Women Lead
October 29, 2021

‘Insecure’ hingga Pura-pura Bahagia: Topeng Pamer Kemesraan di Medsos

Meski tidak semua, tapi terlalu banyak memamerkan kemesraan di media sosial bisa jadi tanda kamu enggak benar-benar bahagia.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Issues // Relationship
Share:

Belum ada tiga bulan sejak pengadilan memutus perceraian teman saya dan mantannya. Namun, si mantan mendadak rajin mengunggah foto diri dan pasangan barunya di media sosial. Nyaris tiap hari, foto yang dilengkapi curhatan dan puisi comot sana-sini itu mejeng di akun Facebook dan Instagram.

Isi curhatannya pun seragam: Menegaskan bahwa ia sudah move on dan menunjukkan betapa sialnya kehidupan ia sebagai lelaki di masa lalu--karena berpasangan dengan teman saya. Kehilangan harta benda, karier yang moncer, merasa jadi korban pengkhianatan karena ditinggal saat tengah terpuruk, lalu mengaku sudah lebih bahagia saat ini dengan pacar anyar.

Ada contoh yang mirip tentang pamer hubungan di media sosial. Sebut saja “Nuri”, 28 tahun yang bolak balik berkicau di Twitter soal betapa bahagianya ia menjalani hubungan dengan pasangan, sehingga tak butuh validasi. Mengklaim ingin menyimpan rapat kebahagiaannya sendiri, tapi yang ia lakukan terbilang kontraproduktif. Ia ajek membagi foto bareng pasangan saat berkencan. Ia menulis betapa beruntungnya memiliki pasangan sepertinya, yang bisa memeluk sebelum tidur, membelikannya es krim dan kosmetik ratusan ribu, serta menghadiahinya sebotol vitamin. Ia masih hobi membicarakan mantan pacar pasangannya lalu mengutip percakapan mereka untuk dijadikan twit. Tak lupa, sekali lagi, mendaku diri sebagai pasangan paling bahagia.

Baca juga: Kita Harus Berhenti ‘Flexing’ Soal Kekayaan

Apakah orang yang benar-benar bahagia dan sudah melupakan cinta masa lalunya benar-benar perlu mengunggah semua perasaannya di media sosial? Apakah orang yang merasa menemukan perempuan atau lelaki terbaik sedunia, perlu umbar kemesraan hingga seantero orang di jagat maya tahu? Bisa iya bisa tidak jika ditinjau dari sisi psikologis.

Kecenderungan itu bernama Public Display of Affection

Public display of affection (PDA) adalah kecenderungan orang untuk memamerkan status relasi romantis mereka di depan publik. Apalagi di era digital sekarang, pamer kemesraan menemukan tempat yang mendukung kebiasaan ini bertumbuh. Di Facebook, Instagram, Youtube, TikTok, Twitter, mereka yang punya kecenderungan PDA mudah dikenali karena sering menggunakan foto pasangan sebagai foto profil, menautkan akun pasangan yang menunjukkan bahwa ia sudah jadi milik orang lain, mengunggah foto romantis, kata-kata menghipnotis, dan rutin mengabadikan momen-momen manis. Semua dilakukan di media sosial.

Baca juga: Dari Bucin Jadi Hubungan Toksik: Kenali Tanda-tandanya

Pamer di media sosial yang dilakukan dalam kadar tepat bisa menunjukkan bahwa hubungan itu sehat dan kamu tak sedang mengabaikan pasangan, menurut Jurnal Social Psychological and Personality Science. Masalahnya, jika dilakukan berlebihan (oversharing), tindakan PDA justru menjadi indikasi awal relasi yang dijalani tak baik-baik saja.

Penelitian Kori Krueger dan Amanda Forest dari University of Pittsburgh pada 2020 bertajuk Communicating Commitment: A Relationship-Protection Account of Dyadic Displays on Social Media mencatat motif lain yang mendasari motif PDA. Dalam studi pertama, mereka menyurvei 236 pengguna Facebook yang terlibat dalam hubungan romantis. Hasilnya, orang-orang yang pamer kemesraan di media sosial secara umum memiliki perasaan kuat untuk pasangan.

Namun, tak dimungkiri, ada isu kepercayaan diri dan insekuritas dalam relasi, sehingga mereka melakukan PDA untuk melindungi hubungan. Perlindungan di sini termasuk dalam hal menghindari rayuan dari pihak ketiga, ancaman mantan datang lagi, atau ancaman dari diri sendiri yang sebenarnya belum benar-benar move on. Syukur-syukur mereka bisa memperoleh validasi dari sekitar.

Baca juga: Cemburu: Kapan Ini Wajar, Kapan Jadi Tak Sehat?

Senada, mengutip seksolog cum pakar hubungan dari Australia Nikki Goldstein, pasangan yang terlalu banyak pamer kemesraan di media sosial acap kali hanya tengah mencari pengakuan dari orang lain, lewat likes atau komentar. Jika validasi itu berhasil dikantongi, maka itu bisa menggenjot kepercayaan diri mereka. Singkatnya, bisa jadi mereka tak benar-benar bahagia dengan relasi tersebut, sehingga perlu menambalnya dengan topeng khusus bernama PDA.

Lebih lanjut, jika saat mengunggah kemesraan itu di media sosial, mereka harus mengorbankan waktu nyata yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk bermesraan betulan, maka ini bisa jadi indikasi bahwa hubungan itu sedang dalam masalah. Waktu berkualitas yang terbuang ditambah ucapan yang meneguhkan, pasangan adalah “kepunyaan” kita. Ini sekaligus bisa jadi penanda kamu sedang mencicil karakter sebagai seorang pacar posesif.

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan kelompok minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.