Women Lead
August 03, 2021

‘Mixed-Orientation Marriage: Memang Kenapa Kalau Punya Suami Gay?

Teman lelaki saya baru saja melela bahwa ia queer. Di saat bersamaan, teman perempuan saya ditekan untuk segera menikah. Kenapa tak melakukan ‘mixed-orientation marriage’ saja?

by Lutvia Resta Setyawati
Issues // Gender and Sexuality
Share:

Beberapa hari lalu, salah satu teman kami, sebut saja Leo--berpenampilan maskulin dan berwibawa--mengaku gay, atau lebih tepatnya, I’m a queer, Sa.Sontak saya kaget, bukan karena dia melela tapi lebih ke, “Wah, kok bisa Tuhan mempertemukan saya dengannya di waktu yang tepat?”

Jadi beberapa jam sebelumnya, teman perempuan saya, Chacha, menelepon sambil nangis-nangis. Sebabnya, ia ditekan untuk lekas menikah dan punya anak. Kata keluarganya, “Ngapain sekolah tinggi-tinggi sampe S2 kalau sampai sekarang belum menikah atau punya anak.”

Sejak akhir 2020, Chacha berpikir keras mencari alternatif terbaik untuk terbebas dari pertanyaan “kapan nikah” atau “calon suamimu orang mana?” Ayolah, tidak semua manusia bisa menikah dengan mudah setelah menginjak usia matang walau sudah usaha mati-matian. Apalagi yang melibatkan trauma seperti dialami Chacha. Tumbuh di keluarga disfungsional dengan ibu dan bapak yang berperangai kasar lalu gagal dalam hubungan serius, Chacha tak benar-benar mendambakan pernikahan secepat mungkin.

Baca juga: Laki-laki Gay Jadi Bunglon Sosial Lewat Pernikahan Heteroseksual

Salah satu solusi yang kemudian terpikirkan oleh kami adalah, bagaimana jika Chacha menikah dengan seorang gay? Dia mungkin bisa melindungi perempuan sepertinya dari stigma negatif masyarakat mengenai perawan tua atau perempuan gagal. Pun, pria gay atau queer itu mungkin bisa menyembunyikan orientasi seksualnya di balik institusi pernikahan.

Ini memang bukan keputusan jamak di masyarakat patriarkis seperti kita yang terikat nilai dan norma. Namun, ketika terjepit oleh bombardir stigma, seseorang memang sangat mungkin mengambil opsi tersebut. Bagaimana bisa kuat jika Chacha harus didesak melulu dan dilabeli perawan tua hanya karena “telat” kawin. Sesekali ia juga dijadikan bahan julid ibu-ibu komplek dan dikatai tak laku.

Setelah perbincangan malam itu, saya mulai tertarik mencari berbagai referensi mengenai kisah hidup orang-orang yang “terjebak” dalam Mix Orientation Marriage (MOM). Ini merupakan situasi ketika seorang suami memiliki orientasi seksual non-heteroseksual, sedangkan istrinya heteroseksual, begitu pula sebaliknya. MOM acap kali terjadi ketika kedua orang ini berada dalam situasi memaksa. Mereka merasa ditindas karena dipaksa menikah dan memiliki anak, tapi di sisi lain, masyarakat menolak pernikahan sesama jenis. Namun ada juga MOM yang dilakukan diam-diam tanpa kejujuran dan consent kedua belah pihak sejak awal.

Baca juga: Queer Love: Adakah Pasangan Lesbian yang Bertahan?

Saya bertanya kepada Leo, teman saya yang memiliki orientasi seksual gay, dan jawabannya cukup rasional. Menurutnya, alih-alih wujud sikap egois, mixed-orientation marriage bukan sesuatu yang salah. Pernikahan memang tetap harus dibangun melalui ruang diskusi yang nyaman, jujur, dan tidak saling menyakitkan. Tidak boleh ada yang merasa dikhianati di dalam sebuah pernikahan, prinsip dasar yang mesti ada di semua jenis pernikahan.

Jika ingin melakukan mixed-orientation marriage, ketiga belah pihak, yakni istri, suami, dan pasangan di luar itu (jika ada) harus terlebih dahulu membuat kesepakatan. Kalau pasangan yang akan menikah, berikut pasangan sesama jenisnya setuju, maka tak ada salahnya dilakukan. Kuncinya memang kejujuran dalam komunikasi.

Baca juga: Pria Gay Bersembunyi di Balik Tudung Rohani

Saya sendiri melihat hubungan ini sebagai simbiosis mutualisme. Seseorang seperti Chacha yang tidak lagi berniat menjalin hubungan asmara dengan siapapun, perlu cari solusi agar tak tenggelam dalam tekanan. Sementara Leo yang merupakan pengusaha yang sukses dan terkenal, punya kepentingan untuk melindungi diri demi kepentingan usahanya. Keduanya mungkin bisa membuat sebuah kesepakatan menikah dan berteman seumur hidup. Saling melindungi, dari kaca mata masyarakat yang konservatif dan sarat akan penindasan.

Terakhir, sebagai penonton, kita tidak seharusnya menghakimi pilihan Chacha atau Leo. Toh, mereka bisa bebas untuk memilih dan bertanggung jawab atas keputusannya kan.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Lutvia Resta Setyawati malah lebih sering disingkat menjadi esa (dengan huruf kecil), atau dandelion liar jika memang sedang liar. Perempuan kelahiran Sukabumi ini sudah senang menulis sejak duduk di bangku SD. Kalau senggang, waktunya dihabiskan dengan mempelajari hal-hal baru.