Saya adalah laki-laki Tuli. Ada banyak momen ketika saya duduk di sebuah ruangan dan tidak sepenuhnya paham apa yang sedang dibicarakan. Orang-orang berbicara cepat dan saling menimpali. Bibir bergerak, tawa muncul tiba-tiba, kepala mengangguk hampir bersamaan. Saya ikut tersenyum, meski sebenarnya tertinggal.
Namun, sering kali dalam situasi seperti itu, yang paling saya khawatirkan bukanlah ketulian saya. Saya lebih takut dianggap gagal sebagai laki-laki. Gagal memenuhi gambaran laki-laki yang kompeten—siap, tanggap, dan bisa bicara dengan lantang.
Sejak kecil, saya tumbuh dengan pesan tak tertulis bahwa laki-laki harus sigap, tegas, dan vokal. Laki-laki yang baik adalah yang cepat merespons, berani bicara, dan mampu mengambil alih percakapan. Diam sering dibaca sebagai ragu. Jeda dianggap sebagai tanda tidak siap. Standar ini terasa wajar di sekitar saya, sampai tubuh saya sendiri berkali-kali tidak mampu mengikutinya.
Saya terlahir Tuli. Telinga kiri saya hampir tidak berfungsi, sementara telinga kanan hanya menangkap sebagian suara. Sejak kecil, saya belajar menyesuaikan diri dengan sisa pendengaran yang saya miliki, dengan membaca gerak bibir, menebak konteks, dan mengisi kekosongan dengan asumsi. Saya melakukannya bukan untuk terlihat hebat, tapi agar tidak merepotkan orang lain. Agar tidak memperlambat atau dianggap kurang.
Lama-lama, semua itu menjadi semacam kebiasaan. Saya mengikuti ritme percakapan, berpura-pura memahami, dan berusaha tetap “terlihat hadir”. Saya membangun cara-cara untuk bertahan dalam ruang yang tidak pernah benar-benar ramah pada keheningan. Dan selama saya masih punya sedikit kemampuan mendengar, saya bisa terus menyesuaikan diri. Meski dalam hati, saya tahu ritme itu bukan milik saya.
Baca juga: “JEMARI”: Teater Musikal Tuli Pertama Bakal Tampil di Indonesia
Saat kehilangan sisa dengar dan dunia tetap menuntut saya cepat bicara
Bertahun-tahun kemudian, ada satu hari yang mengubah segalanya. Tidak dramatis. Tidak disertai peristiwa besar. Hari itu justru berjalan sunyi dan pelan. Hari itu, saya kehilangan sisa kemampuan dengar yang selama ini saya andalkan.
Di titik itu, saya sadar saya tidak bisa lagi pura-pura mampu mengikuti ritme yang sama. Ritme yang menuntut respons cepat, mengukur kesiapan dari suara, dan menganggap jeda sebagai kegagalan. Selama ini saya seperti berlari mengejar percakapan, dan ketika “sisa dengar” itu hilang, saya benar-benar harus berhenti. Bukan hanya berhenti mendengar, tapi juga berhenti berpura-pura.
Menjadi Tuli untuk kedua kalinya mempertemukan saya dengan ketakutan yang selama ini saya simpan rapat-rapat. Bukan soal kehilangan suara, melainkan soal kehilangan legitimasi sebagai laki-laki. Dalam kepala saya, suara selalu dikaitkan dengan kendali: kemampuan memimpin, keberanian mengambil ruang, dan kesiapan mengambil keputusan.
Ketika tubuh saya semakin jauh dari standar itu, saya mulai mempertanyakan nilai diri saya sendiri. Ada masa ketika saya merasa keberadaan saya menjadi beban. Bukan karena saya Tuli, tetapi karena banyak orang tidak pernah membayangkan laki-laki yang tidak bersuara sebagai sosok yang utuh.
Dan perasaan itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, diperkuat oleh pengalaman demi pengalaman. Setiap ruang yang saya masuki, setiap percakapan yang saya lewati, memperkeras pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya hanya berbisik. Bagaimana saya akan berkomunikasi di ruang publik? Bagaimana saya akan dipandang dalam relasi kerja? Bagaimana saya akan dianggap layak memimpin?
Bukan ketulian yang menggoyahkan saya, melainkan keyakinan bahwa tubuh saya semakin menjauh dari bayangan laki-laki ideal.
Baca juga: Siasat Berkarya Teman Disabilitas di Tengah Ketimpangan Akses Literasi
Mungkin yang perlu diubah adalah standar “laki-laki harus tegas”
Setelah kehilangan sisa pendengaran itu, ruang-ruang sosial terasa semakin menekan. Percakapan bergerak cepat, ekspektasi hadir tanpa perlu diucapkan. Mereka yang paling vokal dianggap paling siap. Mereka yang paling lantang dinilai paling layak memimpin.
Saya sering tertinggal. Bukan karena saya tidak punya gagasan, tapi karena ritme ruang itu tidak memberi ruang untuk jeda. Saya butuh waktu untuk menangkap informasi, menyusun kalimat, memastikan maksud. Tapi di banyak tempat, jeda tidak dianggap sebagai bagian dari proses berpikir, melainkan dibaca sebagai kelemahan.
Alih-alih bertanya apa yang saya butuhkan, lingkungan memberi saya label. Saya dianggap ragu-ragu. Kurang tegas. Tidak cukup leader material. Kapasitas saya dipertanyakan bukan dari kualitas kerja saya, melainkan dari cara tubuh saya hadir: terlalu diam, terlalu pelan, terlalu “tidak maskulin”.
Saya mulai menyadari bahwa pengalaman ini bukan milik saya sendiri. Ini pola. Ini sistem. Dan sistem itu punya nama.
Beberapa waktu lalu, saya mengenal istilah yang membantu saya menamai pengalaman ini, yakni audisme. Cara pandang yang menjadikan kemampuan mendengar sebagai standar utama, lalu menilai orang Tuli sebagai pihak yang kurang, bermasalah, atau harus menyesuaikan diri.
Audisme jarang datang sebagai penolakan terang-terangan. Ia menyelinap dalam asumsi kecil yang dianggap biasa. Bahwa semua orang bisa mengikuti diskusi lisan. Bahwa pemimpin harus vokal. Bahwa keheningan berarti tidak tahu apa-apa.
Dan ketika audisme bertemu dengan bayangan maskulinitas ideal, tekanannya berlipat ganda. Tubuh saya tak hanya dianggap tidak mendengar, tapi juga tidak cukup “laki-laki”. Diam saya dicurigai. Jeda saya dilihat sebagai ragu. Kebutuhan saya akan waktu dianggap sebagai tanda tidak siap.
Tak ada yang menyebut ini diskriminasi. Tapi tubuh saya merasakannya setiap hari.
Dalam budaya patriarki, laki-laki diharapkan dominan, aktif, dan menguasai ruang. Maskulinitas dibentuk dari kemampuan tampil, mengontrol percakapan, dan menunjukkan otoritas. Dan semua itu sangat bergantung pada suara.
Ketika suara dijadikan tolok ukur kepemimpinan, tubuh Tuli otomatis ditempatkan di pinggir. Saya tidak hanya dituntut menyesuaikan diri, tetapi juga terus membuktikan bahwa saya pantas berada di ruang itu. Padahal, sering kali yang saya perlukan jauh lebih sederhana: jeda, cara komunikasi yang setara, dan ruang yang tidak langsung menyamakan “vokal” dengan “mampu”.
Ada masa ketika tekanan ini membuat saya menarik diri. Menghindari percakapan. Menghemat energi. Bukan karena saya membenci tubuh saya, melainkan karena saya lelah hidup dalam sistem yang terus-menerus menguji kelayakan saya sebagai laki-laki.
Saya menulis ini bukan untuk meromantisasi keputusasaan, tetapi untuk menunjukkan bahwa maskulinitas yang audistik bisa melukai secara perlahan, terutama mereka yang tubuhnya tidak sesuai dengan cetakan dominan.
Saya juga tidak menulis ini untuk meminta dimaklumi, atau dijadikan kisah inspiratif. Saya hanya ingin mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: Mengapa maskulinitas dibangun dengan ketergantungan sebesar itu pada suara?
Mengapa kepemimpinan selalu diasosiasikan dengan vokal? Mengapa kecepatan bicara dianggap kecakapan? Mengapa keheningan terus dicurigai?
Sebagai laki-laki Tuli, saya tidak ingin menghabiskan hidup untuk membuktikan bahwa saya “cukup laki-laki”. Saya ingin maskulinitas itu sendiri ditinjau ulang. Agar ia tak lagi jadi alat eksklusi, tapi ruang yang bisa menampung keberagaman tubuh dan cara hadir.
Maskulinitas tidak harus selalu bersuara. Kadang, justru ia perlu belajar memberi ruang—dan menghormati tubuh-tubuh yang selama ini dipaksa diam demi bisa diterima.
Bagja Wiranandhika Prawira adalah sarjana Ilmu Komunikasi yang fokus pada Kajian Komunikasi dan Penyiaran. Ia merupakan Co-Founder Silang.id, penulis, dan kolumnis isu Tuli. Ia juga praktisi budaya Tuli yang aktif mengadvokasi isu aksesibilitas, disabilitas, dan inklusivitas melalui media, riset, dan kerja-kerja edukasi.












