Women Lead
November 04, 2021

Mencicipi Manisnya Perpisahan dalam Drakor ‘Yumi’s Cells’

‘Yumi’s Cells’ menawarkan begitu banyak momen yang sangat relevan. Berkali-kali saya dibuat berbunga-bunga atau deg-degan saat melihat kedua tokoh utama berinteraksi.

by Candra Aditya
Culture // Korean Wave
Alasan Drakor Yumi’s Cells Jadi Drakor Romantis Layak Tonton
Share:

(Artikel ini mengandung spoiler)

Akhir pekan ini adalah akhir pekan yang agak aneh bagi saya karena dalam tiga hari, saya menghabiskan dua drama Korea (drakor) dari awal sampai habis. Dimulai dengan Backstreet Rookie (yang juga saya rekomendasikan kalau Anda suka tontonan gemas riang gembira), saya akhirnya memutuskan untuk menonton Yumi’s Cells, sebuah drama Korea terbaru yang dimainkan oleh Kim Go-Eun dan Ahn Bo-Hyun.

Salah satu daya tarik terbesar dari drakor (menurut saya) adalah bagaimana ia hampir tidak pernah gagal menawarkan fantasi yang sangat menyenangkan. Saya yakin saya tidak sendirian. Ini sebabnya kita menonton Itaewon Class karena balas dendam rasanya menyenangkan. Ini sebabnya kita menonton Vincenzo karena menjadi pahlawan dalam balutan jas tapi tak pernah lupa soal asmara adalah hal yang tidak akan pernah kita alami dalam dunia nyata.

Backstreet Rookie, drakor yang saya tonton pada Jumat sore dan berakhir sampai Sabtu siang (total 16 episode dan ya, saya tidak tidur semalaman) masuk kriteria ini. Ia menawarkan fantasi yang sangat melenakan. Cowok ganteng dengan cewek cantik jatuh cinta sambil mengelola convenient store. Dengan visual warna-warni dan pemain yang cantik ganteng, Backstreet Rookie menawarkan escapism yang amat sangat. Dan seperti gula-gula kapas, setelah selesai menonton saya ketagihan. 

Kemudian, saya menemukan Yumi’s Cells. Ternyata drama yang satu ini menawarkan sesuatu yang lain.

Yumi’s Cells ternyata bukan menyuguhkan fantasi seperti drama-drama Korea yang biasanya saya tonton. Bungkusnya memang masih sama. Visualnya adalah visual yang hanya bisa dihasilkan oleh bujet produksi yang baik. Kamera, art, make-up, wardrobe sampai color grading, semuanya dipersembahkan dengan mumpuni. Yumi’s Cells pun masih dimainkan oleh bintang Korea yang cantik dan ganteng. Namun, di balik bungkusnya yang masih glossy, Yumi’s Cells ternyata menyimpan sebuah kejujuran yang saking nyatanya, kadang terasa begitu menyakitkan.

Baca juga: 5 Rekomendasi Drama Korea Fantasi Terbaik

Dipersembahkan dengan campuran animasi, Yumi’s Cells adalah adaptasi webtoon yang mega terkenal. Inti ceritanya sangat sederhana: Yumi (Kim Go-Eun) adalah seorang pegawai kantoran yang naksir teman kantornya. Ketika si teman kantornya tersebut malah menjodohkannya dengan cowok bernama Woong (Ahn Bo-Hyun), Yumi pada awalnya kecewa. Namun, kekecewaan ini berubah dengan cepat menjadi crush dan akhirnya mereka jadian. Meski begitu, tentu saja maintaining relationship tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tidak ada yang extravaganza yang terjadi dalam Yumi’s Cells. Tidak ada plot yang larger than life seperti kebanyakan drama Korea. Tidak ada plot balas dendam, berusaha mencapai goal seperti lolos dalam kompetisi, reinkarnasi, malaikat ganteng yang tiba-tiba muncul, atau bahkan time travel. Di atas kertas, ini hanyalah kisah tentang cewek naksir cowok, mereka jadian, dan sesuatu terjadi ketika faktor X mengganggu hubungan mereka. Yang membuat Yumi’s Cells sangat menarik adalah kita diajak masuk ke dalam kepala Yumi (dan juga Woong) dan melihat sel-sel mereka bekerja ketika mereka dihadapkan pada suatu situasi.

