October 13, 2020
‘Emily In Paris’ Serial Absurd, Tapi Tontonan Sempurna di Kala Pandemi

Serial ‘Emily in Paris’ ini benar-benar dangkal, kalau tidak mau dibilang tolol, tapi ampuh membuat kita lupa di luar sana sedang ada pandemi.

by Candra Aditya
Culture // Screen Raves
EmilyinParis
Share:

Sebelum kalian marah-marah atau tersinggung, dengarkan saya dulu. Saya adalah penggemar Emily In Paris. Saya menontonnya dalam sekali duduk, 10 episode tuntas tanpa jeda. Ketika trailernya dirilis saya langsung memasukkan Emily In Paris ke daftar tontonan. Perempuan cantik kerja di Paris dan dibuat oleh pembuat serial Sex and the City dan Younger? Yes, please. Ini adalah jenis tontonan yang saya sukai.

Emily tidak hanya sempurna sebagai tontonan senggang tapi ia menjadi pelarian yang sesungguhnya. Pandemi ini benar-benar menyiksa. Buat orang yang lumayan paranoid yang memutuskan untuk berdiam diri di kamar dan bermain dengan kucing sejak bulan Maret, menyaksikan Emily In Paris seperti sebuah pengalaman yang magis. Setidaknya selama kurang lebih enam jam, saya bisa lupa kalau ada pandemi di luar sana. Yang saya tahu hanyalah seorang gadis cantik bernama Emily (Lily Collins) berjuang untuk mendapatkan cinta cowok ganteng bernama Gabriel (Lucas Bravo).

Baca juga: Mari Acungkan Jari Tengah pada Tahun 2020

Banyak teman yang bilang enggak kuat menonton serial ini. Oke, Emily In Paris memang tidak sempurna. Kalau mau serius, serial ini benar-benar dangkal, kalau tidak mau dibilang tolol. Tapi justru yang goblok-goblok begini yang membuat saya lupa kalau ada pandemi di luar sana. Menurut kalian kenapa akun Twitter seperti @TiktokJelek atau @indocringe banyak follower-nya? Karena justru yang memang luar biasa bodoh di luar nalar justru yang membuat kita gampang lupa dengan keadaan sekarang.

Ada satu lagi yang perlu digarisbawahi: Emily In Paris adalah fiksi ilmiah. Seperti halnya karya Darren Star yang lain, Sex and the City atau bahkan Younger. Enggak percaya? Ini buktinya.

Pertama, Emily beruntung banget bisa pergi ke Paris menggantikan bosnya cuman karena bosnya hamil. Begini, Emily cuman asisten. Apa tidak ada orang yang kedudukannya setara dengan bosnya? Kenapa seorang asisten bisa berangkat ke Paris untuk menggantikan bosnya untuk sebuah pekerjaan penting?

Kedua, bagaimana bisa seseorang yang tidak bisa bahasa Perancis seperti Emily dengan mudahnya mengatur-atur orang yang ada di kantornya? Memang ada adegan Emily belajar bahasa Perancis, tapi apakah setelah itu kita melihat dia pakai ilmunya tersebut? Tidak. Dia masih menggunakan bahasa Inggris terus-terusan.

Baca juga: Keintiman ‘Normal People’ yang Membuat Gemas

Ketiga, mana mungkin semua cowok yang naksir Emily semuanya sungguh tampan? Sebenarnya resep ini berlaku kepada semua komedi romantis, enggak hanya Emily In Paris. Drama Korea pun juga sama. Jadi ya kalau kalian berharap pergi ke Paris dan hook up sama cowok-cowok Kaukasian ganteng ya silakan mimpi saja.

Keempat, mana mungkin semua cowok yang naksir Emily semuanya good looking DAN punya duit? “Tapi kan Gabriel enggak punya duit, Can. Dia enggak ada dana buat beli restoran tempat dia kerja.” Ya tapi dia enggak miskin juga. Enggak ada orang susah secara ekonomi di sini. Sama seperti Carrie Bradshaw yang hanya dikelilingi oleh cowok-cowok tajir, Emily pun juga hanya menoleh sama cogan-cogan kaya. (Tapi kan si Carrie pernah pacaran sama Berger yang miskin? Iya, tapi kan putus juga akhirnya).

Emily enggak pernah begadang padahal kerja di agency. Sumpah ini kebohongan terbesar yang pernah terjadi dalam penggambaran dunia agensi.

Kelima, kok bisa Emily bajunya bagus-bagus semua dan bermerek sekujur tubuh? Segede-gedenya bayaran Emily di kantornya yang baru berapa sih? Bisa banget memang beli Prada dari atas ke bawah?

Keenam, Emily enggak pernah begadang padahal kerja di agency. Sumpah ini kebohongan terbesar yang pernah terjadi dalam penggambaran dunia agensi. Sepanjang 10 episode Emily In Paris, tidak ada satu pun adegan dia kesusahan pitching ide, revisi bahan, kena marah klien atau diteror pencairan invoice sama vendor. Emily malah dengan enaknya bilang, “Ini enggak banget,” ketika diajak menonton syuting, padahal ikut meeting saja enggak.

Ketujuh, Emily gampang banget dapat sahabat, si Mindy (Ashley Park). Dia tinggal duduk galau di taman kemudian tiba-tiba ada pengasuh anak yang dandanannya lebih wow daripada Awkarin duduk di sampingnya dan mengajak nongkrong. Sepuluh tahun saya di Jakarta, saya enggak pernah ujug-ujug punya best friend dengan duduk sendirian galau di kursi Jokowi di trotoar.

Baca juga: Galau Sama Kerjaan dan Karier? Tonton 5 Romcom Ini

Terakhir, hidup Emily namaste banget enggak ada problem. Enggak ada masalah keluarga. Enggak ada satu pun adegan di mana Emily di-WhatsApp ibunya suruh bayar tagihan listrik. Atau tiba-tiba di-chat oleh tantenya yang butuh uang buat bayaran sekolah anaknya. Semua cowok naksir dia. Emily dengan gampangnya tidur dengan semua cowok ini. Klien suka sama dia. Tiba-tiba pemilik perusahaan retweet twit dia. Dan yang paling ajaib, dia cuma modal foto-foto diri sendiri di Paris dan voila! jadi influencer. Benar-benar khayalan.

Tapi ternyata memang semua keabsurdan itu semua yang menjadikan Emily In Paris sebagai suguhan yang sempurna. Akhir-akhir ini saya tidak bisa konsentrasi untuk menonton sesuatu yang membutuhkan lebih banyak kapasitas otak. Level fokus dan perhatian saya menurun drastis. Dan Emily In Paris dengan semua ketiadaan masalahnya, baju-bajunya, semua karakter yang tampan dan cantik, serta musik yang ingar-bingar itu menyelamatkan saya dari kebosanan. Tapi ingat, meskipun ini serial sungguh fun, dia bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan aspirasi.

Emily In Paris dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.