Women Lead
September 22, 2021

Setop ‘Book Shaming’, Berikut 5 Manfaat Baca Novel Fiktif

Masih banyak orang menganggap membaca cerita fiksi dalam novel tidak berguna. Faktanya tak demikian.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Lifestyle
Share:

Pada 14 September lalu, akun Twitter @ReadmenID mengunggah rekomendasi buku-buku yang dibaca oleh idola K-pop. Mulai dari Jisoo Blackpink, RM BTS, hingga Kang Minhyuk CNBLUE. Nah di sinilah keributan mulai terjadi. Rekomendasi buku-buku Jisoo dan Kang Minhyuk mayoritas adalah novel fiktif, berbeda dengan RM yang gandrung pada buku non-fiksi. Komentar negatif, rerata berupa book shaming pun mengalir pada Jisoo dan Minhyuk.

Mayoritas yang melakukan book shaming berargumen, “Apaan novel semua wkwkwkwkwk,” “Kenapa enggak dibanyakin baca nonfiksi aja, sih dibandingkan baca novel?” “Pentingkah baca novel?” atau “Kebanyakan novel? Novel, mah mirip2 ma film. Hiburan.”

Jujur saja sebagai jebolan Jurusan Sastra yang makanan sehari-harinya membaca novel dan punya tiga kelas khusus bedah karya sastra, saya cuma bisa geleng-geleng kepala membaca komentar-komentar julid itu.

Bagi banyak orang seperti mereka, novel adalah bacaaan ringan yang tidak memiliki muatan pengetahuan sama sekali. Enggak bisa bikin pembacanya lebih pintar. Beberapa menyebutnya sebagai cara pembaca membunuh waktu, bukan untuk tujuan serius. Apakah anggapan itu benar? Jadi, kita tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa dari membaca cerita-cerita fiksi ini?

Buat kamu yang masih punya pertanyaan seperti itu, yuk simak lima manfaat membaca novel berikut:

  1. Novel Melatih Rasa Empatimu

Novel mengenalkanmu pada cerita dengan karakter-karakter yang membuatmu terikat secara emosional dengan mereka. Kamu dibiarkan masuk dalam dunia yang dibangun oleh karakter-karakter, pun situasi konflik yang mereka hadapi. Dengan penggambaran yang begitu detail mengenai situasi para tokohnya, kamu pun bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi mereka.

Misalnya, jika kamu membaca novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi, sikap sinis kepada pekerja seks bisa saja bergeser. Sebab, dengan menelusuri perjalanan Firdaus, tokoh utama yang juga korban pernikahan paksa dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kamu bisa berempati dengan hidupnya. Kamu jadi lebih paham, kenapa ia lebih memilih jadi pekerja seks ketimbang istri orang lain.

Ini berlaku pula untuk novel-novel lainnya, ya. Memperbanyak baca novel fiktif bikin empatimu terus terasah karena banyaknya situasi berbeda yang kamu selami. Kebiasaan kamu untuk menghakimi seseorang atas pengalaman hidup atau pandangan mereka akan semakin sedikit ditekan. Hal ini mungkin tidak terjadi jika kamu membaca buku nonfiksi. 

  1. Novel Membuatmu Sadar, Ada Pandangan Beragam di Dunia Ini

David Comer Kidd, akademisi dari Universitas Harvard dan Emanuele Castano Profesor dan Ketua di Departemen Psikologi The New School for Social Research meneliti bacaan karya fiksi dan nonfiksi dari 86 responden. Dalam penelitian yang berjudul “Reading Literary Fiction Improves Theory of Mind” (2013) ditemukan, karya sastra dapat meningkatkan Theory of Mind partisipan dibandingkan saat mereka membaca buku nonfiksi.

Theory of Mind sendiri adalah kapasitas manusia untuk memahami orang lain memegang keyakinan dan keinginan berbeda dengan diri kita sendiri. Dalam konteks ini, karya sastra yang menyajikan gambaran dalam bentuk narasi, mampu membantu para pembacanya untuk memahami secara mendalam perasaan dan pikiran subjek. Pembaca pun akhirnya terlibat dalam proses pemahaman lebih lanjut atau simulasi afektif. Pada akhirnya, ini membuat mereka terpapar dengan pandangan, keyakinan, dan keinginan berbeda dengan dirinya sendiri.

Proses inilah kemudian membawa pembaca paham, sah-sah saja jika pandangan atau keyakinan kamu berbeda dengan orang lain.


  1. Novel Melatih Daya Kritis

Linda Elder, penulis, psikolog pendidikan Amerika, sekaligus Presiden Foundation for Critical Thinking, dan Richard Paul, direktur penelitian dan pengembangan profesional di Center for Critical Thinking dalam jurnal ilmiah mereka, “Critical Thinking and the Art of Close Reading” (2003) mengungkapkan, cerita fiksi dapat dengan baik melatih daya kritis pembacanya.

Dengan membaca cerita fiksi, pembaca terlibat dalam dialog yang dibangun sendiri dengan penulis cerita. Dalam hal ini, cerita fiksi memaksa kita untuk secara terus menerus merumuskan pertanyaan dan mencari jawaban atas pertanyaan tersebut sebagai bagian dari proses membaca. Proses ini tentunya membutuhkan menghubungkan ide-ide baru dengan ide-ide yang sudah dipelajari, mengoreksi ide-ide yang salah bila perlu.

  1. Novel Mampu Membuatmu Menahan Godaan Need of Closure

Apa, sih need of closure itu? Dalam kamus psikologi American Psychological Association, need for closure adalah rasa ingin cepat-cepat mendapat kesimpulan final dalam keputusan, penilaian, dan pilihan, seringkali sebelum waktunya. Mereka yang cenderung memiliki need of closure yang tinggi, cenderung tidak nyaman terhadap ambiguitas dan ketidakpastian, sehingga seringkali punya toleransi rendah dan biasanya rentan terjebak dengan pandangan politik atau agama yang dogmatis.

Dalam artikel Harvard Business Review berjudul The Case for Reading Fiction disebutkan, membaca cerita fiksi adalah cara yang efektif untuk meningkatkan kemampuan otak untuk tetap berpikiran terbuka saat memproses informasi, keterampilan yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang efektif. Cerita fiksi membiasakan pembacanya untuk menerima informasi yang banyak secara perlahan. Pembaca dihadapkan dengan berbagai macam cara pandang sebagai modal utama berempati dan memahami narasi berbeda. Kamu pun dipersiapkan untuk menerima informasi yang berbeda dengan asumsi awal dengan alur plot twist dalam narasi bersangkutan.

Karena hal ini, para pembaca cerita fiksi lebih dimungkinkan untuk menahan godaan need for closure, sehingga mereka bisa lebih bijaksana dalam memandang sesuatu, lebih kreatif, dan mampu berpikir lebih kritis.

  1. Novel adalah Jendela untuk Mengenal Dunia Baru

Saya sejujurnya lebih banyak mendapatkan manfaat membaca cerita fiksi dibandingkan dengan membaca buku-buku non fiksi. Kenapa demikian? Cerita fiksi ditulis tidak dalam ruang hampa, narasi yang disajikan tersedia melalui pandangan, keyakinan, dan rekam jejak pengetahuan yang dimiliki oleh sang penulis. Dengan demikian, cerita fiksi yang disajikan dalam novel bermuatan pengetahuan atau informasi yang tidak tunggal.

Akibatnya, tidak jarang dalam membaca satu novel, saya mampu mendapatkan pengetahuan dari lintas bidang. Misalnya saja ketika saya membaca novel karya sastrawan modern kenamaan Jepang, Natsume Sōseki, berjudul Kokoro, saya justru mendapatkan ilmu baru seperti filsafat eksistensialisme, psikologi trauma, sejarah modernisasi Jepang, dan pandangannya terhadap sisi gelap modernisasi Jepang itu sendiri.

Pengetahuan-pengetahuan ini saya dapatkan dari membaca cerita fiksi dengan saksama yang membuat saya melalui proses berpikir kritis tentang apa makna tersirat di dalamnya. Dalam hal ini, saya pun jadi kepo lebih dalam hingga akhirnya mendapatkan ragam pengetahuan dari lintas bidang tersebut.

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.