Women Lead
April 01, 2021

Nurul Bahrul Ulum Dakwah di Medsos Lawan Tafsir Tak Ramah Perempuan

Penggagas akun Cherbon Feminist dan pengelola pesantren ini berbagi perspektif tentang tafsir Islam ramah perempuan dan cara menyebarkannya kepada masyarakat.

by Jasmine Floretta V.D.
Wo/Men We Love
Feminisme dan Islam
Share:

Media sosial telah menjadi alat aktivisme yang efektif menjangkau banyak kalangan, terutama anak-anak muda. Berbagai isu sosial budaya dapat disuarakan melalui beragam konten yang lebih mudah dicerna dan menarik, salah satunya terkait tafsir Islam ramah perempuan dan mendorong kesetaraan gender.

Adalah Nurul Bahrul Ulum, edukator bidang advokasi hak perempuan dan conten creator, salah satu feminis muslim Indonesia yang memanfaatkan media sosial dalam aktivismenya. Penggagas akun Instagram @CherbonFeminist ini secara konsisten mengunggah konten-konten edukatif dan kampanye terkait kesetaraan gender dan tafsir agama yang lebih adil terhadap perempuan.

Tidak hanya melalui akun tersebut, karya-karya perempuan yang bertanggung jawab mengelola pesantren Yayasan Manarul Huda ini juga dapat ditemukan dalam akun Instagram @mubadalah.id, @muslimahfeminist, dan akun pribadinya, @nurulbahrululum.

“Kita mencoba menggunakan media sosial sebagai lahan dakwah untuk menjadi counter narasi-narasi yang ditafsir tidak adil terhadap perempuan. Narasi-narasi macam itu pada akhirnya mendiskriminasi perempuan, padahal narasi tersebut bukan cerminan Islam sendiri,” ujar Nurul dalam acara Instagram Live Magdalene, Bisik Kamis Spesial bertajuk “Bicara Feminisme dan Agama Bisakah Seirama” (10/3).

Menurutnya, masih banyak sekali miskonsepsi mengenai tafsir agama yang mendominasi pemahaman masyarakat sehingga Islam seakan-akan terlihat sebagai momok yang begitu menakutkan, terutama bagi perempuan. Hal itu tecermin mulai dari banyaknya kesalahpahaman mengenai kodrat perempuan, kepemimpinan perempuan yang kerap dipertanyakan dalam diskursus agama, hingga anggapan miring soal Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Miskonsepsi-miskonsepsi tersebut pada akhirnya memunculkan pandangan bahwa feminisme tidak bisa berjalan beriringan dengan Islam. Melalui perbincangan dengan Junior Editor Patresia Kirnandita, Nurul menanggapi pandangan seperti itu dan membagikan perspektifnya tentang interpretasi Islam yang lebih adil bagi perempuan dan setara gender.  Berikut kutipan obrolan tersebut.

Baca juga: Feminisme Muslim Indonesia: Gerakan Perempuan Lawan Konservatisme Agama

Magdalene: Kenapa sih tafsir agama dominan yang meminggirkan perempuan, misalnya tentang perempuan yang harus manut kepada laki-laki, tetap langgeng sampai sekarang?

Karena budaya patriarki masuk ke seluruh aspek kehidupan termasuk agama. Yang menafsirkan [agama] itu manusia toh? Mereka dipengaruhi oleh budaya patriarki sehingga tidak heran kita menemukan ajaran-ajaran yang terkesan meminggirkan perempuan.

Misalnya, tentang istri harus manut sama suami, atau perempuan ada di bawah laki-laki. Ini salah satunya berangkat dari tafsir surat An-Nisa ayat 34 yang dipahami bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Itu tok. Padahal, kita enggak bisa membaca teks secara tekstual atau dibaca terjemahannya saja. Kita harus melihat asbabul nuzul-nya [yang menjadi sebab turunnya satu atau beberapa ayat Al-Qur’an], harus melihat tafsirannya seperti apa, disesuaikan dengan realitas saat ini.

Kita lihat realitasnya, nih, perempuan dianggap sebagai makmum, harus nurut sama laki-laki kalau enggak masuk neraka. Hal ini harus kita liat lagi karena dari realitas sosial, banyak perempuan menjadi kepala keluarga.

Kalau kita lihat, pada zaman jahiliyah [sebelum turunnya Nabi Muhammad] memang ada situasi di mana perempuan tidak dianggap sebagai manusia. Namun sekarang, banyak perempuan maju, berpendidikan, menempati posisi-posisi strategis di berbagai leading sector. Ya kita tidak bisa memungkiri realitas. Kita harus pikirkan bagaimana agama bisa berdialog dan juga bisa melakukan advokasi dalam realitas.

Lantas gimana mengubah keadaan yang enggak adil bagi perempuan? Kita harus mengintrepertasi teks, memaknai bagaimana teks itu dipastikan hadir untuk kemaslahatan manusia yang di dalamnya, baik laki-laki maupun perempuan, dan disesuaikan dengan cita-cita Islam.

Ketika budaya patriarki dan interpretasi Islam dominan sudah mengakar, enggak gampang memberitahukan ke orang-orang yang lebih awam tentang tafsir Islam ramah perempuan. Strateginya bagaimana untuk mengedukasi mereka, terutama saat bicara dengan kelompok konservatif?

Kita harus berbicara dengan orang itu sesuai dengan kadar intelektualnya. Kita enggak bisa menyamaratakan satu strategi untuk semua orang. Contoh, mau menanamkan soal gender ke anak, kita bisa pakai nyanyian. Untuk mahasiswa, bisa lewat kelas-kelas training, lebih teoretis.

Di pesantren, tidak pakai teori-teori berat tapi pakai kitab, ada banyak. Salah satunya itu Asitin Al'adliyah. Itu isinya hadis-hadis sahih Bukhari Muslim tentang kedudukan perempuan, hak-hak perempuan dalam Islam. Ini hadis sahih tapi enggak dipopulerkan. Ini juga karena patriarki.

Yang dipopulerkan malah hadis yang menyebut kalau suami mengajak istrinya ke ranjang lalu istri menolak, maka istri akan dilaknat oleh malaikat, perempuan itu aurat, perempuan akan dilaknat, perempuan akan masuk neraka. Kayak Islam itu menakutkan bagi perempuan.

Lalu, gimana cara memberitahukan tafsir ramah perempuan ke masyarakat umum dan lewat media sosial? Tergantung audience-nya siapa. Kalau milenial ya pakainya video, atau apa pun yang sekreatif mungkin. Yang jelas dan yang paling penting, dalam membangun, melakukan proses penyadaran dan berdakwah itu harus menggunakan narasi alternatif. Walaupun rada susah, narasi alternatif bisa berlaku sesuai dengan zaman.

Baca  juga: Mengenal amina wadud, Bintang Rock Feminisme Islam

Masih banyak yang menganggap bahwa feminisme tidak bisa sejalan dengan agama, khususnya Islam. Bagaimana tanggapan Mbak tentang ini?

[Anggapan] Ini sudah basi banget. Saya rasa, Nabi Muhammad itu justru adalah seorang feminis. Feminisme kan sejarah panjang perjuangan, perlawanan, pembebasan perempuan dari penindasan sejak abad 18. Esensi dari gerakan feminisme adalah memperjuangkan hak-hak perempuan dari ketidakadilan, diskriminasi, dan pada kenyataannya ini sudah lebih dulu dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad itu merevolusi peradaban manusia, termasuk peradaban perempuan. Dulu, perempuan tidak dihargai, bayi perempuan dikubur hidup-hidup. Namun, ketika Islam datang dengan Nabi Muhammad sebagai Rasulullah yang diutus, perempuan akhirnya dianggap sebagai manusia.

Kalau ada yang bilang poligami itu bagian dari ajaran Islam, sebenarnya itu salah. Poligami adalah tradisi jahiliyah, laki-laki bisa kawin dengan ratusan perempuan. Ketika Islam datang, poligami dibatasi menjadi empat. Karena kalau ujug-ujug dilarang, diharamkan, dan langsung menyuruh monogami, ya Islam tidak bisa diterima.

Perubahan dan gerakan yang dilakukan Rasul merupakan suatu hal yang evolusioner, dilakukan secara bertahap. Perempuan tadinya diwariskan sebagai benda. Sejak kedatangan Islam, perempuan bahkan dapat warisan.

Ini tahun 2021 masih ada poligami? Di mana kemajuan Islam? Malah dipromosiin, ini enggak ada kemajuan.

Kalau dilihat dari esensi yang dilakukan gerakan feminis dengan revolusi kemanusiaan yang dilakukan Nabi Muhammad, apa bedanya? Saya rasa enggak ada bedanya.

Lalu ada satu hal yang saya dapat dari Dwi Rubiyanti Kholifah, Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia. Kita harus membedakan feminis esensi dan feminis ekspresi. Kalau dari esensi, feminisme bicara soal bagaimana memperjuangkan hak perempuan. Ekspresinya bisa berbeda-beda based on the situation, tergantung budayanya masing-masing.

Kita harus berangkat dari esensi feminis itu sendiri dan ekspresikanlah bagaimana kamu memperjuangkan hak-hak perempuan. Dalam konteks feminis muslim, mereka menghadirkan reinterpretasi dari teks-teks agama supaya dikembalikan pada keadilan sebagaimana cita-cita Islam.

Ekspresi di sini bisa beda dengan di Barat sana. Contohnya, kita lihat Kartini Kendeng, bagaimana perempuan berjuang melawan perampasan tanah. Lalu, ada model-model Indonesia Feminis, ada juga  model-model Mubadalah.

Itu adalah ekspresi dan ekspresi itu beda-beda. Jadi, kita enggak boleh terjebak pada istilah, apalagi pada ekspresi.

Kita harus berangkat dari esensi feminis itu sendiri dan ekspresikanlah gimana kamu memperjuangkan hak-hak perempuan. Dalam konteks feminis muslim, mereka menghadirkan reinterpretasi dari teks-teks agama supaya dikembalikan pada keadilan sebagaimana cita-cita Islam.

Jadi, Islam tidak hanya hadir untuk laki-laki. Laki-laki enak, perempuan dikontrol, ujung-ujungnya perempuan banyak di neraka, laki-laki banyak di surga dapat bidadari. Enggak gitu.

Baca juga: Apakah Feminisme Bisa Selaras dengan Ajaran Islam?

Sekarang narasi-narasi anti feminis sudah meluas. Para feminis, orang-orang yang mendukung pengesahan RUU PKS sering dibilang SJW atau sesat. Bagaimana caranya melawan narasi-narasi anti feminis ini?

Tantangan kita soal pengesahan RUU PKS terutama terletak pada kelompok yang mengatasnamakan agama. Sebetulnya, kalau kita mengambil ayat Al-Qur’an dalam konteks menjembatani atau berdakwah, kita harus melakukan proses penyadaran dengan cara yang edukatif. Terakhir, boleh berdebat jika berdebat itulah hal yang terbaik.

Jika mereka menolak dengan menggunakan argumentasi agama, kita juga harus menggunakan bahasa yang mereka gunakan. Tapi kadang, menggunakan bahasa yang mereka gunakan juga belum tentu diterima. Kenapa? Karena mereka memiliki sifat yang eksklusif, sulit untuk terbuka dengan pemahaman baru. Kalau sudah terdoktrin, dicuci otaknya, ya sudah sulit.

Tapi, masih ada upaya yang bisa kita lakukan dalam konteks dukungan terhadap RUU PKS. Kita bisa menggunakan narasi bahwa Islam mengecam kekerasan seksual; Ada hadis La Darar wa La Dirar, “Tidak boleh membuat orang menjadi mudarat, rusak fisik, psikis, ekonomi, seksual, dan tidak boleh membuat rusak orang lain”.

Atau bagi teman teman feminis, cocok banget nih memakai dalil ini: Unshur akhooka dzooliman au madzluuman.“Tolonglah saudaramu yang didzalimi atau berbuat dzalim”. Saya yakin nih, orang-orang yang menolong, yang memperjuangkan RUU PKS untuk korban, mereka akan masuk surga. Mereka akan diberikan pahala yang setimpal oleh Allah ya karena itu kata Nabi. ‘Tolonglah saudaramu’, itu tuh perintah. Tolonglah saudaramu yang mengalami kekerasan seksual ibaratnya, dan pelaku untuk mencegah mereka melakukan kekerasan seksual.

Kalau kita melihat kemungkaran, kalau kita melihat kekerasan seksual, kita harus menolong dengan tangan kita sendiri. Kita bisa maknai dengan melakukan advokasi atau pendampingan langsung, bisa dengan pencegahan, atau setidaknya fabil ikhsani, yaitu dengan omongan atau dakwah. Paling tidak, dakwah kasih campaign lah istilahnya di media sosial.

Ilustrasi oleh Karina Tungari 

Jasmine Floretta V.D. adalah seorang BTS ARMY dan pencinta kucing garis keras. Sedang menjalani studi S2 di Kajian Gender UI dan memiliki minat mendalam pada kajian tentang penggemar dan isu terkait peran ibu.