August 30, 2018
Xpedisi Feminis: Jati Diri Perempuan Nusantara dalam Islam Berkeadilan Gender

Sebuah program perjalanan bertujuan memperkenalkan warisan budaya dan agama yang kaya akan nilai-nilai feminisme.

by Elma Adisya, Reporter
Issues // Politics and Society
Share:

“Feminisme itu produk Barat! Bukan berasal dari Indonesia! Apalagi dalam Islam!”

Sudah terlalu sering kita mendengar kalimat seperti ini dilontarkan oleh pihak yang tidak menyukai gerakan perempuan progresif di Indonesia. Mereka menuduh gerakan ini berasal dari pemikiran-pemikiran barat, dari tokoh-tokoh feminis di luar Indonesia, padahal jauh sebelum nama Indonesia itu ada, perempuan-perempuan nusantara sudah mempraktikkannya untuk menjadi diri sendiri.

“Jadi kalau ada yang bilang feminis itu berasal dari Barat, bukan. Feminisme itu bukan berasal dari barat, tetapi dari diri kita sendiri. Dari diri kita yang ingin tahu, kita ini lahir sebagai perempuan untuk apa sih?” ujar Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, Mariana Amiruddin, dalam salah satu sesi acara Xpedisi Feminis di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, akhir pekan lalu.

Xpedisi Feminis merupakan sebuah program perjalanan yang digagas oleh sekelompok perempuan yang memiliki  ketertarikan terhadap isu perempuan dan feminisme. Ekspedisi ini memiliki tujuan untuk memperkenalkan kembali warisan leluhur Indonesia yang kaya akan nilai-nilai feminisme. Acara ini baru pertama kali diadakan dan Cirebon menjadi tujuan pertama karena memiliki sejumlah pemimpin agama progresif dan paham isu gender. Di kota pelabuhan ini pula diadakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang pertama pada 2017.

Mariana mengatakan bahwa dari dulu hingga saat ini, perempuan terbiasa mempelajari segala hal yang berasal dari sudut pandang laki-laki. Maka dari itu, perempuan asing dengan diri mereka sendiri.

Ia menambahkan bahwa ada banyak teks kuno yang membahas mengenai pengalaman perempuan nusantara yang jika dilihat dan dikaji kembali, mereka juga termasuk tokoh-tokoh yang feminis.

Perempuan-perempuan nusantara yang tertulis dalam serat, babad, prasasti, dan teks kuno lainnya, merupakan tokoh-tokoh ksatria perempuan bahkan raja perempuan yang memiliki kesaktian tinggi seperti Raja Tribhuwana Tunggadewi dari Kerajaan Majapahit, Ratu Kalinyamat dari Jepara, dan Nyi Ratu Mas Gandasari dari Aceh.

“Sayangnya, teks-teks  yang membicarakan tentang raja, ratu, dan ksatria perempuan pada era-era tersebut masih tersembunyi. Sudah saatnya kita perbanyak narasi mengenai tokoh-tokoh perempuan Indonesia di era tersebut,“ ujar Mariana.

Usaha-usaha merebut tafsir agama

Stereotip lainnya yang sering dilontarkan oleh kelompok anti-feminis adalah bahwa “feminisme tidak sejalan dengan Islam”, dan acara Xpedisi Feminis ingin melawan argumen tersebut.

“Islam itu adil dan setara gender, dan saya mengatakan Nabi Muhammad itu feminis,” ujar Wakil Direktur satu Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Kyai Haji Marzuki Wahid.

Marzuki menuturkan, Jazirah Arab di masa sebelum kedatangan Islam memiliki budaya yang sangat menyudutkan perempuan, seperti poligami yang jumlahnya tidak terbatas, mengubur bayi perempuan hidup-hidup, perempuan diperdagangkan dan diwariskan, serta berbagai macam budaya misoginis lainnya. Setelah Islam datang, budaya-budaya ini sedikit demi sedikit berubah, ujar Marzuki. Pada masa tersebut Nabi Muhammad SAW sering kali membela hak-hak perempuan melalui hadis juga ayat-ayat yang diturunkan Allah SWT.

“Nilai manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin tetapi dari ketakwaannya. Statusnya setara, tidak dibedakan laki-laki atau perempuan,” tambahnya sambil mengutip dari surat Alhujurat ayat 3. Ayat tersebut adalah salah satu ayat dalam Alquran yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang berkeadilan gender, yang juga ditunjukkan pada wasiat Nabi ketika berhaji, di depan 124.000 orang di Arafah.

“Di tengah-tengah kondisi di mana perempuan diperdagangkan, Nabi mengatakan ‘Saya berwasiat kepada kalian untuk berlaku baik kepada perempuan karena perempuan itu seperti tawanan  dan kamu tidak bisa memperlakukan perempuan dengan cara apa pun kecuali dengan berbuat baik. Perempuan punya hak atas kamu dan kamu juga punya hak atas perempuan’. Yang disuarakan pada waktu itu menurut saya sebuah deklarasi keadilan dan kesetaraan gender, dan ini sangat hebat,” tutur Marzuki.

Tafsir ayat-ayat yang berkeadilan gender tidak pernah diangkat oleh sebagian besar ulama, karena mereka menafsirkan ayat Alquran dan hadis Nabi dengan cara pandang yang patriarkal, ujar Kyai Haji Faqihuddin Abdul Kodir dari Fahmina. Ayat yang seharusnya ditujukan pada umat Islam secara umum malah ditafsirkan untuk menguntungkan salah satu jenis kelamin yaitu laki-laki, katanya.

Untuk merebut tafsir dan menyebarkan tafsir berkeadilan gender, Faqihuddin menawarkan konsep Mubadalah untuk menafsirkan teks-teks agama, hukum, dan realitas sosial. Mubadalah secara bahasa artinya tukar menukar, dan timbal balik. Perspektif ini dikembangkan untuk memosisikan baik perempuan dan laki-laki sebagai subjek yang sama dan setara di hadapan teks agama.

“Perempuan yang protes karena Qurannya dibaca oleh laki-laki bukan hanya sekarang, tapi dari zaman Nabi. Perempuan merasa tidak cukup menggunakan kata-kata ‘setiap orang’ karena sering digunakan oleh laki-laki untuk tidak menyertakan perempuan. Maka dari itu mereka protes agar disebutkan juga perempuannya,” kata Faqihuddin.

Usaha-usaha merebut tafsir ini harus dibantu dengan cara menyebarkannya lewat medium-medium yang sudah ada, tidak perlu menunggu orang lain untuk menyebarkan ilmu yang sudah didapatkan, dan kita harus memulainya dari diri sendiri.

“Praktiknya tinggal besar-besaran suara tafsir saja, kitanya kan kadang-kadang enggak mau. Sementara mereka tidak belajar langsung ceramah, tidak ke pesantren langsung jadi ustaz. Langsung bikin status Islam adalah, Islam adalah. Dan kitanya tidak mau,” ujar Faqihuddin yang juga penulis buku 60 Hadis Hak-Hak Perempuan.

Langkah-langkah untuk  menyebarkan tafsir berkeadilan gender ini juga dilakukan oleh Pondok Pesantren Kebon Jambu yang juga menjadi tempat persinggahan terakhir dari acara Xpedisi Feminis. Tahun lalu Pesantren ini menjadi tempat diadakannya KUPI, yang dihadiri oleh banyak ulama perempuan bahkan dari luar negeri.

“Oleh-oleh dari Kongres Ulama Perempuan kemarin itu salah satunya adalah Ma’had Aly. Ma’had Aly ini dibangun untuk mencetak ulama-ulama baik perempuan maupun laki-laki yang memiliki perspektif gender, pluralisme, hak asasi, demokrasi,” ujar Nurul Bahrul Ulum salah satu panitia dari Xpedisi Feminis, juga sekaligus pendiri dari komunitas Cherbon Feminis.

Ma’had Aly merupakan pendidikan berbasis pesantren yang setara dengan jenjang pendidikan S1 dan berada di bawah Kementerian Agama. Program ini secara khusus membahas fiqih (yurisprudensi Islam) berkeadilan gender, sejalan dengan dengan pemikiran pemimpin Pondok Pesantren Kebon Jambu, Nyai Hajjah Masriyah Amva  yang dikenal sebagai ulama perempuan feminis.

“Perempuan Islam wajib, fardhu ain (kewajiban individu), menjadi feminis. Perempuan yang bergantung pada Allah. Tidak ada satu ulama besar pun yang akan menentang karena ini ajaran yang dianjurkan oleh Nabi Adam sampai Rasul. Khususnya perempuan yang senang bergantung pada laki-laki. Budaya itu harus dihilangkan,” ujarnya.

Baca juga tentang sunat perempuan, dari tradisi ke medikalisasi.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo