November 22, 2019
Surat dari Penjara: Ibuku Jagoan yang Payah

Penjara memberi sekat antara napi perempuan dengan orang terpenting dalam hidupnya: Ibu.

by Nicky Silvana
Issues // Politics and Society
Share:

“Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu!”.

Umurku enam tahun saat itu, dengan rambut rapi, belah pinggir ke kanan, muka berlepotan bedak, berkaus kutang dan bercelana pendek, menatap televisi dengan mulut terbuka lebar. Aku mengagumi si Usagi alias Sailor Moon, Amy atau Sailor Mercury, dan Rey alias Sailor Mars, beserta Luna si kucing yang bisa berbicara dengan tanda bulan sabit di keningnya. Mereka dengan hebatnya melawan monster-monster dengan kostum rok pelaut super pendek.

Kemudian masa kecilku juga diisi dengan jagoan perempuan dari Indonesia. Si Saras 008 dengan hebatnya menyabotase pikiran masa kecilku bahwa sungguh keren menggunakan baju berbahan lateks super ketat, salto ke sana ke mari, berlari-lari mengejar penjahat berbadan tambun dengan rambut warna-warni di Jakarta yang super panas ini. Semoga Mbak Saras 008 tidak punya masalah bau badan.

Baca juga: Surat dari Penjara: Wartel Media Komunikasi Tercanggih

Beranjak remaja, kutinggalkan Sailor Moon dan Saras 008. Aku mengagumi jagoan cantik berbadan sempurna dengan perut tipis rendah lemak dan gagah berperang dengan membawa tameng serta tombak. Mbak Wonder Woman sukses membuat aku menatap miris melihat perutku sendiri yang kaya lemak.

Dari semua jagoan yang sudah kutonton dari kecil, hanya ada satu jagoan yang aku idolakan. Tapi jagoanku ini sungguh payah! Dia tidak seperti Sailor Moon, Saras OO8, atau Wonder Woman. Dia payah! Dia tidak punya kekuatan bulan buat menghukum. Yang dia bisa hanya mengajarkanku untuk tidak berbuat salah supaya tidak kena hukuman. Dan, ketika aku dengan bengalnya tetap berbuat salah, dia tetap ada di sampingku apa pun kondisiku.

Dia payah! Dia tidak seperti Saras 008 berbadan lentur dan pakai baju berbahan lateks. Jangankan salto, jalan santai saja terkadang harus istirahat berkali-kali. Kakinya tidak kuat untuk lari maupun salto, tetapi di kakinya terletak surgaku. Dengan kakinya dia berdiri tegar menghadapi dunia yang ternyata lebih keras dari dunianya Mbak Saras 008. Karena dunianya bukan hanya berisi penjahat berkostum konyol.

Baca juga: Surat dari Penjara: Rinduku dalam Alunan Lagu

Dia payah! Dia tidak punya tameng dan tombak! Dia cuma punya tangan yang menggenggam tanganku, memastikan aku baik-baik saja. Dia mencukupi kebutuhanku sedari aku kecil, seorang diri tanpa bergantung pada siapa pun.

Dia yang mengajarkan aku untuk dapat menghadapi hidup ini tanpa bantuan tongkat ajaib berkekuatan bulan, baju lateks, dan tameng serta tombak. Dia yang mengajarkanku untuk percaya bahwa kita, para perempuan, tidak selemah yang para lelaki pikirkan. Dia yang mengajarkan kita bahwa Tuhan selalu ada menolong kita.

Si jagoanku yang payah itu adalah ibuku. Karena dia payah, jadi tolong jangan idolakan dia. Cukup aku saja yang mengidolakan dia.

Artikel ini merupakan hasil dari #Surat (Suara dari Balik Sekat), inisiatif kolektif dari Jurnal Perempuan, Konde.co, Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM), dan Magdalene.co untuk memberi pelatihan menulis dasar dan menyediakan sarana menulis bagi narapidana perempuan. #Surat yang ditampilkan telah mendapatkan persetujuan dari penulis, yang membuatnya secara manual dengan kertas dan pulpen.