March 12, 2020
Apa Bedanya Pandemi, Epidemi, dan Wabah?

Penetapan resmi COVID-19 sebagai sebuah pandemi dari WHO akan mendorong pemerintah untuk mengubah upaya pengurungan menjadi mitigasi.

by Rebecca S.B. Fischer
Lifestyle // Health and Beauty
Antibiotics_Virus
Share:

WHO telah resmi menetapkan COVID-19 sebagai sebuah pandemi. Ini peristiwa penting.

Sebagai seorang ahli epidemiologi, saya tertarik ketika mendengar orang menggunakan istilah teknis — seperti karantina atau “super spreader” atau angka reproduktif – yang biasanya dipakai oleh saya dan kolega dalam pekerjaan sehari-hari.

Tapi saya juga mendengar pembaca berita dan tetangga mencampur-campur tiga kata penting: wabah, epidemi, dan pandemi.

Secara sederhana, perbedaan antara ketiga skenario penyebaran penyakit di atas adalah persoalan skala.

Wabah

Kecil, tapi luar biasa.

Dengan menelusuri penyakit-penyakit sepanjang waktu dan wilayah geografis, para ahli epidemiologi mengetahui cara memprediksi berapa banyak kasus penyakit yang normalnya terjadi di dalam periode waktu, tempat, dan populasi tertentu.

Sebuah wabah adalah peningkatan jumlah kasus yang jelas terlihat, meski kecil, jika dibandingkan dengan jumlah “normal” yang diantisipasi.

Bayangkan apabila tiba-tiba jumlah anak kecil yang terkena diare meningkat di sebuah tempat penitipan anak. Satu atau dua anak sakit mungkin saja normal di hari-hari biasa, tapi jika 15 anak sekaligus menderita diare, ini berarti wabah.

Baca juga: Dari Lucinta Luna sampai Virus Corona: Tips Jadi Pembaca Berita yang Kritis

Ketika sebuah penyakit baru muncul, wabah memang jadi lebih jelas terlihat karena jumlah kasus yang diantisipasi akibat penyakit itu masih kosong.

Satu contoh: klaster kasus pneumonia yang mencuat tak terduga di kalangan konsumen pasar di Wuhan, Cina. Pejabat kesehatan publik sekarang mengetahui bahwa peningkatan jumlah kasus pneumonia di sana merupakan wabah coronavirus tipe baru, yang kini diberi nama SARS-CoV-2.

Begitu otoritas kesehatan setempat mendeteksi adanya wabah, mereka langsung meluncurkan investigasi guna menentukan secara tepat siapa saja yang terdampak dan berapa banyak orang yang terkena penyakit.

Informasi itu kemudian digunakan untuk mencari tahu cara terbaik mengurung wabah dan mencegah bertambahnya penderita baru.

Epidemi

Lebih besar dan menyebar.

Epidemi adalah wabah yang menyebar di area geografis yang lebih luas. Ketika orang-orang di luar Wuhan mulai terdeteksi mengidap SARS-CoV-2 (yang menyebabkan penyakit bernama COVID-19), para ahli epidemiologi pun tahu bahwa wabah ini telah menyebar luas, yang menandakan bahwa upaya pengurungan tidaklah cukup atau sudah terlambat.

Ini bukan hal mengherankan, mengingat memang belum ada pengobatan atau vaksin yang tersedia. Tetapi penyebaran luas COVID-19 di seluruh Cina berarti bahwa wabah di Wuhan telah berkembang menjadi epidemi.

COVID-19 pertama muncul di Wuhan, Cina, pada akhir 2019 tapi dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Peta ini memperlihatkan semua negara yang terjangkit pada 5 Maret 2020. CDC

Pandemi

Internasional dan di luar kendali.

Dalam pengertian yang paling klasik, ketika sebuah epidemi menyebar ke beberapa negara atau wilayah di dunia, ia sudah dianggap pandemi.

Meski demikian, beberapa ahli epidemiologi mengklasifikasikan sebuah situasi sebagai pandemi hanya apabila penyakit itu berkembang di beberapa wilayah yang baru terdampak melalui penularan setempat.

Ilustrasinya begini. Apabila seorang turis Amerika yang terkena COVID-19 pulang dari Cina, maka itu belum pandemi. Tetapi ketika dia menulari beberapa anggota keluarga atau teman, maka ini pun masih jadi perdebatan (apakah pandemi atau bukan).

Tetapi jika timbul wabah baru setempat, maka para ahli epidemiologi akan setuju bahwa upaya mengendalikan penularan global telah gagal, dan menganggap perkembangan terkini sebagai sebuah pandemi.

Tidak cuma medis tapi juga politis

Pada dasarnya, yang dipedulikan ahli epidemiologi adalah pencegahan penyakit. Ini mungkin berbeda dengan yang dipedulikan pemerintah atau organisasi kesehatan internasional.

WHO dalam sejarahnya hanya pernah mengumumkan dua pandemi - untuk influenza pada tahun 1918 dan Influenza H1N1 di tahun 2009. Berminggu-minggu pada epidemiologis seperti saya sudah menyebut coronavirus sebagai sebuah pandemi.

Baca juga: Bagaimana Perempuan Indonesia dengan HIV/AIDS Berjuang dengan Stigma

Dari sudut pandang epidemiologis, pengumuman WHO ini sudah terlambat. Sampai 11 Maret, angka resmi telah mencapai lebih dari 120,000 kasus di setidaknya 114 negara. Delapan negara, termasuk AS memiliki lebih dari 1,000 kasus di tiap negara, dan penyebaran di masyarakat sudah terlacak di beberapa negara bagian AS.

Pandemi adalah tingkat tertinggi untuk darurat kesehatan global dan menunjukkan bahwa wabah yang meluas ini mempengaruhi banyak wilayah di dunia. Walaupun begitu, statemen-statemen dari WHO tetap berharap agar pandemi ini bisa dikendalikan dan kerusakannya bisa di minimalisir dengan mengambil tindakan-tindakan yang cepat dan aggresif.

Penetapan resmi COVID-19 atau penyakit menular lainnya sebagai sebuah pandemi akan mendorong pemerintah, badan terkait, serta organisasi bantuan di seluruh dunia untuk mengubah upaya pengurungan (containment) menjadi mitigasi.

Penetapan ini memiliki dampak terhadap sisi ekonomi, politik, dan masyarakat dengan skala global, dan WHO sangat berhati-hati ketika mengambil keputusan ini.

Meski demikian, penetapan resmi WHO tidak perlu membuat kita ketakutan atau buru-buru memborong masker. Ini bukan berarti virusnya makin menular atau tambah mematikan. Bukan pula berarti risiko Anda terkena penyakit ini makin meningkat.

Tapi ini akan menjadi sebuah kejadian bersejarah.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Rebecca S.B. Fischer, Assistant Professor of Epidemiology, Texas A&M University. Penerima dana penelitian dari National Institutes of Health Fogarty International Center.