October 24, 2019
Dialog atau Diblok? Aktivis Denmark Beri Tips Keluar dari 'Echo Chamber'

Seorang aktivis Denmark memberi tips bagaimana menghadapi orang-orang yang melontarkan ujaran kebencian terhadap kita.

by Elma Adisya, Reporter
Issues // Politics and Society
Share:

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, para ahli mengatakan agar kita tidak hidup dalam gelembung, atau hanya berbicara dengan orang-orang yang sependapat denganmu. Tapi bagaimana caranya berdialog dengan mereka yang, misalnya, melontarkan ujaran kebencian terhadapmu?

Aktivis Denmark Ozlem Cekic telah melakukannya dalam sembilan tahun terakhir ini lewat inisiatif #Dialoguecoffee, bertemu dengan orang-orang yang mengiriminya pesan-pesan kebencian, minum kopi, bahkan makan bersama di rumah mereka.

“Lewat inisiatif ini, saya menantang diri saya untuk keluar dari echo chamber saya. Selama sembilan tahun ini, saya sudah bertemu dengan 300 orang. Inilah cara saya untuk membangun jembatan di antara saya dengan mereka, agar komunikasi tetap berjalan dua arah,” ujar Cekic, dalam diskusi “Secangkir Kopi, Secercah Toleransi untuk Empati” yang berlangsung di Jakarta, Rabu (16/10).

Cekic adalah perempuan muslim keturunan etnis Kurdi pertama yang menjadi anggota Parlemen Denmark, menjabat pada periode 2007-2015. Saat itu, banyak sekali ujaran kebencian yang dikirim ke alamat surel dan akun Facebook pribadinya.

Pada awalnya, ia langsung menghapus semua pesan-pesan itu karena ia pikir ia dan para pembencinya itu tidak saling mengerti satu sama lain. Sampai suatu ketika, seorang rekan di parlemen menyarankannya untuk menjawab surat-surat itu dan mengunjungi mereka. Awalnya Cekic pesimis, tetapi ia tetap mencobanya.

“Akhirnya, saya buka surel-surel itu, dan memilih salah satu pengirim yang sering mengirimkan surel kepada saya. Namanya Ingolf. Saya menghubunginya dan kami sepakat untuk ngopi di rumah dia,” ujar Cekic, pada acara yang diadakan oleh organisasi nirlaba Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).

“Saya sangat terkejut, Ingolf jauh dari yang saya bayangkan. Kami berbincang selama dua jam, dan ternyata banyak sekali kesamaan di antara kami. Dari situ saya menyadari bahwa saya pun memiliki sifat menghakimi dan prasangka sama seperti mereka,” tambahnya.

Baca juga: Intoleransi dan Persekusi Berawal dari Kesepian

Dari pertemuan itu, Cekic baru menyadari bahwa iklim demokrasi yang saat ini terkungkung dalam ruang gema, dengan para individu yang hanya melihat opini dan informasi yang merefleksikan cara pandang mereka sendiri. Hal ini diperburuk dengan adanya prasangka dan stereotip terhadap orang yang berbeda padangan dengan kita, ujarnya.

Senada dengan Cekic, komika Sakdiyah Makruf mengatakan bahwa prasangka dan pelabelan menghambat orang-orang untuk berdialog satu sama lain.

“Setiap hari kita melabel orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita, begitu pun sebaliknya. Kita harus mulai berhenti untuk melabeli satu sama lain,” ujarnya.

Untuk itu, Sakdiyah ingin menjembatani perbedaan pendapat lewat materi-materi humornya, yang sering kali merupakan satir dan sindiran cerdas terhadap masyarakat yang semakin terpolarisasi, khususnya karena konservatisme agama.

“Selama ini, humor mengajarkan saya untuk memeriksa diri kita sendiri, orang lain, dan juga sistem, tanpa menjelek-jelekkan hal tersebut,” ujar Sakdiyah.

Tak jarang, humor-humor yang ia lontarkan membuat Sakdiyah mendapat banyak kecaman, bahkan dari keluarganya sendiri.

“Baru-baru ini saya juga membuat sebuah acara ‘Jihad Comedy’ bersama Sakdiyah Makruf, dan ibu saya memprotes judul acara ini. Menurutnya, kedua hal tersebut (jihad dan komedi) tidak bisa digabungkan,” kata Sakdiyah.

Meski mengakui dialog itu penting, aktivis hak kelompok queer, Lini Zurlia, mengatakan ia pesimistis cara yang Cekic lakukan bisa diterapkan di Indonesia. Ia mengatakan bahwa dialog semacam itu akan lebih mudah dilakukan dalam situasi demokrasi yang stabil seperti Denmark.

Baca juga: Kenali ‘Buzzer’, Hadapi Persekusi Digital

“Kita sudah menggunakan berbagai cara agar suara kita didengar, tetapi kondisinya berbeda di Indonesia. Jadi menurut saya, kita bisa melakukan apa pun untuk menjaga demokrasi, tetapi saat demokrasi benar-benar terancam, kita semua harus turun ke jalan,” ujar Lini. 

Merespons Lini, Cekic mengatakan pesimisme semacam itu sering ia temui ke mana pun ia pergi. Menurutnya, tiap negara sebetulnya menghadapi permasalahan yang sama, yakni generalisasi, dehumanisasi, dan polarisasi.

 “Pada dasarnya melakukan dialog sulit dilakukan di mana pun kamu berada, tetapi kamu perlu melakukannya karena itu adalah demokrasi. Hal yang sama juga dirasakan oleh pihak yang berseberangan denganmu. Dan ingat, mereka bukan membenci dirimu tetapi opini-opini tentangmu,” katanya.

Ozlem menekankan bahwa tujuan #Dialoguecoffee bukan untuk mengubah pandangan yang berbeda denganmu, tetapi untuk mendengarkan kenapa mereka berbeda pandangan denganmu dan kemudian berfokus mencari kesamaan satu sama lain.

“Jika kamu ingin melakukan #Dialoguecoffee, ada beberapa hal yang perlu kamu ingat. Pertama, jangan menyerah jika mereka menolak untuk bertemu. Terkadang saya butuh waktu hampir satu tahun untuk akhirnya bisa bertemu dengan seseorang. Kedua, fokus mencari kesamaan satu sama lain dan jangan menghakimi,” kata Cekic.

“Setelah kalian berdialog untuk pertama kalinya, akhirilah dialog itu dengan baik. Karena suatu hari nanti kalian akan bertemu kembali. Ingat, jembatan tidak dibangun dalam satu hari saja,” ujarnya.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo