April, 23 2019
LPM Rhetor Akan Gelar Diskusi Publik Bertema Intoleransi

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta menggelar diskusi publik dengan tema “Intoleransi Merajalela, Media dan Negara Ke Mana?”

by Magdalene
Community
Share:

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Rhetor, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta akan menggelar diskusi publik dengan tema “Intoleransi Merajalela, Media dan Negara Ke Mana?” di Ruang Teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga pada 29 April 2019.

Tema tersebut diangkat dalam rangka merespon banyaknya kasus intoleransi yang tiada habisnya. Kendati Indonesia merupakan negara yang ber-semboyan Bhineka Tunggal Ika, pada kenyataannya masyarakat negeri ini masih canggung berada di tengah-tengah perbedaan.

Bicara perbedaan, LPM Rhetor mempersempit irisan kelompok sosial ke dalam tiga jenis, yakni ras dan etnis, agama, dan terakhir gender. Dalam banyak data, ketiga irisan kelompok sosial tersebut paling rentan terpapar tindakan intoleran.

Berdasarkan laporan Setara Institute pada 2017, terdapat 155 pelanggaran kebebasan beragama. Sedangkan pada tahun selanjutnya, hingga Juni 2018 saja sudah terjadi 109 kasus pelanggaran kebebasan beragama. Selain itu, laporan tahunan Social Index Progress memperlihatkan bahwa skor toleransi beragama di Indonesia berada paling rendah, yakni 2,0.

Pada basis ras dan etnis, Komnas HAM beserta Litbang Kompas melakukan survei berjudul “Survei Penilaian Masyarakat Terhadap Upaya Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis di 34 Provinsi”. Dalam survei tersebut ditemukan bahwa sebanyak 82,7 persen responden mengatakan bahwa mereka lebih nyaman hidup dalam lingkungan ras yang sama. Sementara sebanyak 83,1 persen mengatakan lebih nyaman hidup dengan kelompok etnis yang sama.

Pada basis gender, hasil survei Women's Health and Life Experiences pada 2016 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan Indonesia, yang berusia 15-64 tahun, mengaku pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual.

Selain perempuan, LGBT+ menjadi kelompok yang paling rentan. Kementerian Ketenagakerjaan melaporkan, praktik diskriminasi gender di lingkungan kerja berada di angka 30 persen, dan pekerja dari kalangan LGBT+ menjadi kelompok paling rentan. Selain itu juga marak sekali peraturan daerah (perda) mengenai larangan keberadaan kelompok LGBT+.

Data di atas belum termasuk banyaknya kasus pelecehan, kekerasan, pengucilan, perampasan hak ekonomi politik, hingga praktik subordinasi yang seringkali menjadi laporan berita di berbagai media, salah satunya LPM Rhetor.

Dalam rangka memperdalam wawasan dan pembacaan, LPM Rhetor juga menggelar tiga rangkaian Forum Group Discussion (FGD) dalam waktu yang berbeda-beda. Yakni, FGD Pembacaan Intoleransi Ras dan Etnis yang telah digelar pada 13 April 2019 lalu, kemudian disusul dengan FGD Pembacaan Intoleransi Agama pada 20 April 2019, dan diakhiri dengan FGD Pembacaan Intoleransi Gender pada 27 April 2019. Ketiganya bertempat di Rescop Coffee, Jl. Nologaten, Yogyakarta. LPM Rhetor juga menghadirkan 10 panelis dari berbagai kalangan di setiap FGD.

MAGDALENE is an online publication that offers fresh perspectives beyond the typical gender and cultural confines. We channel the voices of feminists, pluralists and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual preferences. We aim to engage, not alienate.