July, 19 2017
Tentang Rahasia

Joko dan Tini saling menyimpan rahasia mengenai usaha mereka menambah penghasilan keluarga.

by Mutia Fauzia
Culture
Share:
Joko namanya, sudah beristri dan beranak dua. Tak jelas kerja apa. Serabutan, apa saja dia kerjakan. Asal bisa buat makan anak istri, katanya. Dua minggu sekali dia membantu tetangganya yang paling kaya untuk bersih-bersih kebun rumah dengan bayaran yang lumayan, Rp 250.000. Bisa untuk makan sampai lima hari dan beli rokok sebungkus. Kadang ke sawah milik bapaknya, kadang juga bantu tetangga bikin batu bata. Pokoknya biar bisa makan. Urusan lain belakangan. Oh ya, rokok tetap penting, tentu saja. Tidak merokok sehari bisa kering mulutnya. Marah-marah seharian, kan kasihan anak istri jadi korban.

Rumahnya di ujung selatan kampung. Dia tinggal bersama orangtuanya. Bapak ibunya masih sehat jadi bukan tanggungannya, hanya anak dan istrinya saja yang jadi tanggungan hidupnya. Itu saja dirinya masih tertatih-tatih untuk membayar biaya sekolah kedua anaknya. Kalau orangtuanya juga dia tanggung bisa-bisa dia berhenti merokok. Tak sudilah. Toh bapak-ibunya juga nggarap sawah milik tetangganya yang paling kaya, sementara Joko hanya kerja serabutan kecil-kecilan, tak pasti. Joko tidak makan tak apa, yang penting anak dan istrinya makan. Dia merokok saja cukup, dan sesekali ngopi di warung kalau ada uang sisa.

Sering Joko berandai-andai. Andai dia dulu menamatkan sekolahnya di STM, tidak putus di jalan hanya gara-gara ikut tawuran dengan sekolah sebelah, bisa jadi dia sudah kerja di bengkel sekarang. Anak dan istrinya pasti lebih makmur. Bisa beli baju baru selain di hari Lebaran. Bisa makan daging kalau dapat bonus lembur. Tak perlulah dia ngutang sana-sini, pinjam duit kas muda-mudi kampung cuma buat bayar sekolah anak-anaknya. Tak perlu lah dia protes ke sekolah, marah-marah hampir banting meja gara-gara anaknya disuruh cuti sekolah karena nunggak bayaran tiga bulan. Tak perlulah dia sebal dan berteriak-teriak di kantor sekolah anaknya, “Jare sekolah gratis? Ngapusi, asu kabeh”, memancing keributan dan membuat kedua anaknya malu.

Andai saja dia dulu tidak kebelet kawin dengan Tini, istrinya. Hingga kemudian lahirlah kedua anaknya, buah desah kenikmatan Joko dan Tini yang bersifat sementara. Bahkan kini desah kenikmatan itu terhenti karena Tini tak ingin menambah anak lagi. “Halah mas, nek kebobolan meneh arep mbok pakani opo? Wegah aku, wegah,” begitu alasannya. Kalau Tini sudah begitu, dia bisa apa? Seandainya dia dulu tak kebelet kawin, anaknya tidak akan terlanjur dua.

Kerap dia mengutuk nasib dan keadaan, sering pula dia heran, dirinya tak pernah salat, apalagi mengaji. Mengenal agama pun tidak. Wajar bila memang Tuhan yang istrinya percaya memberinya hidup sedemikian rupa. Tapi istrinya? Sosok yang dicintainya itu dengan rajinnya bersujud menyembah Tuhannya. Lima kali sehari tak pernah lewat. Pengajian di masjid rajin sekali dia sambangi. Bisa-bisanya justru berakhir kawin dengan dirinya, lelaki tidak tahu diri.



Kok urip e dewe ngene banget yo Mas, Gusti Allah jane piye? Ngerti awakdhewe urip opo ora to? Mosok yo Gusti Allah lali,” ujar Tini di suatu sore, sepulang dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah tetangga yang paling kaya. Penghasilannya lumayan, bahkan terkadang lebih besar dari Joko. Tapi tak masalah, hal semacam itu bukan sesuatu yang pantas untuk diributkan bagi Tini dan Joko. Yang terpenting mereka bisa makan dan tidur dengan perut kenyang.

Aku ratau njaluk karo Gusti Allah Tin, dudu urusanku Gusti Allah arep menehi rejeki nggo awak e dhewe opo ora. Sing penting aku isoh urip lan nguripi anak-anakku.”
 
                                                                               ***

Joko mungkin tak pernah tahu, bahwa Tini tak hanya bekerja sekadarnya di rumah majikannya. Joko mungkin tak pernah tahu bahwa Tini memiliki pekerjaan lain yang mungkin tak pernah ia bayangkan. Joko mungkin tak pernah tahu, bahwa uang bonus yang selama ini didapatkan Tini tidak diterima dengan cuma-cuma. Tini selalu berusaha untuk menyembunyikan segalanya sebaik mungkin agar Joko tidak mengetahuinya.

Setiap hari Tini bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore. Pekerjaan yang dia lakukan tak lebih dari pekerjaan rumah tangga biasa. Menyapu rumah sekaligus halamannya, mengepel, memasak untuk makan siang, mencuci baju dan menyetrika. Namun akhir-akhir ini, dia cukup sering melakukan pekerjaan tambahan yang tak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Semuanya berawal ketika dia hendak meminjam uang kepada majikan laki-lakinya, Barjo, untuk membayar uang tunggakan sekolah anaknya.

Rasah ngutang nduk, tak menehi wae, anggep wae duit bonus, tapi koe kudu ….”

Tini masih mengingat jelas wajah penuh nafsu Barjo kala itu. Mata Barjo yang memancarkan gairah yang lama tak terlampiaskan, hidungnya yang kembang kempis serta senyumnya yang membuatnya ingin muntah seketika. Barjo memang sering kali menggoda Tini selama ia bekerja, terutama ketika istrinya, Tinah, pergi keluar untuk mengaji di masjid pada sore hari. Tini tak pernah bercerita tentang hal ini kepada Joko. Tini tahu, Joko akan naik pitam, marah-marah di rumah keluarga Barjo dan menyuruhnya berhenti bekerja. Lantas dia dan anak-anaknya harus makan apa kalau sudah begitu?

Tini tak pernah menyukai apa yang dia lakukan, apalagi menikmati. Tapi sungguh, dia tak punya pilihan. Sering kali dirinya sedih mengingat begitu terbatasnya pilihan-pilihan yang ia miliki. Dia tak akan menyalahkan Joko karena dengan sembrono telah mengawininya. Toh dirinya sendiri juga mau dan senang. Tapi Tini yang saat itu masih begitu muda dan terburu-buru tak pernah menyadari bahwa kawin tak pernah berhenti di kawin saja. Sekarang dia hanya bisa bingung dan linglung setiap uang di dompetnya tinggal Rp 5.000.

Ah, Tini yang begitu naif dan dunianya yang hanya berputar pada Mas Jokonya dan kedua anaknya. Tak bisa dia melupakan wajah Barjo ketika menidurinya. Helaan naas panjang diiringi orgasme-orgasme tak terikhlaskan yang dia lakukan. Tiap kali Barjo menelanjanginya dengan mata genitnya, ingin rasanya dia menampar wajah lelaki bangsat itu di depan Tinah, istrinya. Tapi siapalah Tini, sungguh dia tak memiliki banyak pilihan.

Koe kudu ngerti Tin, awakku wis suwe ora ngrasakke nikmat sing koyo ngene, Tinah wis bosen jare, wis kesel, asu og,” ujar Barjo sambil tersengal-sengal ketika tubuhnya yang gemuk sibuk menindih tubuh Tini di suatu waktu. Di saat-saat seperti itu Tini begitu rindu dengan Mas Jokonya, menyesal karena tak pernah mau ketika diajak berhubungan badan, menolak dengan alasan takut kebobolan. Tapi Tini tak pernah bisa memilih dan hanya bisa berjanji, sesampainya dirinya di rumah dia akan melayani Mas Jokonya dengan senang hati.
 
***

Tetapi Tini tak pernah tahu, bahwa Joko selalu mengetahui apa yang dia sembunyikan. Kemungkinan tetaplah kemungkinan, akan selalu ada kemungkinan lain yang tak pernah bisa dibayangkan, dan Joko bisa mencium gelagat mencurigakan yang dilakukan oleh Tini. Tetapi Joko memilih untuk diam. Joko tahu, istrinya tak memiliki banyak pilihan, begitu juga dirinya. Sekali waktu ketika Tini tiba-tiba dengan sukarela membiarkan dirinya disentuh kemudian bersetubuh, seketika itu juga Joko merasa aneh. Saat dia menciumi tubuh istrinya, bisa dia rasakan ada aroma lain dari tubuh Tini. Aroma laki-laki lain, aroma yang tak asing. Tetapi Joko memilih untuk pura-pura tidak tahu.

Joko tak akan  menyalahkan istrinya, toh istrinya melakukan persundalan juga untuk dia, untuk anak-anaknya. Uang bonus setelah tidur dengan Barjo cukup lumayan untuk menambal kebocoran keuangan keluarga mereka yang amburadul. Tunggakan sekolah kedua anaknya pun lunas karena uang bonus itu. Joko tak merasa memiliki hak untuk marah kepada Tini, karena bisa jadi dia sendiri yang menjadikan Tini seorang sundal. Joko memilih untuk diam, karena dia tak ingin harga diri Tini terluka.

Joko kerap memandangi wajah Tini ketika tertidur. Terlihat begitu lelah sekaligus damai. Sering dirinya merasa bersalah tetapi terlalu gengsi untuk mengungkapkan pada Tini. Tentu saja dirinya tak rela harus berbagi tubuh Tini dengan Barjo, juragan kampung mata keranjang itu. Tapi sungguh dirinya pun tak punya banyak pilihan. Jika dirinya harus menuntut Barjo, dia tak punya modal yang cukup. Bisa jadi keluarganya makin sengsara. Biarlah dirinya jadi lelaki pengecut.

Biarlah keluarganya berjalan dan berkehidupan seperti ini. Joko sadar, mungkin anak-anaknya tak akan memiliki hidup yang jauh lebih baik dari dirinya, namun yang jelas dia tak akan membiarkan anak-anaknya melakukan kesalahan yang sama dengan dirinya. Kedua anaknya, Biyung dan Buyung, biar mereka berbahagia tanpa mengenal peliknya dunia. Bermain tanpa prasangka. Tak akan Joko biarkan kedua anaknya tahu carut-marutnya kondisi keluarga mereka. Kalaupun sering mendengar bisik-bisik tetangga, toh sepertinya kedua anaknya cukup memiliki bakat masa bodoh dalam diri mereka.

Biar, biarkan saja rahasia tetap menjadi rahasia. Seperti apa yang akan Joko lakukan malam ini, dan setiap malam Minggu lainnya. Pukul 22.30, istrinya sudah tidur lelap, begitu juga kedua anaknya. Joko berjalan mengendap, mendekati meja yang tak layak disebut meja rias milik istrinya. Mengambil gincu dan dempul, kemudian membuka lemari. Merogoh bagian paling bawah lemari, tempat dirinya menyimpan barang-barang paling pribadinya. Berjingkat dirinya keluar rumah, menuju kamar mandi yang berjarak lima meter dari rumahnya. Berganti pakaian dengan kaos kutang dan rok mini, memasang wig yang di belinya di salon seharga Rp 50.000. Dan Joko pun menjadi Susanti, siap mencari nafkah untuk sesuap nasi.
 
 Mutia Fauzia adalah mahasiswi Sosiologi yang menikmati menulis, membaca, menonton film dan tidur yang banyak.