January 14, 2019
Apakah Mengenakan Hijab Perintah Allah?

Mengalami kondisi kesehatan tertentu membuat penulis berkesimpulan bahwa hijab dan aurat bukanlah soal menutupi bagian tubuh tertentu.

by R.A. Gayatri W.M.
Issues // Politics and Society
Share:
Benarkah hijab adalah perintah Allah sehingga semua perempuan beriman wajib mengenakannya?

Saya akan  membahasnya dalam tiga aspek.

Pertama, dari aspek pemahaman mengenai aurat dan zina. Selama ini pemahaman muslim mengenai aurat adalah mengenai bagian tubuh yang harus ditutupi, bukan bagaimana seseorang harus mengendalikan dirinya sendiri. Selanjutnya, pemahaman mengenai menutup aurat dikaitkan dengan zina.

Pemahaman ini dapat kita tantang (challenge) dengan penemuan etimologi mengenai zina. Hukum mengenai “jangan berzina” dalam Alquran adalah hukum “lo tinaf” dari perintah yang diterima masyarakat bani Israil bersama-sama Musa. Secara etimologi sederhana, kata “tinaf” berarti melanggar akad atau kesepakatan pernikahan, maka “lo tinaf” seharusnya berarti “jangan melanggar akad pernikahan yang disepakati”. Sementara itu, kata “zina” secara etimologis berkaitan dengan pelacuran. Maka, “la takrobul zina” dalam Alquran lebih spesifik berkaitan dengan “jangan mendekati prostitusi”.

Sementara itu, ayat Alquran mengenai menutup bagian tubuh tertentu turun di masa ketika tidak tersedia payung hukum untuk melindungi perempuan dengan busana tertentu. Gaya busana tertentu merupakan penanda suatu golongan pada masyarakat adat di berbagai belahan dunia. Maka, jika Allah memerintahkan suatu cara berbusana, sebagaimana direkam dalam Alquran, hal itu berlaku secara kontekstual.




Pesan universal Allah, menurut saya, hijab dan aurat bukanlah soal menutupi bagian tubuh tertentu, melainkan melindungi diri dan sesama manusia dari kejahatan dan kekerasan. Adalah mustahil untuk mengendalikan bagaimana seseorang dapat berbuat sesuatu kepada kita. Oleh karena itu, pesan Allah untuk seluruh keadaan sesungguhnya adalah bagaimana kita mengendalikan diri kita dari berbuat buruk, menyakiti dan membahayakan orang lain.

Kedua, aspek kesehatan. Sebagai orang yang hidup dengan kondisi autoimun yang khusus menyerang tulang dan kulit saya, saya baru mengerti bahwa saya kekurangan vitamin D yang sangat parah setelah lebih dari 17 tahun mengenakan hijab. Saya juga baru mengerti bahwa vitamin D alami yang terbaik dihasilkan oleh kulit saya sendiri saat saya berjemur matahari pagi. Karena terbiasa tidak membuka bagian tubuh tertentu akibat indoktrinasi bertahun-tahun, bahkan di luar rumah untuk berjemur matahari, keadaan saya semakin memburuk.

Jika saya beranggapan bahwa Allah memberikan suatu perintah yang ternyata menjadi penyebab utama dari penyakit saya, tentu saja ini tidak masuk akal dan menghina Allah.

Kita menganggap adat istiadat dan budaya bangsa-bangsa yang mengenakan pakaian terbuka sebagai primitif. Padahal cara berbusana mereka sangat dekat dengan alam. Bukan hanya mereka memperoleh cahaya matahari pagi dan sore yang cukup untuk tulang yang kuat dan kulit yang sehat, tetapi mereka juga tidak memerlukan mesin pendingin atau kipas angin untuk menghindari terik matahari atau bekerja di rumah. Cara hidup seperti ini lebih bersahabat dengan alam, bahkan pola makan mereka dan bagaimana mereka memulihkan diri dari penyakit.

Aspek ketiga ialah dari segi spiritualitas. Mungkinkah Allah memerintahkan suatu kewajiban atau suatu anjuran untuk melakukan sesuatu yang berpotensi memunahkan dan memusnahkan kebinekaan di dunia? Bukankah kewajiban atau pun anjuran berhijab dan atau menutup aurat dengan pengertian berbusana tertentu berpotensi membuat punah dan musnah jutaan ragam gaya busana dari jutaan suku bangsa di dunia? Bukankah Allah sendiri yang menciptakan jutaan etnis itu dan mengilhami bagaimana mereka hidup termasuk berbusana?

Seorang ulama pernah menyampaikan bahwa salah satu kelebihan dari bumi Indonesia ialah bahwa kita dilimpahi cahaya matahari sepanjang musim. Oleh karena itu, bukankah tidak mengherankan jika busana kita juga menyesuaikan dengan alam kita dan dibuat dari bahan sesuai keanekaragaman hayati yang hidup di sekitar kita?

Mungkinkah itu juga yang menyebabkan para ulama awal yang memahami pentingnya cahaya matahari bagi tubuh perempuan yang didesain untuk mengandung, melahirkan dan menyusui, tidak menganjurkan muslimah di Nusantara yang menerima kenabian Muhammad dan kebenaran Alquran untuk berhijab?

Saya tidak ingin mengatakan bahwa doktrin menutup tubuh adalah bentuk kekerasan. Walaupun kehilangan akses terhadap vitamin D membuat saya mengalami iritasi kulit, hidup dengan berbagai sakit kulit bertahun-tahun, serta masalah tulang termasuk kehilangan semua gigi saya sebelum berumur 40 tahun.

Namun saya sungguh-sungguh ingin kita merenungkan mana yang benar-benar perintah Allah untuk semua keadaan (yang bersifat universal dan esensial) dan mana perintah Allah untuk keadaan tertentu  (yang bersifat kontekstual) sehingga tidak ada lagi perempuan sakit seperti saya.

R.A. Gayatri WM adalah seorang yang hidup dengan kondisi autoimun; menekuni studi sejarah, filsafat, teologi, dan studi perbandingan agama; aktivis dialog antar iman sejak 2009; cerpenis, novelis dan penyair.