Percayalah, acara balas-tidak membalas pesan saja bisa menjadi drama terbaik yang pernah saya tonton tahun ini hanya karena saya diajak turut serta melihat bagaimana sel-sel di kepala Yumi mengambil keputusan. Di samping itu, animasinya yang sangat top notch. Dengan adanya pengisi suara yang juga menggemaskan, ini sangat membantu untuk membuat pengalaman menonton Yumi’s Cells menjadi tidak tergantikan.

Lebih dari sekali saya harus menekan tombol pause untuk membiarkan saya bereaksi karena Yumi’s Cells menawarkan begitu banyak momen yang sangat relatable, sehingga saya tidak tahu harus berteriak atau berlari mengitari kamar saya. Lebih dari sekali saya juga merasa bingung dengan apa yang saya rasakan karena Yumi’s Cells begitu sangat well-written sehingga saya merasa frustrasi dengan kedua karakternya ketika mereka dihadapkan dengan konflik.

Kim Go-Eun dan Ahn Bo-Hyun menurut saya sangat bagus dalam memainkan peran mereka. Chemistry mereka sangat bagus sehingga ketika mereka bersama, saya ikutan berbunga-bunga, dan ketika mereka sedang berantem, saya ikutan deg-degan. 

Karena konsep drama ini utamanya tentang apa yang ada di kepala karakternya, banyak sekali adegan yang menantang aktornya untuk menunjukkan akting mereka tanpa dialog. Nyawa Yumi’s Cells ada di adegan-adegan tersebut. Ahn Bo-Hyun dan terutama Kim Go-Eun sangat berhasil menerjemahkan isi kepala mereka hanya dengan micro-expression mereka. Mata mereka sangat berbicara. Hal sekecil senyum tipis atau kedipan mata punya makna tersendiri dalam Yumi’s Cells.

Jujur, sebagai seorang cowok, lebih dari sekali saya merasa tidak berdaya (kalau mau menghindari kata muak) ketika melihat Yumi dan reaksi-reaksi yang dia lakukan terhadap sebuah masalah. Ingin sekali saya berteriak, “Mbok ya diomongin kalo emang sebel daripada pundung begitu”. Namun, pada saat bersamaan, saya juga paham sekali kalau penonton perempuan melihat kelakuan Woong, mereka akan melakukan hal yang sama. 

Baca juga: 12 Drakor Terbaik dengan Rating Tinggi yang Wajib Ditonton

Rasa frustrasi yang awalnya saya rasakan terhadap Yumi lama kelamaan menjadi kagum karena ternyata saya sadar bahwa saya salah persepsi. Yumi’s Cells bukanlah romantic comedy di mana aktor cantiknya akan berakhir dengan aktor ganteng dan mereka bahagia selama-lamanya. Ini ternyata adalah sebuah potret kehidupan perempuan kantoran biasa dengan kehidupan cintanya. 

Pertama kali Yumi dan Woong berantem dan akhirnya mereka ikut-ikutan Ross dan Rachel untuk break, saya benar-benar terbawa. Apa yang akan terjadi berikutnya? Kalau sampai Yumi enggak jadian dengan Woong, wah bener-bener jahat drakor ini, pikir saya. Namun, kemudian Yumi’s Cells menunjukkan sebuah adegan genius di mana Yumi bertanya siapa cowok yang akan menuntun hidupnya, dan si sel menjawab bahwa untuk tidak ada orang untuk peran tersebut.

Jawabannya jelas. Yang menuntun hidup Yumi ya dia sendiri.

It's such a wonderful scene yang dieksekusi dengan sangat baik.

Break-up memang menyebalkan, tapi entah kenapa ada rasa manis dalam perpisahan Yumi dan Woong. Mereka memang pasangan yang menyenangkan tapi yang terbaik bagi Yumi adalah move on dari sebuah hubungan yang tidak baik. Buat apa settle for less? Buat apa pacaran kalau dia tidak nyaman? Buat apa mempertahankan hubungan kalau cowoknya masih egois?

Yumi’s Cells memang diakhiri dengan perpisahan, tapi ternyata ini hanyalah satu bab dari sekian cerita yang ada dalam hidup Yumi. Di akhir episode, sudah ada konfirmasi bahwa Yumi’s Cells akan kembali tahun depan. Saya tidak sabar untuk melihat bab baru apa yang akan dihadapi oleh Yumi.

Yumi’s Cells dapat disaksikan di Iqiyi.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.