6 Film yang Mengungkap Wajah Korupsi Institusi Kepolisian
Lewat film-film ini kita bisa membaca lagi tentang fungsi sekaligus kebobrokan institusi kepolisian.

Tindakan represi pembungkaman terhadap karya seni kembali terjadi. Paling anyar menimpa band Sukatani. Mereka dipaksa meminta maaf karena merilis Bayar, Bayar, Bayar, sebuah lagu yang dalam liriknya blak-blakkan menyindir tindakan-tindakan korup yang sudah sering dilakukan institusi kepolisian. Publik pun tak tinggal diam—dengan tagar #IndonesiaGelap yang viral dan demonstrasi besar-besaran di Jakarta, masyarakat mulai melawan balik.
Dalam aksi, warga bahkan menyanyikan lagu Bayar, Bayar, Bayar yang sudah ditarik dari semua layanan streaming, langsung di depan muka polisi.
Bobroknya institusi kepolisian bukan penyakit yang secara eksklusif diderita Indonesia. Sejarah perfilman dunia telah lama menghadirkan kisah-kisah yang menelanjangi keburukan aparat penegak hukum. Film-film ini menunjukkan bagaimana polisi—yang melabeli diri pelindung masyarakat—sering kali justru menjadi aktor utama dalam korupsi, kekerasan, dan ketidakadilan.
Berikut adalah enam film yang menyoroti wajah kelam institusi kepolisian dari berbagai belahan dunia:
Baca juga: #KamiBersamaSukatani dan Ketakutan Negara pada Karya Seni
1. Serpico (Sidney Lumet, 1973)

Berdasarkan kisah nyata, Serpico mengisahkan seorang polisi muda bernama Frank Serpico (diperankan Al Pacino) yang bekerja di kepolisian New York. Namun, ia segera menyadari bahwa hampir semua koleganya terlibat dalam korupsi sistemik. Saat ia mencoba melaporkan hal ini, ia justru menjadi target ancaman dan nyaris terbunuh.
Serpico adalah kisah klasik tentang seorang individu yang mencoba melawan sistem yang telah busuk hingga ke akarnya, tetapi malah dihancurkan oleh institusi yang seharusnya melindunginya.
2. Tropa de Elite (José Padilha, 2007)

Film ini menggambarkan brutalitas BOPE (Batalhão de Operações Policiais Especiais), pasukan elite kepolisian Brasil, dalam menghadapi perdagangan narkoba di Favela (pemukiman kumuh). Alih-alih menjadi pahlawan, anggota BOPE justru ditampilkan sebagai bagian dari masalah—korupsi, kekerasan berlebihan, dan kolusi dengan penguasa menjadi bagian dari sistem.
Dengan pendekatan yang realistis dan penuh kekerasan, Elite Squad menunjukkan bagaimana kepolisian bukanlah solusi bagi kejahatan, melainkan bagian dari kejahatan itu sendiri.
3. Memories of Murder (Bong Joon-ho, 2003)

Diangkat dari kisah nyata pembunuhan berantai pertama di Korea Selatan pada tahun 1980-an, film ini menampilkan kepolisian yang tidak kompeten dan korup. Polisi dalam film ini lebih sering menggunakan kekerasan dan paksaan untuk mengekstrak pengakuan daripada benar-benar menyelidiki kejahatan.
Memories of Murder menggambarkan bagaimana institusi kepolisian sering kali lebih tertarik untuk mencari kambing hitam daripada menegakkan keadilan.
4. Infernal Affairs (Andres Lau & Alan Mak, 2002)

Film yang menjadi inspirasi bagi The Departed (Martin Scorsese, 2006), Infernal Affairs mengeksplorasi hubungan antara polisi dan mafia di Hong Kong. Di dalam dunia yang sudah terlalu korup, polisi dan kriminal hampir tidak dapat dibedakan—mereka sama-sama hidup di dalam sistem yang sudah busuk.
Film ini mempertanyakan apakah benar ada “orang baik” dalam sistem yang sudah penuh dengan intrik dan pengkhianatan?
5. Z (Costa-Gavras, 1969)

Film ini berbasis kisah nyata pembunuhan seorang politisi progresif Yunani yang ditutupi oleh kepolisian dan militer. Polisi bukan hanya gagal menyelidiki kejahatan, tetapi mereka juga aktif berkonspirasi untuk melindungi para pelaku yang berada di dalam pemerintahan.
Z adalah film politik yang mengungkap bagaimana kepolisian sering kali menjadi alat negara untuk membungkam oposisi dan menutupi kejahatan mereka sendiri.
6. Training Day (Antoine Fuqua, 2001)

Dalam penampilan yang mengantarkannya meraih Best Actor Oscar, Denzel Washington memainkan Alonzo Harris, seorang detektif LAPD yang korup dan manipulatif. Ia menggunakan hukum sebagai alat untuk melindungi dirinya sendiri sambil menjalankan bisnis ilegal. Film ini menunjukkan bahwa dalam sistem kepolisian yang korup, kejahatan dapat dilakukan dengan kedok keadilan.
Training Day mempertanyakan bagaimana seorang polisi dapat dengan mudah menyalahgunakan wewenang tanpa ada konsekuensi nyata.
Dalam konteks Indonesia saat ini, ketika ekspresi seni dan kebebasan berpendapat mulai ditekan, film-film ini berfungsi sebagai pengingat akan realitas yang, oleh sebagian orang, kerap diabaikan. Mereka tidak hanya merefleksikan bagaimana korupsi dan represi bekerja dalam institusi kepolisian, tetapi juga menjadi alat untuk membangun kesadaran dan memperkuat narasi perlawanan.
Menonton film-film ini bukan sekadar hiburan—ini adalah cara untuk memahami bagaimana kekuasaan sering disalahgunakan dan bagaimana sistem yang seharusnya melindungi rakyat justru kerap menjadi alat penindasan.
Dalam dunia yang semakin gelap, memahami kebobrokan sistem bukanlah sekadar wawasan, melainkan langkah pertama menuju perlawanan yang lebih terarah.
