May 24, 2016
Memaknai Ulang Konsep Transgender

Maskulinitas dan feminitas sudah tidak relevan, demikian juga kata 'trans' yang dipadukan dengan gender, sehingga tidak perlu lagi ada diskriminasi.

by Fathul Purnomo
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Beberapa saat yang lalu mencuat kabar tentang seorang transgender yang bekerja di Gedung Putih bernama Raffi Freedman-Gurspan.

Hal ini merupakan prestasi yang membanggakan karena berarti pemerintahan Barack Obama telah satu tahap menuju pengintegrasian seluruh masyarakat Amerika Serikat, termasuk transgender. Di sisi lain, transgender menjadi semakin diakui, mengingat kelompok ini sulit mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga harus memilih pekerjaan yang kurang begitu menguntungkan.

Dalam spektrum LGBT, transgender merupakan salah satu kelompok yang masih sangat terdiskriminasi dibandingkan kelompok lain. ‘Transgender’ berasal dari dua kata yaitu trans yang berarti perpindahan dan gender. Kata trans mengisyaratkan perpindahan yang terjadi dalam diri seseorang yang sebelumnya menggunakan gender laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya.

Kata transgender terkonstruksi dari paham masyarkat yang masih melihat identitas organis akan selalu sesusai dengan jenis gender. Bahwa penis akan selalu bersesuaian dengan maskulinitas. Maka dengan begitu masyarakat melihat bahwa seorang laki-laki yang kemudian berperilaku layaknya perempuan dianggap trans, berpindah dari laki-laki menuju perempuan.

Seorang transgender sendiri tidak pernah merasakan dirinya sebagai trans, karena mereka sudah sedari awal memang berperilaku seperti itu. Dalam hal ini kata transgender tidak sesuai dengan apa yang dialami oleh seorang transgender itu sendiri. Seorang transgender tidak pernah merasakan dirinya trans.



Karena pemahaman trans inilah yang justru mengancam eksistensi mereka. Ketika seseorang dikatakan trans, seakan akan mereka melenceng dari fitrah. Dan karena dia adalah orang yang keluar dari kodrat yang katakanlah sebagai seorang laki-laki, maka orang seperti ini harus disembuhkan, atau jika tidak sembuh maka harus dimutasi dari sosial.

Jamak kita temui dimana para teman-teman trans terusir dari rumah, dan bahkan ketika mereka meninggal dunia, keluarga tidak berkenan mengurusnya.

Selain menggunakan alasan fitrah, masyarakat umum juga menggunakan standar etika. Bagaimana yang etis bagi manusia berpenis adalah berperilaku maskulin, laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan gaun panjang dan sepatu hak tinggi.

Banyak kalangan menilai bahwa seorang manusia berpenis tentu tak estetis menggunakan pakaian yang dalam masyarakat umum digunakan bagi perempuan. Etis dan tidak etis kemudian dipengaruhi oleh konsep estetika yang berkembang dimasyarakat. Etika dan estetika kemudian dipadu-padankan untuk memerangi transgender.

Pemahaman alam bawah sadar masyarakat Indonesia selalu melihat gender sebagai sesuatu yang terberikan. Mereka yang laki-laki harus bertindak maskulin, sedang perempuan harus feminin. Maka jika ada yang berbeda harus segera diobati.

Namun jika pemahaman mendasar masyarakat melihat bahwa gender tidak terberikan, dan tidak selalu bersifat tetap perpaduannya maka tindak diskriminasi tidak akan terjadi. Terlebih kita tahu bahwa gender merupakan sesuatu yang terkonstruksi secara sosial.

Gender menurut Judith Butler adalah “an act, a performance, a set of manipulated  codes, costumes, rather than a core aspects of essential identity,” (Barriteau, E.(ed). (2003) Confronting Power, Theorizing Gender: Interdisiplinary Perspective in the Caribbean. Kingston: The University of the West Indies Press, hal. 110).

Masyarakat membuat aturan mana yang disebut sebagai tindakan maskulin dan mana yang disebut sebagai tindakan feminin. Padahal sebenarnya tidak pernah ada tindakan maskulin dan tindakan feminin. Karena hasil repetisi dan kontekstualitas sajalah yang menjadikan bias seakan pola tindakan tertentu merupakan modus maskulinitas atau feminitas berada.

Seluruh tindakan di muka bumi ini sejatinya netral gender. Dan karena alasan ini pulalah, semua anak yang baru lahir berhak berbuat apapun tanpa ada segregasi perilaku. Laki-laki yang gemar menggunakan warna merah muda atau pink suka disebut faggot, padahal pink pada awal kemunculannya justru ditujukan bagi laki-laki.

Atau laki-laki yang menggunakan sepatu hak tinggi yang hari ini hanya bisa digunakan perempuan. Padahal hak tinggi diciptakan justru untuk perlengkapan prajurit tentara Persia yang semuanya adalah laki-laki. Atau anda laki-laki yang berbicara dengan begitu lemah lembut dan dianggap seperti perempuan, dan berbagai ekspresi feminitas lainnya. Yang pada dasarnya seluruh ekspresi tersebut bebas nilai.

Permasalahan selanjutnya adalah pada konsep maskulin dan feminitas itu sendiri. Karena sepanjang peradaban manusia kedua konsep tersebut terus berubah dan mengalami pemaknaan baru.

Dulu laki-laki maskulin adalah laki-laki yang berotot besar, namun hari-hari ini banyak laki-laki yang sudah tidak lagi berotot besar seperti para anggota Korean boyband, yang sebenarnya merupakan bentuk maskulinitas baru.

Ketika masyarakat menyerang manusia berpenis yang tidak maskulin (dalam hal ini termasuk transgender), maka itu adalah suatu kebodohan, karena maskulinitas sendiri adalah hal yang sangat cair dan bergantung pada konteks di mana ia berada.

Terlebih kita tahu seleksi maskulinitas maupun feminitas terjadi di masa peradaban manusia masih berada pada masa berburu dan meramu. Saat itu perempuan harus tinggal di rumah dan berperilaku sedemikian rupa yang kemudian dimaknai sebagai sebuah moda berada feminitas, dan sebaliknya laki-laki berburu hewan di hutan dan sekumpulan cara mereka berperilaku dimaknai sebagai sebuah maskulinitas, ini pulalah yang menjadikan kenapa konsep maskulin erat kaitannya dengan otot.

Pemuda kemudian dipaksa agar kuat bertahan hidup dengan mencari mangsa di hutan sekaligus menjadi incaran singa-singa yang kelaparan. Mereka yang dianggap lemah, dan masih berperilaku manja dihina dengan menyarankan mereka untuk tetap tinggal di rumah dan menyusu pada ibu.

Perlu diingat bahwa ini abad ke-21, dimana anda tidak harus lagi menyeleksi mana laki-laki yang tidak maskulin dan perlu ditertawakan, dan juga sebaliknya. Ini adalah masa dimana anda tidak harus memiliki bisep kekar untuk menyelesaikan laporan keuangan perusahaan.

Ini adalah masa dimana anda tidak perlu mengangkat tombak untuk memenuhi nutrisi harian, sehingga manusia berpenis yang feminin dan juga manusia bervagina yang maskulin, dalam hal ini transgender, memiliki pijakan yang kuat untuk tidak menghadapi diskriminasi.

Tidak selalu sesuainya tubuh material dengan jenis gender, ditambah dengan tidak jelasnya garis batas antara maskulin dan feminin, dan sudah tidak relevannya maskulinitas dan feminitas di zaman ini, menjadikan kata ‘trans’ yang dipadukan dengan gender sudah tidak lagi sesuai. Ada tawaran konsep baru?
 
Fathul Purnomo adalah tukang tidur dan pemimpi penuh waktu, dan mahasiswa paruh waktu jurusan filsafat di Universitas Indonesia. Ia juga aktif di UI Liberalism and Democracy Study Club (LDSC). Ia bisa dikontak di Twitter lewat akun @purnomousmaw.