Surat untuk Mendiang Puput: ‘Matahari di Sana Lebih Cerah, Nak!’
  3. Perempuan HIV di Tengah Bencana
  4. KTP untuk Transgender Sejak Kapan?
  5. Putus Nyambung ARV: Separuh Badan Lumpuh tapi Saya Harus Tetap Tumbuh
  6. Saya Positif HIV, Menikah, Punya Anak, dan Hidup Bahagia
  7. Saya Dianggap Kuman, Dilarang Temui Anak’: Kisah ODHA yang Alami Stigma
  8. Kisah Caca, Pekerja Seks Tuli yang Berperang Lawan HIV di Tubuhnya

Editor:  Yudith Sahureka
Avatar
About Author

Yudith Sahureka

Yudith Sahureka adalah pendamping sebaya dan Koorprof IPPI Sulawesi Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *