Women Lead
June 09, 2021

Sekolah Berperan Penting Bentuk Cita-cita, Tentukan Karier Anak Pekerja Migran

Sebagian anak pekerja migran atau TKI ingin memilih pekerjaan seperti orang tuanya karena upah lebih besar, tetapi mereka masih abai terhadap risiko buruk menjadi pekerja migran.

by Ike Herdiana
Issues
Buruh_Migran_TKI_Pekerja Migran_TKW_KarinaTungari
Share:

Aneka kisah tenaga kerja Indonesia (TKI) selama bekerja di luar negeri pernah kita dengar. Sebagian dari mereka beruntung mendapatkan majikan yang baik, fasilitas libur kerja memadai, serta penghasilan tinggi yang sebagian besar dikirim ke keluarga di Indonesia. Namun, ada pula cerita-cerita tentang mereka yang sulit mendapat penghidupan dan perlakuan layak dari sang majikan, sebagian sampai mengalami penyiksaan atau meninggal.

Selain cerita di perantauan, para “pejuang devisa” tersebut juga meninggalkan cerita di dalam negeri. Cerita yang berpengaruh bagi orang-orang yang ditinggalkan, setidaknya anak-anak mereka.

Dari pengamatan saya di dua daerah basis TKI di Malang dan Blitar, Jawa Timur, saya mendapati fakta bahwa anak-anak yang tinggal di sana berharap bisa mengikuti jejak orang tuanya menjadi pekerja migran dan meninggalkan kesempatan untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.

Lewat tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa masih ada waktu untuk memikirkan kesiapan atau bahkan meninjau ulang harapan tersebut. Saya juga menulis bagaimana pihak sekolah dapat berkontribusi terhadap kondisi ini.

Data terkini dari Bank Dunia menunjukkan setidaknya ada 9 juta  pekerja migran Indonesia. Pada 2017, jumlah remitansi dari pekerja migran mencapai Rp108 triliun. Angka ini kurang lebih setara dengan satu persen total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Menurut data Bank Dunia, pekerja migran Indonesia yang pernah bekerja sebelum bermigrasi, biasanya memperoleh penghasilan empat sampai enam kali lebih tinggi di luar negeri. Data survei terbaru menunjukkan bahwa pekerja migran dapat memperoleh upah bulanan rata-rata sebesar Rp3,7 juta, atau sekitar empat kali upah rata-rata mereka sebelum bermigrasi.

Upah yang tinggi adalah salah satu penyebab mengapa anak-anak pekerja migran ingin mengikuti jejak orang tuanya. Pada 2016, upah minimum regional di tingkat nasional hanya mencapai Rp1,9 juta.

Tidak ada data yang pasti mengenai jumlah anak pekerja migran. Namun Komisi Perlindungan Anak Indonesia memperkirakan angkanya mencapai 11,2 juta anak.

Baca juga: Nasib Anak Luar Nikah Pekerja Migran dengan WNA

Cita-cita Anak Ingin Jadi Pekerja Migran

Dalam sebuah penyuluhan tentang bahaya perdagangan manusia (human trafficking) di sebuah sekolah menengah atas di Malang Selatan dan Blitar, saya mendapat kesempatan untuk berdialog dengan beberapa anak pekerja migran. Dari obrolan tersebut, saya melihat adanya kecenderungan siswa-siswa di wilayah basis pekerja migran untuk memiliki cita-cita ingin menjadi pekerja migran.

Dalam persepsi mereka, pekerja migran di luar negeri memiliki pekerjaan yang enak dan gaji yang tinggi. Dengan gaji tinggi, mereka berharap bisa mengirim uang ke kampung untuk membangun rumah, membeli sawah, sepeda motor, dan harta benda lainnya.

Salah satu yang saya wawancarai adalah “Dita”. Dia adalah siswi berusia 16 tahun yang tinggal bersama neneknya di Blitar. Ibunya seorang pekerja migran di Malaysia, sementara ayahnya menikah lagi dan tinggal di luar Jawa.

Dita selalu antusias mengikuti praktik kerja lapangan yang diselenggarakan sekolah. Menurutnya, dia membutuhkan pengalaman kerja untuk bekerja setelah lulus SMA. Ia bercita-cita ingin seperti ibunya, pekerja migran di luar negeri yang setiap pulang membawa uang banyak. Ia ingin memiliki uang banyak dan dianggap sukses.

Ada lagi “Sani”, seorang siswi yang berumur 17 tahun. Dia juga ingin juga menjadi pekerja migran. Ibunya adalah pekerja rumah tangga di Hong Kong. Menurut dia, menjadi pekerja migran akan menghasilkan banyak uang. Lagi pula, bekerja sebagai pekerja rumah tangga adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Sebaliknya, pekerjaan di dalam negeri jauh lebih berat dengan gaji yang lebih sedikit. Sani merasa kondisi ekonomi keluarganya membaik setelah ibunya menjadi pekerja migran.

Mayoritas anak pekerja migran berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Tak heran jika kemudian mereka melihat bahwa menjadi pekerja migran adalah satu-satunya cara yang bisa memperbaiki kondisi perekonomian setelah melihat contoh keberhasilan orang tua mereka. Dengan kata lain, orang tua menjadi panutan anak-anak pekerja migran dalam menentukan karier.

Risiko Menjadi Pekerja Migran yang Terkesampingkan

Dalam bayangan anak-anak pekerja migran, bekerja seperti orang tua mereka sebagai pekerja domestik dapat melepaskan diri dari jeratan kemiskinan.

Tapi apa benar demikian? Apakah menjadi pekerja migran adalah satu-satunya cara agar bisa lepas dari kemiskinan?

Anak-anak tersebut harus memahami bahwa menjadi pekerja migran memiliki risiko yang tinggi. Menurut Human Rights Watch, para pekerja migran yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) menghadapi berbagai macam perlakuan kejam dan eksploitasi, termasuk perlakuan kejam secara fisik dan seksual, pengurungan paksa, upah tidak dibayar, tidak diberi makan dan fasilitas kesehatan, serta jam kerja yang sangat panjang tanpa hari libur. PRT dan anak-anak merupakan pekerja yang sangat berisiko menerima perlakuan kejam tersebut.

Komnas HAM juga memberi gambaran menyedihkan mengenai TKI, terutama pekerja rumah tangga. Banyak di antara mereka yang mengadukan masalah penyiksaan, pemerkosaan, perbudakan, dan kekejaman lainnya.

Menurut data terakhir dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), ada 2.949 aduan kasus TKI diterima dari Januari sampai Agustus tahun lalu. Terkait data TKI yang meninggal di luar negeri, ada 145 TKI meninggal dunia selama periode tersebut. Rata-rata penyebab meninggal adalah TKI mengalami sakit, kecelakaan kerja, kekerasan, dan lain sebagainya.

Baca juga: ‘Help is On The Way’ Potret Harapan Buruh Migran Indonesia di Taiwan

Kenyataan tersebut seharusnya juga diperhitungkan oleh anak-anak pekerja migran sebelum akhirnya memutuskan untuk menyusul orang tuanya menjadi pekerja migran.

Pengetahuan Terbatas Soal Pilihan Karier

Anak pekerja migran mungkin tidak banyak mengetahui kesempatan luas yang mereka miliki di samping menjadi pekerja migran seperti sang orang tua. Sistem pendidikan kita perlu memberikan sudut pandang yang luas tentang pilihan karier kepada mereka. Karier tidak terbatas pada pekerja migran atau pekerja domestik.

Selain itu, mereka harus menyadari pentingnya mengenyam pendidikan yang tinggi untuk menjamin masa depan mereka. Jika nanti mereka ingin menjadi pekerja migran, mereka harus memiliki kesiapan yang mantap baik pengetahuan, keterampilan, mental, dan semuanya bisa didapat dengan bersekolah.

Perlu diingat juga bahwa Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI menetapkan bahwa usia calon TKI setidaknya berusia 21 tahun ketika ingin bekerja untuk perseorangan.

Dalam hal ini, anak-anak yang ketika lulus masih pada rentang usia 18-19 tahun, tentu belum bisa berangkat menjadi TKI jika ia ingin bekerja untuk majikan perseorangan. Jika dipaksakan, akan meningkatkan risiko keberangkatan ilegal melalui pemalsuan identitas, seperti yang banyak terjadi pada kasus perdagangan manusia.

Data dari pihak kepolisian dari 2011 hingga 2017 menunjukkan ada 422 kasus perdagangan anak dengan kasus tertinggi yakni eksploitasi seksual. Bahkan selama Januari sampai April 2018 bertambah lagi 32 kasus.

Hal ini menambah pentingnya anak-anak disadarkan melalui peningkatan wawasan karier sebelum memutuskan untuk menjadi pekerja migran.

Bagaimana Peran Sekolah dalam Membentuk Cita-cita Anak?

Peran sekolah dalam memberikan bimbingan dan pendampingan karier bagi anak pekerja migran menjadi penting untuk dilakukan dengan serius. Berikut upaya yang bisa dilakukan sekolah dalam memberikan wawasan dan pendampingan karier pada anak pekerja migran.

  1. Eksplorasi karier

Guru dapat mendorong siswa mengeskplorasi pekerjaan yang sekiranya mereka inginkan. Mengajak mereka untuk memahami berbagai jenis pekerjaan dan melihat perbedaannya satu sama lain.

  1. Komitmen karier

Guru mengajak siswa menentukan beberapa pilihan karier dan mulai serius melihat hal tersebut sebagai impian yang harus diraih. Ini bertujuan untuk mengubah persepsi terhadap jenis pekerjaan tertentu agar mereka mampu melihat peluang berkembang di beberapa pilihan pekerjaan yang lain.

  1. Membangun keterampilan

Di antara banyak keterampilan, guru dapat mendorong siswa untuk memiliki keterampilan berelasi dengan orang lain, berkomunikasi, manajemen data dan waktu. Keterampilan tersebut penting untuk jenis pekerjaan apa pun.

  1. Memahami ketersediaan pekerjaan

Guru mengajak siswa mengenali diri sendiri melalui pemetaan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Bimbing mereka untuk menganalisis jenis pekerjaan dan memilih jalur karier spesifik yang diminati disesuaikan dengan sumber daya yang mereka miliki.

  1. Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan

Guru mendukung siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah, misalnya dalam bidang olah raga, organisasi kesiswaan, atau seni. Beri kesempatan siswa untuk mengikuti kompetisi terkait dengan minat dan bakatnya, sehingga memungkinkan untuk bertemu dengan tantangan dan orang-orang baru.

  1. Motivasi untuk berproses

Hal ini dapat dimulai dengan menciptakan atmosfer belajar mengajar positif di ruang-ruang kelas. Guru yang lebih banyak menghargai hasil kerja siswa akan meningkatkan harga diri siswa. Mendukung setiap pilihan-pilihan siswa dan mendampingi siswa ketika kesulitan, akan membantu mereka memiliki konsep diri yang positif dan terbuka terhadap banyak hal.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Ike Herdiana adalah pengajar di Universitas Airlangga.