February 8, 2023
Community Instatree Lifestyle

Dicarikan Jodoh oleh Para Tante, Saya Memilih Tertawa dan Berterima Kasih Saja

Berdamai dengan pertanyaan, “Kapan kawin?” mungkin bukan hal mudah. Tapi, menghadapi para tante—yang sepertinya peduli sekali—aku memilih berterima kasih.

Avatar
  • December 16, 2022
  • 6 min read
  • 155 Views
Dicarikan Jodoh oleh Para Tante, Saya Memilih Tertawa dan Berterima Kasih Saja

Beberapa minggu lalu, saat tengah melahap sarapan sebelum berangkat kerja, seorang tante saya menelpon. Hal ini terhitung spesial mengingat komunikasi kami selama ini hanya berlangsung di WaG keluarga besar. Chat secara personal pun terbilang amat jarang. Hal ini langsung terdeteksi oleh otak saya sebagai “kondisi istimewa” yang bisa jadi diikuti dengan tujuan tertentu. Mode waspada saya pun langsung menyala, tapi bukan dalam artian yang buruk.

Setelah berbasa-basi soal rencana acara kumpul keluarga besar pada Paskah tahun depan, segeralah Tante saya ini masuk ke tujuannya menelepon sepagi itu. Rupanya, ia merencanakan sebuah perjodohan untuk saya. Saya langsung terbahak saat kalimat itu ia utarakan karena memang Tante saya yang satu ini terkenal pandai mengutarakan banyak hal dengan cara yang jenaka. Selain tentu saja inisiatif ini secara esensial amatlah menggelitik nalar saya sebagai generasi yang lebih muda.

Sampai telepon ditutup, respons saya memang kebanyakan tertawa. Apalagi Tante saya ini tak sungkan menjabarkan serangkaian bukti kredibilitasnya sebagai mak comblang di masa lalu. Walau memang terasa sekali kejenakaannya, Tante saya sangat dominan menguasai obrolan kami. Nyaris tak ada ruang bagi saya untuk menyela, apalagi mengatakan bahwa inisiatif ini amatlah sia-sia.

Pasalnya ini bukan kali pertama para tante dari pihak keluarga Mama saya berinisiatif menjodoh-jodohkan saya dengan beberapa lelaki yang mereka rasa cocok. Masalahnya ukuran cocok atau tidaknya ini hanya sebatas perkiraan mereka dari pembacaan zodiak dan pengalaman interaksi kami yang sebenarnya semakin tidak intim seiring saya tumbuh dewasa.

Di kepala mereka, karakter dan tabiat keponakan perempuannya ini masih sama dengan karakternya belasan tahun lalu saat masih remaja. Padahal, saya sudah mengalami dinamika yang cukup panjang. Saya sudah terpapar dengan pengetahuan yang jauh, jauh lebih kaya. Serta menjalani serangkaian pengalaman yang membuat saya yang hari ini begitu amat berbeda dengan saya saat remaja dulu. Hal ini tentunya berpengaruh pada cara saya memandang dunia, termasuk preferensi pasangan. Suatu hal yang rupanya tidak masuk dalam daftar persiapan para tante ini sebelum lanjut pada aksi perjodohan penuh semangat itu.

Semakin dewasa, saya semakin tidak terlalu memandang negatif usaha mengenalkan anak atau keponakan yang sudah cukup umur pada individu tertentu dengan harapan mereka mungkin bisa berpasangan kelak. Hanya saja saya masih tidak habis pikir kenapa inisiatif ini tidak dibarengi dengan dialog yang intensif. Minimal sekedar bertanya tipe lelaki macam apa yang saya sukai dan saya hindari.

Secara sederhana saya bisa dengan mudahnya menyimpulkan bahwa memang begitulah pola komunikasi orang tua zaman dulu yang amat hierarkis. Merasa tidak perlu mengkonfirmasi rencana dan tindakan mereka terhadap anak atau kemenakannya karena dirasa itulah yang terbaik. Tapi pagi itu, usai perbincangan kami berakhir, saya tak bisa lagi merasa kesal pada inisiatif berlebih para tante ini sebagai mana saat saya mengalaminya di usia yang lebih muda.

Tindakan tante saya bukan tanpa alasan. Ada serangkaian pengalaman hidup yang membentuk pola pikir tertentu hingga terwujud dalam tindakan-tindakannya hari ini. Termasuk upaya perjodohan itu. Topik pasangan hidup atau kehidupan berkeluarga memang bukan perkara remeh buat mereka. Ada tante saya yang harus menikah di usia yang sangat muda, ada yang menikah di usia yang dalam ukuran zamannya dianggap “ketuaan”.

Ada pula yang menikah di usia yang cukup, punya pasangan yang amat suportif dalam meraih karier gemilang, tapi merasa tidak menjadi perempuan yang lengkap karena  tidak punya anak biologis. Ada yang puluhan tahun terjebak dalam relasi pernikahan problematik, yang membuatnya harus bekerja keras berkali-kali lipat demi anak-anaknya.

Ketakutan akan label “perempuan tidak sempurna” atau “perempuan bernasib nahas” rekaan patriarki membayang-bayangi mereka selama puluhan tahun. Dan tanpa sadar meninggalkan luka yang bisa jadi tidak mereka sadari. Luka yang membuat mereka diliputi ketakutan akan ada pengulangan di masa mendatang, menimpa anak atau keponakan perempuan mereka.

Tapi sekali lagi, sayangnya ketakutan itu tidak coba mereka konfirmasikan pada anak atau keponakannya. Saya menyadari kondisi mereka yang terperangkap dalam luka yang tidak mereka ingin miliki. Hingga lupa bahwa individu yang hendak mereka intervensi hidupnya ini adalah manusia yang punya alam pikiran sendiri, hidup di zaman yang berbeda, dengan tantangan yang tidak lagi sama persis dengan yang mereka alami dahulu.

Saat saya berbagi cerita ini dengan beberapa kawan, mereka justru mengalami pengalaman serupa dari orang tua langsung. Khususnya bagaimana relasi anak perempuan dan ibu jadi sedemikian rumit, apalagi jika menyangkut pilihan pasangan. Tanpa mengerdilkan pengalaman dan perasaan saya sendiri, saya menyadari kesulitan yang mereka alami sangat membuat tidak nyaman. Apalagi mereka masih tinggal serumah dengan orang tua yang begitu tak sabaran melihat anaknya berumah tangga.

Mama saya sudah berpulang sebelum saya genap berusia 16 tahun. Kami belum sempat membicarakan secara serius perihal pasangan hidup, walau sempat di awal-awal masa puber saya, Mama membahasnya sepintas lalu. Melihat saya tumbuh dewasa tanpa sosok ibu, membuat tante-tante saya merasa perlu menggantikan peran itu, khususnya dalam isu yang sangat menjadi perhatian mereka: pasangan. Inilah yang saya sebut inisiatif berlebih. Dorongan oleh rasa takut dan peduli yang sayangnya tidak coba mereka konfirmasikan. Apakah saya pun punya ketakutan yang sama dengan mereka atau tidak.

Pernah sekali waktu, saat momen pernikahan salah seorang sepupu, salah satu tante merasa itu saat yang tepat untuk memotivasi saya mengejar “ketertinggalan.” Masih di dalam gereja lokasi pemberkatan nikah berlangsung, tante saya berujar bahwa sebagai penganut Katolik, kami hanya punya dua pilihan: menikah atau hidup membiara. Saya tak mungkin terbahak di dalam gereja, jadilah respons atas nasihat itu sebatas, “Ok, siap, hehehe.”

Sedih rasanya mengetahui prinsip hidup seperti itu masih ada dan tampak langgeng-langgeng saja. Padahal dunia ini begitu luas, ada banyak pilihan hidup yang menyenangkan selain berumah tangga atau hidup membiara.

Keluarga inti saya (Bapak dan para kakak) beberapa tahun belakangan sudah tidak pernah membahas secara khusus soal pilihan pasangan saya, apabila tidak saya yang memulainya terlebih dahulu. Bahkan kakak perempuan saya satu-satunya menolak saat diajak berkonsolidasi oleh satu dua tante untuk mensukseskan rencana mereka mencarikan saya jodoh. Ia memahami bahwa itu ranah privat adiknya yang tidak berhak ia urusi. Sebagai orang dekat, tentu kakak saya bisa melihat sendiri betapa saya mampu meraih hidup yang cukup berkualitas dengan berstatus perempuan lajang.

Pada akhirnya, seperti yang selalu kakak saya sarankan, hadapi semua “luapan cinta” para tante ini dengan tawa. Ya, tawa, tak cukup sekadar senyuman manis penenang hati. Semakin tua pun saya semakin mensyukuri kematangan emosi yang saya capai, walau belum dalam bentuk yang sempurna.

Setidaknya saya tak lagi merasa ada api yang membakar dada saat urusan pasangan ini selalu dibahas dengan nada menuntut dari para tante. Perasaan yang timbul beberapa tahun lalu saat saya masih 20-an tahun. Kini, saat sudah masuk kepala tiga, saya hanya merasa tergelitik. Lalu sesekali mengenang memori-memori masa kecil, di mana momen-momen kebersamaan saya bersama para tante ini amat berharga.

Atas kenangan dan nilai-nilai yang banyak mereka bagi pada saya di masa kanak-kanak, saya amat berterima kasih. Atas inisiatif berlebih yang mereka salurkan saat saya sudah dewasa, saya tetap berterima kasih.


Avatar
About Author

Margareth Ratih Fernandez

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *