August, 31 2015
Homoseksualitas: Dilema Antara Dokumen dan Argumen

Mengutip ayat-ayat Quran untuk menunjukkan Islam sebagai agama yang ramah LGBT adalah sia-sia dan dapat meremehkan temuan ilmiah.

by Fathul Purnomo
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Eforia love wins menyeruak seantero dunia pasca U.S melegalisasi pernikahan sesama jenis. Paparan kemenangan ini semakin meligitimasi eksistensi kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), menjadikan mereka bukan lagi merupakan bagian dari masyarakat yang teralienasi.

Kemunculan kaum LGBT tentu bukan merupakan sebuah fenomena baru, namun isu yang berkaitan dengan upaya pemberian hak-hak kepada mereka secara konstitusional menjadi bahan perdebatan akhir akhir ini, termasuk menjadi perdebatan di banyak kalangan agamawan.

Di kalangan Muslim, sebagian menerima dan bahkan membuat suatu tafsir radikal atas ajaran Islam mengenai status kaum LGBT, hingga berani mendirikan masjid khusus kaum LGBT seperti di Perancis. Namun tak sedikit pula yang kontra terhadap LGBT.

Akademisi tak kalah seru memperdebatkan legalitas LGBT serta hak-hak mereka. Salah satu argumentasi menarik adalah adanya upaya legalisasi LGBT lewat pencocokan hasil penelitian mengenai sejarah peristiwa di zaman Nabi Luth dengan rekaman dalam Quran.

Dalam agama Islam, rekaman mengenai homoseksualitas tersirat dalam peristiwa pengadzaban kaum Sodom dikarenakan perilaku mereka yang lebih senang bergaul dengan sesama jenis. Hal ini membuat Tuhan murka dan menghukum sebagai ganjaran atas perilaku mereka yang menyimpang.



Dalam telisik sejarah, para akademisi ternyata menemukan bahwa peristiwa penghancuran kaum Sodom tidak murni karena perilaku homoseksulitasnya, namun lebih karena perilaku kekerasan seksual yang mereka lakukan. Kaum Sodom ternyata gemar memperlihatkan kekuasaan mereka terhadap pendatang baru dengan cara menyetubuhinya melalui dubur. Konteksnya memang laki-laki, karena memang saat itu perempuan juga masih belum memiliki posisi yang setara dengan laki laki. Oleh karenanya,  belum ada kasus lesbian yang kemudian terdokumentasikan dalam Quran. Hal ini menjadi dilematis karena keputusan apa yang harus diambil akan status dari lesbian karena dalam Quran tak pernah disebutkan, sedang gay dikecam mati-matian. Maka kasus sodomi merupakan perkara antar lelaki yang  klaim kekuasaan. Showing power by sodomy.

Dengan penjelasan inilah beberapa kalangan menganggap bahwa Tuhan tidak pernah secara tegas menghukum homoseksualitas, namun yang menjadikan Tuhan geram adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh kaum Sodom demi menunjukkan kuasa mereka.

Dalam Quran, ayat yang sering menjadi penjelasan mengenai betapa kejamnya adzab yang diberikan oleh Tuhan kepada kaum sodom terdapat pada Surah Asy Syu’araa ayat 173:
 
الْمُنْذَرِينَۖ مَطَرُ فَسَاءَ مَطَرًا عَلَيْهِمْ وَأَمْطَرْنَا
Dan kami hujani mereka (dengan hujan batu ), maka betapa buruk hujan yang telah menimpa orang orang yang telah diberi peringatan.“

Namun perlu diingat bahwa ayat-ayat sebelumnya, yakni 165-166, ada ayat yang perlu kita kaji lebih dalam:
 
الْعَالَمِينَ مِنَ الذُّكْرَانَنَأَتَأْتُو
“Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseksual).“
 
عَادُونَ قَوْمٌ أَنْتُمْ ۚبَلْ أَزْوَاجِكُمْ مِنْ رَبُّكُمْ لَكُمْ خَلَقَ مَا وَتَذَرُونَ
“Dan kamu tinggalkan  perempuan ) yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? Kamu (memang) orang yang melampaui batas.“

Perhatikan ayat 165 dan 166, ternyata di sana diterangkan bahwa hal yang dibenci oleh Tuhan bukan hanya pada perilaku pelecehan seksual yang dilakukan oleh kaum Sodom, namun juga termasuk perilaku homoseksualitas itu sendiri. Pada ayat 165, kata yang digunakan juga sangat umum yaitu “mendatangi “. Kata mendatangi bisa memiliki banyak arti, namun bagi saya mendatangi tentu tidak kemudian selalu berkonotasi dengan hubungan seksual. Atau bahkan mendatangi digunakan untuk menerangkan hubungan romance antar mereka. Maka spektrum hubungan antar sesama jenis yang dilarang dalam Quran melalui tafsir ini tidak hanya pada relasi seksual juga termasuk relasi romance.

Diceritakan bahwa para lelaki kaum Sodom lebih memilih mendatangi jenis mereka sendiri, dan diterangkan lebih lanjut lagi bahwa mereka sampai lalai terhadap para istri mereka. Ayat pertama menandaskan bahwa perilaku homoseksualitas dilarang, dan ayat kedua meligitimasi heteroseksualitas yang menjadi fitrah manusia.

Dalam ayat lain, yakni Surah al-Ankabut ayat 28, juga disebut mengenai homoseksualitas:
 
الْعَالَمِينَ مِنَ أَحَدٍ مِنْ بِهَا سَبَقَكُمْ مَا الْفَاحِشَةَ لَتَأْتُونَ إِنَّكُمْ لِقَوْمِهِ قَالَ إِذْ وَلُوطًا
 “Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, ‘ kamu benar benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksualitas) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari ummat-ummat sebelum kamu‘.“

Dalam ayat ini, yang menjadi konsentrasi utama adalah perbuatan keji, dan tidak secara eksplisit menyebut homoseksualitas. Perbuatan keji tersebut dianggap sebagai homoseksualitas mendapatkan topangan dari Surah Asy Syu’araa ayat 165, yang ternyata masih tidak jelas apakah Tuhan melarang praktik kekerasan seksual, homoseksualitas ataukah homo-romance.

Maka dalam hal ini, saya mengambil posisi bahwa penjelasan yang menerangkan bahwa praktik kekerasan seksual yang dijadikan basis berpendapat para akademisi sangat tidak arif jika kemudian dicampuradukkan dengan ayat-ayat Quran. Ayat ayat dalam Quran terlalu general menerangkan masalah homoseksualitas. Usaha ini saya rasa hanyalah upaya yang sia sia, dan justru cenderung mengotori hasil penelitian yang berbasis ilmiah dengan ayat-ayat Quran yang memang tidak dibuat dengan metode ilmiah.

Betul memang, pemberian argumentasi akan bencana yang menimpa kaum sodom yang lebih dikarenakan praktik kekerasan seksual yang mereka lakukan merupakan respon terhadap banyaknya penentangan terhadap kaum LGBT dari para penganut agama Islam dengan membawa ayat Quran mengenai kaum Luth.

Dengan membawa sebongkah penelitian akan konteks kaum Sodom saat itu, diharapkan masyarakat mengerti akan perbedaannya dengan LBGT yang ada sekarang. Namun ternyata sebaliknya, mereka tetap resisten terhadap LBGT dan menganggap argumentasi ini justru melecehkan agama mereka.

Hemat saya, memang tidak perlu lagi menjawab teriakan penolakan dari mereka yang berbasis dalil dokumen ayat suci dengan argumen ilmiah dari para akademisi pro-LGBT. Orang yang mempercayai sesuatu tanpa alasan akan selalu susah untuk diyakinkan  dengan alasan pula.
 
Fathul Purnomo adalah tukang tidur dan pemimpi penuh waktu, dan mahasiswa paruh waktu jurusan filsafat di Universitas Indonesia. Ia juga aktif di UI Liberalism and Democracy Study Club (LDSC). Ia bisa dikontak di Twitter lewat akun @purnomousmaw