October 02, 2019
Semburit

Pravek selalu berkata, “Bakar kuasa tubuhmu, niscaya ragamu bebas dari nafsu jasmani!”, namun ia tak kuasa melawan hasrat di antara kami. #Cerpen

by Rio Johan
Culture // Prose & Poem
Share:

SUDAH pasti Pravek akan dianggap lebih bersalah daripada aku. Aku sudah bisa mencium amis dinding-dinding batu penjara yang sedang dihuninya, sarat lembap kencing. Sebab posisinya yang lebih berat, Pravek minimalnya akan dijatuhi hukuman empat belas tahun kurungan. Sedangkan hukumanku, berkat akar keningratan dan pertimbangan usiaku, tak akan lebih dari dua tahun penjara. Itu pun dengan asumsi minimalnya upaya penyelamatan dari ayahku dan pelanggaran-pelanggaran silam yang telah kuterima terkuak entah bagaimana caranya. Aku justru yakin ayahku bakal mengkambinghitamkan Pravek demi menyelamatkan mukanya.

PRAVEK mentorku berpedang; dia tutor aljabar, filsafat elementer, bahasa Latin juga Yunani, histografi, ilmu pemerintahan; dan lebih dari semua itu, dia juga guru rohaniku. Dia pula yang telah menaruh bibit cita-cita untuk menjadi laki-laki kesatria sebagaimana dirinya. Adalah suatu kewajaran bila aku kerap bersamanya. Aku tak ingat kapan kali pertama ataupun sebab musabab aku mengaguminya. Yang aku tahu, Pravek bahkan sudah mengabdi pada keluargaku sejak beberapa tahun sebelum kelahiranku. Dia telah hidup seperempat abad ketika pertama kali memberi pelajaran bertarung padaku. Semakin hari, seiring dengan menebalnya semak kumis di pucuk mulutnya, perwujudannya semakin gagah pula di mataku. Aku merasa lebih dekat dengan Pravek ketimbang ayahku yang selalu lebih sibuk.

Sewaktu bocah ingusan dulu, aku nyaris percaya bahwa Pravek sama gagahnya dengan trio bogatyr yang legendaris. Aku meyakini bahwa Pravek pastilah seakil dan searif Alyosha Popovich, gagah berani bagai Dobrynya Nikitich, sekaligus juga memiliki kemampuan fisik dan hati seperti Ilya Muromets. Aku tak tahu apakah pikiran bocahku itu masih berlaku atau tidak sekarang. Yang pasti, barulah remaja ini aku menyadari bahwa Pravek ternyata lebih bersahaja dari yang kukira. Betapa pun, kecakapannya berpedang bukan tanpa pengalaman. Entah sudah berapa kepala nomad Pecheneg yang dibabatnya. Konon, dia juga turut serta menebas kaum-kaum Cuman yang pernah menyerbu Berestovo. Sekalipun namanya tak sekondang Oleg atau Sviatopolk, aku tak meragukan keperkasaan Pravek sebagai kesatria.

Sewaktu aku bocah dulu, Pravek gemar menuturkan saga-saga kesatria. Biasanya dia bercerita di bawah gandarusa raksasa yang jadi pusat suatu prairi tempat kami biasa istirahat setelah berkuda. Aku akan senantiasa menyimak suara kerasnya melantun di antara angin yang mengembusi helaian rambut putihnya. Dia pernah menuturkan kisah Bangsawan Stepanovich yang berkuda melintasi jabal keramat yang dihuni unggas-unggas raksasa kemaruk dan naga yang mengembus nafas api pada tapal kudanya. Pernah pula tentang epos Mykyta Sang Penyamak dari Tanah Rus Kiev yang berhasil menaklukkan Zmey Gorynych, naga yang doyan menculik perempuan cantik.

Ketika menyimak semua cerita itu, kepalaku malah mewujudkan sosok Pravek sebagai pahlawan utama yang bahaduri, bertarung gagah berani melawan naga-naga pembawa mala bagi umat manusia. Tentu saja tak kunyatakan semua itu pada Pravek, bahkan sampai aku remaja dan epos-epos spektakuler itu sudah berganti simposium Yunani juga doktrin prinsipiil Konstantinopel yang sudah jelas lebih menjemukan—jelas saja Pravek orang yang abid. Aku bahkan bisa membayangkan: dia akan mengecup rosario sebelum mengayunkan pedang di gelanggang perang; memohon ampunan Tuhan serta memanjat doa bagi bakal korban.

PERNAH Pravek berkata padaku, “Cinta yang ilahiah tentulah perjalanan yang melampaui godaan jasmaniah.” Tapi yang terjadi padaku justru perjalanan yang bermula dari godaan jasmani. Tidakkah aku perlu mengagumi kegagahan pegarinya dahulu sebelum akhirnya memuja bahadurinya yang luhur?

Baca juga: (Bukan) Rumah untuk Semua (1)

Sempat kuyakini itulah salah satu alasan mengapa Pravek memilih berselibat. Kukira kesetiaannya pada pengabdian dan iman sudah tak menyisakan ruang bagi bau perempuan. Lantas apa kiranya yang ada di pikiran Pravek pada kali pertama jemarinya menyentuhku? Aku ingat ketika itu kami tengah istirahat di bawah teduh gandarusa. Tersebab Pravek sudah tak lagi melantunkan dongeng buatku, jeda-jeda berkuda jadi lebih sering diisi sunyi.

Tapi suatu hari, Pravek yang sebelumnya tenggelam dalam kesunyiannya tiba-tiba saja menggulirkan telunjuknya pada wajahku. Kurasakan sentuhannya dalam remang kulitku, dari pucuk tulang pipi kananku, turun mengalur menuju ujung bibirku. Aku nyaris mendengar bibirnya mendesis, “Kamu luar biasa menawan, Paksolav”—entah suaranya betulan nyata atau hanya dalam bayanganku semata. Tapi detik selanjutnya Pravek malah menarik tangannya cepat. Sekalipun dia bersusah-payah memasang wibawa pada mukanya, aku tahu betul Pravek pasti dihunjam rasa bersalah. Aku yang masih di ambang remaja jelas tak bernyali, apalagi sampai hati, menjadikannya fasik cuma demi diriku.

Namun aku sudah terlanjur terjerat pada Pravek. Sentuhannya bagai pemantik nyala durjana dalam dadaku. Sikap Pravek yang seakan tak peduli membuatku gelisah. Cuma tiruan sosoknya yang muncul dalam kepalaku. Dalam malam-malamku, kuwujudkan fantasi kesatria dalam gelanggang perang yang cuma bisa kureka melalui saga-saga yang pernah dituturkannya.  

Suatu malam, ayahku menangkap basah ritus cabulku dan dia langsung melempar segala macam hardikkan menjijikkan. Tentu tak kunyatakan bahwa aku mewujudkan Pravek dalam fantasi berahiku. Ayahku berang. Tapi dia juga tak sudi kenistaanku itu tersebar dan menjadi aib bagi keningratannya. Perkara itu disembunyikan sedemikian rupa. Cuma aku, ayahku, Pravek—yang dipercayai untuk menuntunku kembali ke jalan Tuhan—dan Tuhan sendiri yang tahu dosaku. Atas titah ayahku pula Pravek menghukumku puasa delapan puluh hari ditambah lima puluh kali prostrasi per hari.

Setiap hari aku bersujud di hadapan altar kapel, menghadap aspis di depanku yang ditumpahi tembusan sinaran dari sepetak jendela panjang. Seakan tiada mau peduli pada kepiluan yang kurasakan, setiap hari pula Pravek turut bersimpuh di sampingku, seolah merasa punya andil dalam dosaku. Setelah sujud kelima puluh pada hari kedelapan puluh, aku memberanikan diri menyatakan pada Pravek bahwa aku menginginkannya. Tapi dia tak acuh. Begitu juga pada hari-hari seterusnya ketika kami berkuda, berlatih pedang, atau mendiskusikan simposium yang berakar-akar tapi bagai tak punya ujung. Aku merasa Pravek menjadi dingin, gelagatnya seolah menghindariku, atau malah menghindarkan dirinya dariku.

“Nafsumu akan menjauhkanmu dari Tuhan,” jawabnya ketika kunyatakan lagi bahwa aku menginginkannya.

Namun aku tidak sudi menyerah. Terus kuulang keinginanku padanya, tetapi tetap Pravek kukuh dengan sabda-sabdanya. Berulang kali aku mendesaknya dan berkali-kali pula dia menudingku sebagai pendosa. Terang saja tak butuh waktu lama bagi Pravek untuk meledak murka. Dia meneriakiku segala sumpah serapah yang kemudian langsung disesalinya. Lalu dengan dingin Pravek kembali menjatuhiku hukuman prostrasi lima puluh kali. Aku, yang sudah terlanjur turut mendidih, menangkap hukumannya sebagai tantangan dan segera saja bersujud di hadapannya.

Selayaknya uskup, Pravek kembali mengkhotbahiku, “Bakar kuasa tubuhmu, niscaya ragamu bebas dari nafsu jasmani!”

Aku semakin tertantang. Alih-alih memohon ampunan di hadapan altar agung, aku malah bersujud di hadapannya. Aku yakin Pravek berang. Tapi yang selanjutnya dengan dingin dia ucapkan justru, “Senantiasa berkhidmat pada Tuhan!” Sementara Pravek terus mengumandangkan sabdanya, aku kukuh diam dalam laku sujud yang baru sampai pada hitungan tiga puluhan. Mana kala berlutut—sebelum kembali bersujud—kutantang tatapan dingin Pravek dengan mataku.

Setelah sujud kelima puluh, Pravek bersimpuh dan merangkulku. Dikecupnya keningku, lalu dialirinya liang telingaku dengan sabda-sabdanya. Kurasakan belas kasih mulai mewujud dalam tatapannya dan hangat tiba-tiba saja memancar dari tubuhnya.

Baca juga: Anggun dan Suara Langkah Misterius

“Tapi aku ingin jadi diakenmu. Aku mau kau jadi samas kelemahanku, penebus kenistaanku.”

Pravek menitikkan air mata. Bulir mengalir menuruni pipinya dan hinggap pada ujung bibirnya. Pelan-pelan kuraih bibirnya yang sudah dibasuh basah air mata dengan bibirku. Entah sekadar iba atau tulus menjadi fasik demi diriku, Pravek tidak menolakku.

“AKU pendosa sebagaimana aku telah melanggar perintah Tuhan,” begitu gumam Pravek tiap kali kami usai saling meleburkan tubuh di bawah rimbun daun gandarusa. Matanya merawang jauh, menembus celah-celah daun di puncak sana. Barangkali Pravek masih dihantui kenyataan bahwa dirinya telah berdosa. Aku selalu ingin mengusap ketakutan itu dari kepalanya, tetapi aku merasa tak punya kuasa. Yang bisa kulakukan cuma mendamaikannya dengan kasihku sendiri.

Aku merasa tak seharusnya kami terus-terusan bersemburit dalam naungan ancaman dosa. Ingin kutegaskan hal itu pada Pravek, tetapi aku takut membuatnya semakin gelisah. Pernah kuutarakan ajakan kabur dari Tanah Rus Kiev ini. Tapi Pravek malah membalas, “Kita tidak mungkin pernah bisa kabur dari Tuhan.”

Namun orang-orang telah menangkap basah kami sebelum aku berhasil mendamaikan Pravek. Bermula dari gunjing-gunjing kecil para pelayan yang tanpa sengaja menyaksikan kegegabahan intimasi kami, merayap-rayap dari bibir ke bibir dengan laju yang tak kuduga, dan dalam waktu singkat berujunglah pada pengusutan oleh ayahku dan kroni-kroninya.

Aku sudah terkurung dalam kamar sejak berhari-hari lalu, dalam pengawasan algojo pilihan ayahku. Aku tak sanggup membayangkan kondisi Pravek dalam kurungan berdinding batu. Bukan tidak mungkin juga centeng-centeng ayahku sudah mengamankan Pravek terlebih dahulu. Aku merasa perlu bertindak sekarang, secepat mungkin. Kabur dari Tanah Rus Kiev ini cuma satu-satunya pilihan. Sekiranya sepuluh menit lagi algojo ayahku bakal masuk mengantar jatah makan malam. Aku yakin mampu melumpuhkan babon besar itu, lalu bersigap mencari tahu di mana mereka menyekap Pravek. Selanjutnya kami bisa saja berkuda menembus perbatasan Polandia, atau Hungaria, atau bisa juga menuju Bizantium dengan menyusuri pesisir Laut Hitam—kemana pun asal aku dan Pravek bisa bebas dari jerat Tanah Rus Kiev ini.

Barangkali Pravek akan menolak dan lebih memilih menebus dosanya. Besar kemungkinan dia tetap merasa sebagai biang segala perkara ini. Tapi aku akan dan harus meyakinkannya bahwa aku sudah terlanjur tenggelam dalam palung jeratnya, tiada mungkin kembali ke permukaan. Akan kukatakan bahwa akulah yang lebih pendosa darinya. Andai memungkinkan, akan kutebus dosanya menjadi dosaku.

Dari luar pintu kamar kudengar sebentuk samar suara langkah. Lalu pintu pun berderik, memecahkan hening yang selama ini menjajahi kamar ini. Cuma tinggal hitungan detik lagi algojo ayahku akan mencuat dari balik pintu dan aku harus bersiap-siap memulai siasat untuk menyelamatkan Pravek.

Rio Johan menulis kumpulan cerpen “Aksara Amananunna” yang terpilih sebagai Buku Prosa Pilihan Tempo 2014. Novelnya “Ibu Susu” memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 Kategori Karya Perdana atau Kedua.