June 22, 2020
‘RuPaul’s Drag Race’ Ajari Soal Toleransi, Keberagaman, dan Inklusivitas

RuPaul’s Drag Race mengkampanyekan penerimaan diri dan kebebasan berekspresi, berbagi, dan bersuara.

by Arie Raditya
Culture // Screen Raves
Share:

Sebelas tahun lalu, saat saya pertama kali menonton RuPaul’s Drag Race, saya pikir saya menyaksikan acara realitas bertema komedi drag queen. Ternyata yang saya dapatkan jauh lebih banyak dari itu.

Pertama, acara ini menghadirkan figur-figur advokasi inspiratif. Di episode empat musim pertama, penonton akan dibuat terharu dengan twist yang menurut saya luar biasa dalam sejarah TV realitas. Kontestan bernama Ongina, seorang anggota diaspora Filipina di AS memenangkan sebuah tantangan lewat iklan kosmetik untuk menghapuskan stigma terhadap HIV. Dalam pidato kemenangannya, Ongina mengungkapkan bahwa dirinya telah hidup dengan virus tersebut selama lima tahun. Seluruh kontestan bahkan pembawa acara tidak ada yang mengira ia akan mengungkapkan hal itu. Setelah produksi musim pertama selesai, Ongina menjadi aktivis HIV yang cukup penting di kalangan drag queen.

Di musim-musim selanjutnya, figur-figur tersebut terus bermunculan. Penonton tidak hanya disuguhi tantangan variatif dan super sulit di setiap episodenya, tetapi juga para drag queen inspiratif yang dipilih oleh aktor/drag queen RuPaul di setiap musim. Ada yang melela pada musim keempat; ada Latrice Royale yang merupakan bekas narapidana di musim kelima; atau Monica Beverly Hillz, seorang transpuan yang sedang dalam masa transisi hormon.

Terlepas dari kisah sedih yang tentu menambah drama dan intensitas sebuah pertunjukan, figur-figur ini memancing diskusi di tengah penonton soal keterwakilan, inklusivitas, dan stigma moral. Pesan yang saya tangkap secara pribadi sebagai pria queer adalah bagaimana kehidupan dan latar belakang para finalis drag race ini bagaikan batu berlian, yang  semakin ditekan menjadi semakin bersinar.

Baca juga: 10 Film dan Serial TV Bertema LGBT yang Wajib Ditonton

Figur kompetitif juga terus berdatangan dan terus mengubah dinamika kompetisi. Pemenang musim ketiga adalah Raja Gemini, penata rias America’s Next Top Model, yang kebetulan merupakan putra Abdul Wadud Karim Amrullah (Willy Amrul), adik Buya Hamka. Kemudian ada Willam Belli (aktor yang pernah mendapatkan nominasi Emmy Awards), Jinkx Moonsoon (akademisi seni pertunjukan), Courtney Act (Australian Idol), Adore Delano (American Idol), Bob the Drag Queen (aktivis queer), Sasha Velour (akademisi Fullbright), dan masih banyak lagi drag queen inspiratif lainnya.

Bila Master Chef berfokus pada Gordon Ramsay dan America’s Next Top Model pada Tyra Banks, RuPaul’s Drag Race memberikan porsi yang cukup untuk RuPaul dan para finalisnya untuk ikut menjadi bintang.

Agen perubahan

RuPaul’s Drag Race kini telah merampungkan produksi 12 musim dan 5 musim allstars. Acara serupa juga dibuat di beberapa negara seperti Inggris, Thailand, Kanada dan Chile (The Switch). Seperti dunia komik yang memiliki ComicCon, DragCon  telah berlangsung secara rutin di beberapa kota di Amerika seperti Los Angeles dan New York dari tahun 2015.

Acara televisi ini telah membawa banyak dampak. Dampak jangka pendek bisa dilihat dari tagar media sosial seperti Instagram dan Twitter di saat pembukaan musim baru dan babak final. “Drag” kini dilihat sebagai karya seni dan kuota artis untuk dipanggil dalam acara bertemakan queer, seperti Pride, juga menjadi bertambah.

Baca juga: Kenapa ‘Portrait of a Lady on Fire’ Tak Akan Tayang di Indonesia

Drag Race tidak hanya meracuni penontonnya dengan frasa popular seperti “yass”, “ockurr”, letupan lidah, “and I oop”, “apololie” dan frasa unik lain tetapi juga memperkaya wawasan mengenai khazanah budaya populer. Penonton bisa tiba-tiba mempelajari siapa itu Little Eddie (sepupu dari Jackie Kennedy) karena dijadikan persona oleh drag queen bernama Jinkx Moonsoon pada saat tantangan Snatch Game. Atau yang paling terbaru adalah bagaimana penonton akan mempelajari evolusi Madonna di tantangan “Madonna the Rusical” pada musim ke-12.

Di musim 12 pula, penonton diberkahi dengan kontestan dari diaspora Iran, Jackie Cox, yang berjalan di atas panggung menggunakan hijab dan kaftan. Dari Jackie saya mempelajari bahwa isu identitas sangat disorot pada saat ini dan keterwakilan muslim di Amerika seiring aktivisme minoritas lintas sektor lainnya.

Drag Race juga tidak ketinggalan menjadi objek kajian gender. Bila mengecek google scholar, acara ini dibahas dalam berbagai bidang ilmu seperti semantik, ilmu komunikasi dan penyiaran, penulisan kreatif, bahkan kajian wilayah Amerika dan studi global. Ribuan disertasi dan makalah penelitian yang sudah dipublikasikan dapat diakses terkait fenomena acara ini. 

Positivisme queer

RuPaul’s Drag Race juga tidak terlepas dari permasalahan dan debat, sama seperti fandom lain pada umumnya. RuPaul masih belum mau menerima drag queen dari kalangan perempuan cis nonbiner, baik bio queen (perempuan cis yang melakukan personifikasi drag perempuan) atau drag king (perempuan cis yang melakukan personifikasi laki-laki).

Sejak migrasi dari saluran TV kabel queer, LOGOtv, ke VH1 yang berskala lebih nasional, acara ini juga menjadi arus utama dan menarik perhatian penggemar-penggemar muda yang gemar melakukan cancel culture. Selain itu, muncul ancaman-ancaman maut pada drag queen yang tidak disukai atau mendapat villain edit (peranan pembawa konflik yang secara tidak sadar diposisikan pada satu kontestan untuk membawa drama pada kompetisi).

Baca juga: 5 Alasan Kenapa Kamu Harus Simak ‘Girl Band’ Little Mix

Hal-hal ini tidak dapat dihindari di saat budaya drag terus berkembang dan diskusi tentang topik ini terus berjalan baik dalam bentuk artikel akademis atau populer, dan diskusi daring seperti di Twitter dan Reddit. Dari komunitas daring, saya mempelajari bahwa saya tidak sendirian di Indonesia. Akun Twitter @rpdrindonesia semakin aktif dan berkembang dari tahun 2017 sebagai ajang berbagi informasi. Terkadang, saya dan teman-teman juga mengadakan acara terkait seperti nonton bareng secara langsung atau virtual.

Dari RuPaul, kita belajar bahwa setiap orang bisa memiliki aktivisme masing-masing. Kadang kita tidak harus selalu turun ke jalan untuk menjadi aktivis, tapi dengan mendorong adanya keterwakilan figur ODHIV, transpuan, dan drag queen of color di televisi. Bisa saja aktivis favoritmu merupakan penata rias andal, komika, atau bahkan seorang lipsync assassin. Ide positivisme queer menitikberatkan pada penerimaan diri dan untuk terus berjuang menjalani kehidupan dengan berekspresi, berbagi, dan bersuara. Hal ini senada dengan amanat dari Rupaul setiap kali menutup acara, “If you can’t love yourself, how the hell are you gonna love somebody else?”.

Arie Raditya (Laloan) berhasil menyelesaikan program pascasarjana bermodalkan menonton reality show tentang paus, “Whale War” di Animal Planet. Terkadang mencari penghidupan dengan berpura-pura mampu berbincang dalam bahasa Korea, serta melamun melihat tabel Microsoft Excel berisikan data pasar permainan video.