February 8, 2023
Issues Relationship

Agar Anak Tak Jadi Korban Saat Mama Papa Cerai

Beberapa tips cara melindungi kesehatan mental anak ketika kamu ingin berpisah dari pasangan.

Avatar
  • January 25, 2023
  • 5 min read
  • 452 Views
Agar Anak Tak Jadi Korban Saat Mama Papa Cerai

Di Australia ada fenomena tahunan yang cukup unik. Biasanya, pasangan yang telah memutuskan cerai, masih mengekspresikan kebahagiaan untuk merayakan hari Natal terakhir sebagai keluarga yang utuh. Setelahnya, Januari dikenal oleh para pengacara keluarga sebagai “bulan perceraian” karena alasan ini.

Dibandingkan dengan 2020, perceraian resmi di Australia pada tahun lalu meningkat hampir 14 persen. Hampir separuh dari jumlah pasangan yang bercerai tersebut memiliki anak berusia di bawah 18 tahun.

Sementara di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perceraian sepanjang 2021 mencapai 447.743 kasus, atau meningkat 53,50 persen dibandingkan 2020 sebanyak 291.677 kasus.

Pemicu perceraiannya serupa, sebagian besar disebabkan situasi pandemi, ketika para pasangan tersebut terpaksa harus menjalani waktu bersama yang lebih lama selama periode lockdown sehingga hubungan mereka menjadi buruk (kerap disebut sebagai perceraian Covid-19).

Di Australia, meningkatnya persentase perceraian juga terdorong oleh berlakunya hak untuk menikah bagi pasangan sesama jenis sejak 2017, dan banyak dari pasangan tersebut yang saat ini mulai mengalami fase perceraian.

Perpisahan memiliki dampak signifikan pada anak. Jumlah masalah kesehatan mental yang lebih tinggi ditemukan pada anak-anak dengan orang tua tunggal serta keluarga tiri atau campuran, dibandingkan dengan mereka yang tinggal bersama keluarga aslinya.

Tingkat konflik orang tua pascaperpisahan yang tinggi memiliki hubungan kuat dengan ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri di masa kanak-kanak mereka.

Beberapa studi menunjukkan hubungan antara orang tua pascaperpisahan sangat mempengaruhi perkembangan masalah masa kecil. Perilaku anak yang buruk, tidak stabil dan tidak konstruktif diyakini berkorelasi dengan perilaku maladaptif mereka selama masa kanak-kanak.

Baca juga: Ujung-ujungnya, Beban Kegagalan Rumah Tangga Ditanggung Perempuan

Jika demikian, apa yang dapat orang tua lakukan untuk mempersiapkan anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya dan mencegah mereka terjebak konflik interpersonal serupa yang memicu perpisahan?

1. Beri Tahu Mereka bersama dengan Pasangan

Pertama-tama, beri tahu anak-anak mengenai apa yang terjadi bersama dengan pasanganmu. Duduklah bersama mereka dalam keadaan tenang, tanpa gangguan seperti TV dan perangkat elektronik lainnya, sehingga mereka akan memiliki banyak waktu untuk memproses informasi dan mengajukan pertanyaan (tidak terburu-buru).

2. Hindari Argumen Orang Dewasa di Depan Mereka

Jauhkan pertengkaran pribadi/ dewasa saat berbicara dengan anak. Sekali pun ada perselingkuhan, masalah kecanduan, perasaan dikhianati atau disalahkan, itu semua bukanlah beban yang harus ditanggung anak-anak.

Namun, jika kamu memiliki anak remaja yang sudah cukup dewasa untuk mengetahui sendiri apa yang sedang terjadi, ini menjadi pengecualian. Dalam hal ini, kejujuran adalah pilihan paling bijak – jika usia mereka sudah lebih besar, lebih pintar, dan cukup mengerti, persiapkan dirimu menghadapi pertanyaan yang mungkin akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

3. Bersiaplah untuk Reaksi yang Berbeda-beda

Sama seperti beberapa anak yang terkejut dengan berita orang tua mereka akan segera berpisah, beberapa orang tua juga merasa terkejut dengan reaksi anak-anak mereka ketika mereka menyampaikan berita itu.

Anak-anakmu bisa jadi menunjukkan sikap yang bercabang, bisa langsung tertekan, atau bahkan marah. Mereka mungkin menunjukkan keberpihakan pada salah satu orang tua atau mungkin memohon kamu berdua untuk bertahan. Pada situasi ini, respons anak-anak sangat sulit untuk diprediksi.

