Women Lead
February 24, 2021

8 Film Asia Bertema Transgender yang Wajib Ditonton

Film-film tentang transgender masih sangat minim kita lihat di layar lebar, berikut ini beberapa film Asia bertemakan kehidupan transgender yang wajib kamu tonton.

by Jonesy
Culture // Screen Raves
Share:

Meski masyarakat Asia secara umum masih konservatif dan kurang menerima komunitas Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), banyak film bertemakan kehidupan komunitas LGBT muncul di wilayah ini, seperti dari Taiwan, Hong Kong, Jepang, Filipina, termasuk Indonesia. Khusus tema transgender, film-film semacam ini banyak muncul belakangan ini dengan beragam cerita latar belakang karakter. 

Kehidupan Transgender di Asia

Transgender merupakan istilah umum untuk orang-orang yang identitas gendernya atau ekspresi gendernya berbeda dari jenis kelamin mereka saat lahir. Beberapa individu transgender melakukan terapi hormon untuk mengubah tubuh mereka, dan ada juga yang melakukan operasi penyesuaian kelamin. Namun, perlu diingat, tidak semua individu transgender dapat atau akan melakukan langkah tersebut. identitas gender tidak bergantung pada prosedur medis. 

Di wilayah Asia, kelompok transgender masih mengalami diskriminasi dan kekerasan fisik serta mental. Banyak orang-orang yang masih bersikap transfobik, atau sebuah sikap, prasangka negatif, bahkan penolakan terhadap kelompok transgender, baik transpuan atau transpria. Terlepas dari situasi yang kurang menguntungkan ini, beberapa sineas Asia membuat film bertemakan transgender dengan beragam latar belakang karakter serta negara. Berikut ini beberapa film Asia bertemakan kehidupan transgender yang wajib kamu tonton. 

Film Transgender Asia: Lovely Man (2011)

Film Indonesia bertema transgender ini berkisah tentang Cahaya, seorang perempuan berusia 19 tahun yang menemukan bahwa ayah kandungnya yang sudah lama menghilang, ternyata telah menjadi transpuan dan pekerja seks di Jakarta. Ceritanya apik dan menyentuh, tentang hubungan ayah dan anak yang telah lama terputus, namun kemudian keduanya mencoba memahami satu sama lain. 

Baca Juga: Pembunuhan Atas Transgender Mencemaskan dan Harus Diusut: Aktivis

Film Transgender Filipina: Die Beautiful (2016)

Disutradarai oleh Jun Robles Lana, film Filipina ini bercerita tentang kehidupan Trisha Echevarria, seorang transpuan yang  sangat mencintai kontes kecantikan. Sejak kecil hingga dewasa, Trisha sudah menyadari bahwa dirinya berbeda dari anak laki-laki seumurnya, ia merasa bahwa dirinya adalah perempuan. Ayahnya sangat menentang hal ini sehingga Trisha pun memutuskan untuk meninggalkan rumah dan hidup bersama sahabatnya. 

Baca Juga: Film Remaja ‘Unpregnant’ Bicara Soal Tubuhku Otoritasku

Selain menggambarkan perjalanan Trisha mengikuti kontes kecantikan Binibining Gay Pilipinas, film ini juga mengisahkan hubungannya dengan anak perempuan angkatnya, dan bagaimana ia membesarkan anaknya dengan terbuka dan penuh kasih sayang. 

Alifu, The Prince/ss (2017)

Tiga kisah terjalin dengan sangat apik soal kehidupan beragam individu LGBT di Taipei, Taiwan. Ada Alifu, seorang transpuan yang dari suku Paiwan, yang berusaha menavigasi hidupnya sebagai anak kepala suku. Cerita lainnya adalah tentang seorang lesbian pemilik bar yang sudah menua, dan laki-laki heteroseksual yang menyukai berdandan sebagai drag queen. Plot film ini dituturkan secara baik dan melampaui label seksualitas juga gender. 

A Woman is a Woman (2018)

Dua orang transpuan yang berbeda generasi menjalani pengalaman yang berbeda dari fase melela atau coming out di Hong Kong. Cung Chi Yu sudah berbahagia dengan pernikahannya selama 10 tahun ini ketika suaminya menemukan bahwa ia adalah seorang transpuan. Sementara itu, anak tirinya sedang jatuh cinta pada teman sekelasnya yang tengah memulai mengeksplorasi gendernya.

Tracey (2018)

Film Hong Kong yang yang disutradarai oleh Jun Li ini mengisahkan seorang laki-laki bernama Tung  Tai Hung yang berusia 52 tahun. Di permukaan, Tung adalah seorang suami dan ayah dua anak yang mencintai keluarganya. Ternyata, Tung memiliki rahasia yang sudah lama ia pendam dan tidak bisa ia ungkap kepada siapa pun. Ketika teman lamanya yang juga merupakan seseorang yang ia sukai di masa lalu meninggal dunia, Tung tidak bisa lagi menyangkal bahwa dirinya sejak dulu merasa sebagai perempuan. Dimulai lah perjalanan Tung atau Tracey dalam mengenal dirinya sendiri sebagai seorang transgender. 

Baca Juga: ‘Gaya Sa Pelikula’: Potret Kaya Kehidupan Gay dan Peliknya Persoalan Melela

The Rib (2018)

Film ini terinspirasi dari bab kedua dalam Kitab Kejadian, yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Ceritanya berpusat pada Huanyu, seorang transpuan yang sedang berusaha meyakinkan ayahnya untuk menandatangani surat persetujuan orang tua untuk operasi penyesuaian kelaminnya. 

Baca Juga: Homofobia dan LGBT yang ‘Mengganggu’

Ayahnya, yang seorang penganut Kristen taat, tidak bisa menerima keadaan sang anak dan mencoba segala cara untuk “menyembuhkan” sang anak. The Rib tidak hanya memperlihatkan tentang dinamika penerimaan orang tua terhadap anaknya yang melela sebagai transpuan, tetapi juga gejolak di dalam diri orang tua yang perlahan-lahan berusaha memahami sang anak.

Close Knit (2018)

Tomo Ogawa merupakan seorang gadis cilik berusia 11 tahun tinggal bersama pamannya, Makio, setelah sang ibu menikah lagi. Makio hidup bersama kekasihnya, Rinko, seorang transpuan. Film ini dengan sederhana dan hangat memperlihatkan bentuk lain dari sebuah keluarga, dan bagaimana Tomo erta Rinko membangun kepercayaan dan memahami satu sama lain. 

Baca Juga: Surat Cinta untuk Prajurit LGBT

Midnight Swan (2019)

Nagisa adalah seorang transpuan yang karena satu dua hal, harus tinggal bersama seorang Ichika, saudara jauhnya yang ditelantarkan ibunya. Seiring dengan berjalannya waktu, naluri keibuan Nagisa pun muncul dan menyayangi remaja putri itu seperti anak kandungnya sendiri.