December 06, 2016
Apakah Kita Memang Seorang Perempuan?

Apakah selama ini kita perempuan diberi label perempuan karena kita memang memiliki identitas itu atau hanya melihat kelaminnya saja?

by Avera Maharani
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Perempuan cantik dan modis yang saya wawancarai itu bernama Anggy. Ia dengan ramah menyambut saya meskipun kami baru saling mengenal. Dalam pergaulan sosial saat ini, orang akan cenderung mengatakan bahwa dia seorang transgender. Namun, dalam pandangan saya, dia adalah seorang perempuan, tidak kurang suatu apa pun.

Awal perkenalan saya dengan Anggy yaitu saat dia menulis sebuah curhatan yang menceritakan bahwa dirinya baru saja dipecat dari tempat kerjanya karena dia bagian dari kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Anggy adalah seorang perancang mode dan saya terkesan dengan desain pakaian yang ia buat. Meskipun bukan seorang ahli, saya bisa menilai bahwa dia seorang profesional.

Lalu muncul ketertarikan untuk mengetahui tentang Anggy lebih jauh. Saya sangat senang dengan tanggapan Anggy yang hangat dan dia mulai menceritakan tentang dirinya. Anggy mengatakan dia pernah menghadapi kejahatan seksual yang dilakukan oleh saudaranya sendiri. Hal itu, menurutnya, membuat dia menyukai sesama jenis. Namun, kurang lebih lima tahun yang lalu, dia merasa bahwa itu bukanlah dirinya yang sebenarnya.

Dengan keraguan dan ketidaknyamanan yang dirasakannya, dia berkonsultasi ke psikiater dan melakukan tes hormon. Tes itu menunjukkan bahwa hormon yang dimilikinya adalah 76 persen perempuan.

Kisah pencarian jati dirinya tidak sampai di situ. Dia masih harus meyakinkan keluarganya, coming out pada orang di sekelilingnya bahwa itu lah dirinya yang sebenarnya. Beruntung keluarga Anggy menerima itu semua, dan mementingkan kebahagiaan Anggy lebih dari segalanya.



Dari kisah hidup Anggy, saya berpikir bahwa masih ada banyak transgender di luar sana yang masih takut untuk menjadi dirinya sendiri. Dan masih banyak pula keluarga, serta orang terdekat dan sahabat yang masih belum bisa menerima jati diri seseorang jika mereka adalah transgender.

Lalu sebenarnya, apakah selama ini, kita para perempuan diberi label sebagai seorang perempuan karena kita memang memiliki identitas itu atau hanya melihat kelaminnya saja?

Ini bukanlah hal yang rumit, saya berpikir bahwa saya perempuan. Dan Anggy juga berpikir bahwa dirinya adalah perempuan, sesederhana cara berpikir saya sendiri. Yang menjadikan hal ini rumit justru menghadapi reaksi dari lingkungan sekitar, yang seharusnya sudah tidak mempermasalahkan hal ini lagi.

Bahwa seharusnya kehidupan perempuan seperti Anggy ini tidak dianggap sebagai suatu masalah. Because she is simply a woman, a very fine woman. Anggy yang sudah bersuami dan melakukan pernikahan di Belanda ini adalah seorang perempuan seutuhnya sama seperti kita semua. Seorang perempuan yang suka menyanyi, memasak, berbelanja, serta menggoda suaminya.

Maka pertanyaannya, apakah yang membuat kita sebagai seorang perempuan? Apakah jika kita menyukai warna pink lalu kita menjadi perempuan? Apakah jika kita menyukai sepak bola lalu kita adalah laki-laki? Seperti yang ditulis dalam American Psychological Association, “gender identity is one’s sense of oneself as male, female, or transgender.”

Hal ini bukan hanya saya sampaikan atas kepedulian untuk transgender, tapi untuk laki-laki dan perempuan pada umumnya. Apakah kita ingin dihargai dengan batasan sempit berupa alat kelamin, atau kita bisa merasa lebih diharga jika seseorang menilai siapa kita dari apa yang kita hasilkan?

Avera Maharani adalah mahasiswa jurusan hubungan internasional, anggota tim debat dan ingin menjadi penulis profesional.