Tetaplah teguh. Yakinkan mereka, semua ini bukan salah mereka dan bahwa mereka tetap dicintai dan diperhatikan. Jangan tergoda untuk “membela” diri sendiri atau menyudutkan pihak satunya dalam momen yang emosional dan menegangkan ini.

Baca juga: Menjanda, Apakah Perceraian Pantas Dirayakan?

4. Fokus pada Hal Praktis

Sebagian besar anak-anak – dari yang usia dini hingga remaja – ingin tahu bagaimana perpisahan orang tuanya akan memengaruhi mereka. Di mana mereka akan tinggal, bersekolah, dan apakah mereka masih bisa bermain bola? Pastikan kamu dan pasangan memiliki setidaknya beberapa ide tentang rencana pengasuhan anak yang bisa dinegosiasikan.

5. Beri Tahu Orang Lain

Sebelum berbicara dengan anak mengenai perpisahanmu, memberi tahu anggota keluarga dekat lainnya yang dipercaya dapat menjadi pilihan yang baik. Mereka dapat membantu dengan memberikan dukungan untuk anak-anakmu yang sedang merasa kecewa dan mendengarkan kesulitanmu sendiri. Orang tua atau saudara, bahkan bibi atau paman, mungkin mengenal kamu dan anak-anak dengan cukup baik untuk menyesuaikan dukungan yang berguna.

Jika kamu memiliki hubungan yang baik dengan sekolah anak, beri tahu guru mereka apa yang terjadi – mereka dapat membantu mengidentifikasi kesulitan penyesuaian yang jelas pada anak dan merujuk anak-anak ke dukungan berbasis sekolah jika diperlukan.

Baca Juga: Beranilah untuk Berpisah

6. Bicaralah Tentang Perpisahan ini

Ingatlah bahwa diskusi ini tidak akan selesai hanya dalam satu sesi. Anak-anak cenderung akan kembali kepadamu dengan lebih banyak pertanyaan dan permintaan, terutama saat kehidupan barumu mulai terbentuk.

Perlu juga diingat bahwa seiring bertambahnya usia, anak-anak dapat “memproses ulang” peristiwa secara berbeda, dengan pola pikir mereka yang baru, yang mungkin lebih baik, dan lebih dewasa. Pertanyaan yang tidak terpikir oleh mereka dulu saat berusia empat tahun mungkin tiba-tiba muncul ketika mereka menginjak usia 14 tahun (seperti “Mengapa kalian berpisah?” “Apakah kalian sudah mencoba konseling?”).

7. Tetap Jadi Orang Tua Bersama-sama

Hal terbaik yang bisa kamu dan pasangan (yang akan berpisah denganmu) upayakan adalah membentuk hubungan yang bersahabat dan tetap menjadi orang tua bersama (co-parents). Membicarakan hal-hal negatif tentang pasanganmu kepada anak sama saja dengan secara tidak langsung mengritik 50 persen DNA anakmu – nantinya, mereka tidak akan menghargai hal ini.

Ketidaksepakatan tentang rencana pengasuhan anak dan hal-hal lain, seperti di mana anak akan merayakan Natal, kemungkinan besar akan muncul. Kamu sebaiknya tetap menjaga agar diskusi yang sulit tidak terdengar oleh anak-anak dan jangan takut untuk menggunakan mediator jika kamu menghadapi hambatan.

Tidak ada pasangan yang memulai hubungan dengan harapan akan berpisah. Namun kenyataannya, kurang lebih sepertiga pernikahan di Australia berakhir dengan perceraian dan hampir setengah dari perpisahan tersebut melibatkan anak-anak di bawah umur.

Meskipun kamu dan pasangan telah melanjutkan kehidupan masing-masing, jika kalian tetap mampu menjadi orang tua bersama dengan baik, ini akan pengaruh besar pada bagaimana anakmu menyesuaikan diri dengan kondisi keluarga baru mereka. Menyingkirkan kemungkinan bahaya yang tidak perlu bagi mereka adalah hal yang perlu diprioritaskan sejak awal.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Ilustrasi oleh: Karina Tungari


Editor:  Rachael Sharman
Avatar
About Author

Rachael Sharman

Rachael Sharman, Senior Lecturer in Psychology, University of the Sunshine Coast. Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *