February 8, 2023
Community Culture Instatree Screen Raves

‘First Love’: Cerita Cinta Monyet Klasik dari Lagu Legendaris Utada Hikaru

Lagu legendaris Utada Hikaru, ‘First Love’, dibikin Netflix jadi series. Dua karakter utamanya bisa bikin film ini jadi ‘go-to-series’ kamu yang suka genre roman.

Candra Aditya
  • December 21, 2021
  • 5 min read
  • 232 Views
‘First Love’: Cerita Cinta Monyet Klasik dari Lagu Legendaris Utada Hikaru

Siapa yang tak pernah mendengar lagu First Love dari Utada Hikaru? Kalau kamu lahir sebelum 1999, kamu pasti mendengar lagu ini di mana-mana. Bahkan setelah lewat satu dekade pun, lagu ini tak lekang oleh waktu. Mungkin itu sebabnya Netflix memutuskan untuk membuat 9 episode kisah cinta yang terinspirasi oleh lagu ini.

Tokoh utamanya adalah Yae Noguchi (versi muda diperankan Rikako Yagi, sementara versi dewasa diperankan Hikari Mitsushima) dan Harumichi Namiki (versi muda diperankan Taisei Kido dan versi dewasa diperankan Takeru Satoh). Ketika masih SMA mereka langsung naksir bahkan dari pandangan pertama.

Kamu bisa membayangkan keduanya dengan mudah: Noguchi adalah seorang gadis cantik pemalu yang ditaksir oleh banyak kakak kelas, Namiki adalah bad boy baik hati yang gemar merokok diam-diam di atap sekolah. Keduanya saling mencintai dan berjanji akan selalu mengisi hidup satu sama lain.

Loncat ke beberapa tahun kemudian, baik Noguchi dan Namiki mempunyai hidup yang sangat berbeda. Noguchi sekarang adalah seorang sopir taksi yang hanya bertemu dengan anak semata wayangnya tiap akhir pekan. Sementara Namiki sepertinya sudah lupa dengan cita-citanya menjadi pilot dan bekerja sebagai satpam. Bagaimana dengan janji mereka? Apakah cinta mereka hanya cinta monyet atau sebenarnya lebih dari itu?

Baca juga: Review ‘Triangle of Sadness’: Mengolok-olok Orang Kaya Lewat Humor Östlund

Kisah Cinta Klasik yang Diselamatkan Naskah dan Teknis Penyutradaraan

Kalau diibaratkan makanan, First Love adalah sebuah comfort food yang tidak pernah gagal membuat mood kamu menjadi baik lagi (buat saya mungkin Sop Ayam Pak Miin). Semua hal yang mungkin tidak kamu sukai di tontonan lain bisa jadi daya tarik utama di sini. Konsep “takdir cinta” atau “mereka akan bersatu bagaimana pun nasib membawa mereka pergi” bisa menjadi trope yang sangat melelahkan. Tapi, dalam First Love hal tersebut justru menjadi sesuatu yang bikin drama ini menarik untuk ditonton.

Di tangan yang salah, semua bumbu melodrama yang ada di dalam First Love bisa jadi bumerang. Perpisahan yang tak diinginkan sampai partial memory lost sangat dengan mudah masuk ke teritori telenovela. Namun, dari awal drama ini dimulai, penulis dan sutradara Yuri Kanchiku berhasil meyakinkan penonton bahwa kisah ini bisa saja terjadi. Cara dia menempatkan kamera, style acting yang sangat natural dan editing yang sabar membuat First Love terasa meyakinkan. Twist yang ada disajikan sebagai sebuah informasi, bukan sebuah kejutan. Hasilnya adalah sebuah kisah cinta yang menghangatkan. Semua klise yang ada dalam First Love justru membuat saya merasa nyaman, bukannya muak.

Sumber: Netflix 

Salah satu faktor utama yang membuat First Love langsung menyandera indra saya adalah vibe-nya—atmosfernya.

Entah karena drama ini mengambil latar di Tokyo, yang secara visual sudah memberikan kesan melankoli tanpa usaha apa-apa; Atau mungkin karena musiknya yang lembut mengalun di belakang cocok dengan setiap pengadegan. Tapi yang jelas, begitu judul First Love muncul (lengkap dengan efek film seluloid), drama ini memberikan efek nostalgia yang sangat kuat.

Yuri Kanchiku menggunakan warna yang sangat berbeda untuk masing-masing era, tapi fungsi ini tidak terbatas untuk membedakan masa lalu dan masa sekarang karakter utamanya. Visual First Love lebih dari sekadar gambar. Ia adalah bagian dari cerita drama ini. Penggunaan warna yang berbeda bukan hanya sekadar pembeda zaman tapi juga alat yang sangat kuat untuk membuat penonton merasakan emosi-emosi yang dirasakan karakternya.

Semakin lama saya menatap First Love, semakin dalam rasa peduli saya terhadap kisah cinta dua karakter utamanya. Warna dominan putih di adegan bersalju berhasil memberikan efek yang sangat berbeda ketika Yuri Kanchiku mengajak saya mengelilingi Tokyo di dalam taksi saat malam hari.

Baca juga: Alasan Plot Whodunit ‘White Lotus 2’ Beda dan Gay Twitter Terobsesi Series Ini

Karakter Kuat yang Berhasil Bikin Baper

Selain visualnya yang sangat dreamy, kalau ada satu hal yang paling membuat First Love terasa nyaman adalah karakternya yang tiga dimensional. Baik Noguchi dan Namiki ditulis dengan cukup realitis sehingga sangat mudah bagi saya sebagai penonton untuk memandang mereka sebagai karakter yang bisa saja hadir di sekeliling mereka. Meskipun dagangan utama serial ini adalah “kisah cinta”, tapi First Love lebih dari sekadar itu. Drama ini adalah tentang anak-anak muda dengan mimpinya dan bagaimana orang-orang dewasa menghadapi hidup ketika mimpi mereka tidak berjalan sesuai rencana.

Sumber: Netflix 

Chemistry adalah hal paling krusial dalam menjual drama semacam ini. Untungnya First Love memiliki aktor yang kompeten. Baik Hikari Mitsushima dan Takeru Satoh mungkin tidak mendapatkan kesempatan berakting heboh ala aktor-aktor pemenang Oscar. Tapi chemistry mereka luar biasa kuat. Saya langsung percaya keduanya adalah karakter-karakter yang mereka mainkan, terutama karena micro expression mereka cukup on point. Bahkan tanpa dialog, saya bisa merasakan emosi yang ingin dicapai pembuatnya.

Kalau kamu mencari tontonan sederhana yang membuat kamu merasakan semua hal, saya sangat merekomendasikan First Love. Dengan editing yang sabar, karakter yang menarik dan musik yang mengena, drama ini bisa menjadi comfort food yang akan selalu kamu cari setiap Anda ingin merasakan jatuh cinta lagi.

Di tangan yang tepat, kadang menye bisa menjadi hal terbaik.

Baca juga: Wednesday Addams, Alter Ego yang Mungkin Kita Dambakan

First Love dapat disaksikan di Netflix


Editor:  Candra Aditya
Candra Aditya
About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *