February 1, 2023
Issues

Kenapa Remaja Lakukan ‘Self-harm’? Ini Strategi untuk Membicarakannya

Hampir 1 dari 5 remaja di seluruh dunia secara sengaja menlukai diri mereka setiap tahunnya.

Avatar
  • January 19, 2023
  • 8 min read
  • 172 Views
Kenapa Remaja Lakukan ‘Self-harm’? Ini Strategi untuk Membicarakannya

Peringatan konten: artikel ini membicarakan praktik melukai diri sendiri atau self-harm. Jika kamu sedang dalam kondisi tidak baik, sangat disarankan untuk tidak melanjutkan membaca.

Emosi adalah hal yang kompleks. Emosi membuat manusia jatuh cinta, menyatakan perang, dan ternyata juga, melakukan praktik melukai diri sendiri atau self-harm.

Sulit membayangkan suatu era di masa lampau ketika orang dewasa muda lebih tertekan dan stres ketimbang saat ini. Data terkini dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 40 persen siswa SMA di negara tersebut melaporkan mereka merasa senantiasa sedih atau putus harapan selama setahun terakhir. Dalam survei yang sama, sekitar 20 persen melaporkan mereka serius mempertimbangkan bunuh diri. Di seluruh dunia, sekitar 17 persen anak muda berusia 12-18 tahun sengaja menyakiti diri mereka setiap tahunnya.

Berdasarkan berbagai sumber, anak muda tampaknya memang mengalami level tekanan dan stres emosional yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga: Mayoritas Korban Kekerasan Seksual Berusia 10-19 Tahun, Orang Dekat, Terlambat Dilaporkan

Manusia cenderung mencari kesenangan dan menghindari rasa sakit. Jika demikian, kenapa beberapa orang sengaja menyakiti diri sendiri? Dalam metaanalisis terbaru, suatu ringkasan riset-riset yang saya terbitkan bersama kolega-kolega di jurnal Nature Human Behavior, kami melaporkan bahwa orang-orang merasa lebih baik atau lega sesaat setelah mereka melukai diri sendiri atau memikirkan tentang bunuh diri.

Kami adalah kandidat doktor dalam bidang psikologi klinis di University of Washington, AS yang meneliti tentang alasan anak muda melakukan self-harm, dan juga seorang psikolog klinis yang mempelajari penyalahgunaan obat di kalangan orang dewasa muda. Riset kami menunjukkan bahwa berkurangnya tekanan emosional menyusul tindakan self-harm dan pikiran bunuh diri, kemungkinan justru mempertahankan pemikiran dan perilaku semacam ini.

Tantangan Mempelajari Self-harm

Dalam bukunya “About Behaviorism,” psikolog tersohor B.F. Skinner memperkenalkan istilah dan teori “penguatan” (“reinforcement”) untuk menjelaskan mengapa perilaku tertentu lebih mungkin terjadi jika perilaku yang sama sebelumnya menghasilkan kejadian atau perasaan yang diinginkan.

Selama dua dekade ke belakang, beberapa teori berhipotesis bahwa perilaku melukai diri sendiri terjadi dengan konsep yang sama. Artinya, jika seseorang mengalami rasa lega dari penderitaan emosional setelah mereka menyakiti diri sendiri, mereka lebih mungkin untuk mengulangi perilaku tersebut di masa depan.

Perilaku melukai diri sendiri adalah hal yang sulit diteliti. Hingga satu dekade ke belakang, kebanyakan peneliti menanyakan orang-orang untuk merefkeksikan apa yang sedang mereka pikirkan atau rasakan ketika mereka melakukan tindakan self-harm. Namun, episode-episode tersebut bisa jadi terjadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu.

Baca juga: Pendampingan Korban Kekerasan Seksual Anak, Cerita Advokat Gender

Padahal, kita sebagai manusia luar biasa payah dalam melaporkan perilaku kita sendiri secara akurat, terutama ketika kita mencoba menjelaskan kenapa hal-hal terjadi. Utamanya, sangat menantang bagi peneliti untuk mendapat kronologi peristiwa yang jelas, yang berarti sulit pula untuk memetakan perasaan seseorang seketika sebelum atau setelah mereka melukai diri sendiri.

Belum lama ini, peneliti telah mencoba mengisi celah tersebut dengan memanfaatkan maraknya penggunaan smartphone. Dalam studi-studi tersebut, para peneliti meminta partisipan untuk mengisi survei singkat tentang perasaan mereka beberapa kali dalam sehari melalui ponsel seiring menjalani kegiatan sehari-hari.

Metaanalisis kami meninjau 38 studi berbasis survei semacam itu, dengan data yang didapat dari peneliti di AS dan Eropa, melibatkan 1.644 partisipan. Dalam semua studi, partisipan menilai intensitas emosi mereka dan mengindikasikan apakah mereka memikirkan tentang tindakan self-harm dalam beberapa jam terakhir.

Kami menemukan bahwa partisipan melaporkan level tekanan dan stres yang lebih tinggi sesaat sebelum mereka melakukan self-harm atau memikirkan tentang bunuh diri, dan melaporkan level tekanan yang sangat berkurang sesaat setelahnya.

Artinya, rasa lega atau lepas dari emosi yang penuh tekanan dan stres berperan sebagai faktor penguat yang besar, dan kemungkinan meningkatkan probabilitas orang untuk senantiasa mengalami pemikiran dan perilaku self-harm. Ini juga menyiratkan bahwa pengobatan dan perawatan perlu fokus pada bagaimana membantu orang-orang mengganti tindakan self-harm dengan cara-cara alternatif untuk meredakan stres.

Mengingat sekitar 40 persen orang yang melakukan percobaan bunuh diri tidak mendapatkan bantuan kesehatan mental, kami merasa penting membagikan strategi untuk membantu para individu yang rentan melakukan self-harm supaya bisa berbicara tentang emosi mereka, dan menawarkan mereka sumber daya untuk mencari tenaga bantuan profesional.

Strategi untuk Membicarakan Self-harm

Para remaja yang melakukan self-harm dan/atau memikirkan tentang bunuh diri adalah kelompok yang beragam – tentu saja setiap manusia itu unik. Namun, riset kami menemukan bahwa self-harm memegang peran besar untuk anak muda: membantu meregulasi emosi.

Bagi remaja yang mengalami pikiran dan perilaku self-harm, penting untuk mencari dan menemukan orang dewasa dan/atau rekan sejawat yang mereka rasa bisa menjadi teman dekat. Survei CDC sebelumnya menunjukkan bahwa anak muda yang merasa terkoneksi dengan orang lain, kemungkinannya jauh lebih rendah untuk memikirkan atau mencoba bunuh diri, ketimbang mereka yang tidak punya koneksi sosial.

Oleh karena itu, memastikan bahwa remaja merasa diperhatikan dan didukung, atau bahwa mereka merasa “diterima” di rumah maupun sekolah, bisa jadi satu cara untuk melindungi mereka dari tindakan self-harm.

Baca juga: Kenapa Netizen Mudah Marah pada Kasus Perselingkuhan?

Kami menemukan dalam pekerjaan klinis kami dengan anak muda yang melakukan self-harm, bahwa penting untuk menyeimbangkan antara memvalidasi emosi mereka – atau dengan kata lain, mengakui dan secara tepat memahami perasaan mereka – namun tidak merespons tindakan self-harm dengan cara-cara yang mungkin secara tidak sengaja justru membuatnya semakin parah. Misalnya, jika remaja merasa satu-satunya cara mereka mendapat dukungan atau validasi adalah dengan melakukan self-harm, penting untuk memastikan bahwa validasi juga diberikan ketika mereka tidak melakukan self-harm.

Berikut adalah beberapa cara penting untuk memberikan validasi dan menunjukkan dukungan:

  • Perhatikan: Kita semua tahu bagaimana rasanya berbicara dengan seseorang yang tidak memperhatikan atau malah sibuk melihat ponsel mereka. Lakukan kontak mata dan tunjukkan kita tertarik dengan apa yang dirasakan seseorang.

  • Refleksikan kembali: Rangkum apa yang disampaikan orang tersebut untuk mendemonstrasikan bahwa kita memang mendengarkan dan meresapi informasi. Kita bisa mengatakan hal seperti, “Sebentar, aku ingin memastikan bahwa aku benar-benar memahami…” kemudian parafrasekan apa yang kita dengar.

  • Coba untuk baca pikiran mereka: Bayangkan kita ada di posisi orang itu atau tebak apa yang mereka mungkin rasakan, bahkan jika mereka belum mengatakannya secara gamblang. Kita bisa mengatakan semacam, “Aku membayangkan kamu pasti merasa seakan tidak ada orang yang bisa memahami penderitaanmu.” Jika remaja tersebut mengatakan bahwa kita salah, kita sebaiknya berhenti mencoba menebak dan bisa mencoba lagi nanti.

  • Berikan validasi berdasarkan kejadian sebelumnya: Tunjukkan bahwa kita memahami bagaimana perasaan mereka bisa masuk akal berdasarkan apa yang kita tahu tentang orang tersebut. Misalnya, kita bisa menanyakan, “Apakah ada saat-saat tertentu ketika kamu pernah mengalami hal serupa dengan saat ini?” Atau kita bisa mengatakan, “Iya sih, aku bisa memahami kenapa kamu bisa takut gagal dalam tes ini, mengingat kamu belajar dengan keras di ujian yang sebelumnya tapi hasilnya tidak sesuai harapan.”

  • Akui juga bagaimana perasaan-perasaan tersebut masuk akal di masa ini: Apakah orang lain dalam posisi yang persis sama mungkin merasakan hal yang sama? Misalnya, “Setiap orang yang melalui hal itu pasti takut.” Ini mengkomunikasikan ke lawan bicara bahwa sama sekali tak ada yang salah dengan pikiran atau perasaan mereka. Tentu, kita tak akan bisa memvalidasi segala hal; misalnya, kita sebaiknya tidak memvalidasi bahwa tindakan self-harm adalah respons efektif terhadap tekanan dan stres. Namun, kita bisa memberikan validasi bahwa self-harm bisa dipahami karena bisa memberikan kelegaan emosional sementara, meskipun ia menyebabkan banyak masalah secara jangka panjang.

  • Bersikaplah secara tulus: Tunjukkan bahwa kita otentik dan cobalah menunjukkan ke orang tersebut bahwa kita menghormati dan peduli tentang mereka. Perlakukan mereka seperti orang dengan derajat yang sama yang juga punya kapasitas untuk membantu mengatasi masalah mereka terkait self-harm.

Mengulurkan Tangan

Penting bagi orang untuk tahu bahwa bantuan selalu tersedia. Di AS, misalnya, ada hotline bunuh diri, yakni National Suicide Prevention Lifeline (800-273-8255), yang gratis bagi siapapun yang mengalami tekanan emosional. Ada juga Now Matters Now yang merupakan sumber daya gratis lainnya yang menawarkan strategi penanganan untuk mengelola pemikiran self-harm dan bunuh diri, diberikan oleh individu-individu yang pernah mengalaminya sendiri.

Riset terdahulu menunjukkan bahwa intervensi perilaku tertentu, seperti terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy) – suatu pendekatan yang fokus pada irisan antara pemikiran, emosi, dan perilaku – atau terapi perilaku dialektika (dialectical behavioral therapy) – suatu paket pengobatan komprehensif yang mengajarkan kesadaran penuh (mindfulness), regulasi emosi, toleransi tekanan, dan kemampuan penanganan interpersonal – efektif untuk mengurangi pemikiran dan perilaku self-harm. Kedua pengobatan tersebut didesain untuk membekali individu dengan kemampuan untuk mengenali emosi mereka sekaligus mengubah perasaan mereka tanpa perlu melakukan self-harm.


Jika kalian atau orang yang kalian kenal memiliki pikiran untuk bunuh diri, organisasi advokasi pencegahan bunuh diri Into The Light menyediakan panduan dan daftar beberapa hotline yang aktif di Indonesia. Cek situs mereka untuk pembaruan berkala.The Conversation

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Editor:  Kevin Kuehn and Kevin King
Avatar
About Author

Kevin Kuehn and Kevin King

Kevin Kuehn, PhD Student in Clinical Psychology, University of Washington dan Kevin King, Professor of Psychology, University of Washington

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *