July 11, 2019
Bagaimana Aku Berdamai dengan Agamaku Sendiri

Banyak ajaran Islam yang bertentangan dengan keyakinan pribadiku, namun aku lebih dari sekadar seksualitasku dan agama yang kuanut.

by Nami Fathya
Issues // Politics and Society
LGBT Agama Sarah Arifin 5 Thumbnail, Magdalene
Share:

Agama selalu menjadi bagian penting di dalam hidupku, tapi bukanlah sesuatu yang aku genggam erat-erat. Sebagai seorang muslim dan queer, aku selalu kesulitan menyeimbangkan seksualitas dan agamaku karena homoseksualitas dilarang keras dalam Islam (akademisi muslim progresif mungkin memiliki pendapat yang berbeda soal ini, tapi homoseksualitas memang secara umum dipandang tidak pantas oleh mayoritas muslim). Setelah bertahun-tahun berada dalam kebingungan, aku akhirnya menemukan setitik harapan.

Ini bukan kisah “menemukan jalan pulang ke agama” yang biasa ditemukan di majalah-majalah religius. Ini juga bukan tulisan akademis. Ini hanya sekedar refleksi diri. Satu buah pikiran. Sebuah opini.

Aku tidak pernah tertarik mendalami Islam selama ini, tapi aku suka mengamati komunitas muslim. Aku menyadari bahwa belakangan ini, komunitas muslim menjadi lebih konservatif dibandingkan 10 tahun yang lalu. Aku menyaksikan bagaimana tren konservatisme ini mengarah ke fundamentalisme dan radikalisme. Aku menyaksikan perpecahan di dalam komunitas muslim. Aku pernah mendengar komentar penuh kebencian dari orang-orang muslim terhadap orang lain hanya karena identitasnya. Mereka yang meneriakkan kafir, Cina, thogut (musuh Islam), komunis, dan lain-lain.

Sentimen dan kebodohan mereka membuat aku menjauh dari Islam untuk waktu yang lama. Aku merasa seperti makhluk asing di dalam komunitasku sendiri. Bahkan pergi ke masjid untuk beribadat dan melihat orang-orang mengenakan hijab syar’i serta menumbuhkan jenggot panjang membuatku merasa aneh.

Aku juga menghindari orang-orang queer yang religius karena menurutku, hal itu buang-buang waktu saja sebab keseimbangan di antara keduanya tidak akan pernah bisa tercapai. Aku pernah membaca interpretasi pandangan Islam yang lebih toleran terhadap homoseksualitas. Aku pernah membaca soal imam queer dan masjid-masjid yang ramah terhadap queer, dan aku merasa orang-orang ini tidak tahu apa-apa soal Islam. Kebanyakan karena para muslim liberal ini berasal dari negara-negara seperti Jerman, Inggris, dan AS, di mana para muslim umumnya memang lebih liberal daripada mereka di negara-negara mayoritas muslim. Menjadi minoritas, mereka berjuang secara umum karena agama dan kelompok etnis mereka sementara aku berjuang untuk seksualitasku.

Walaupun tidak sempurna, aku merasa lebih nyaman di dalam komunitas queer yang lebih berpendidikan dan berpikiran terbuka. Budaya queer sangatlah menarik. Kajian sekuler mengenai feminisme dan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) sangatlah menarik.

Namun aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang. Betapa pun jauhnya aku mengasingkan diri dari Islam, setiap azan dari masjid terdengar aku merasa ada panggilan untuk pulang. Jadi, aku mulai salat lagi, bahkan berpuasa Senin dan Kamis. Aku mulai membaca jurnal-jurnal tentang politik Islam dan Feminisme Islam. Ketika semua orang meninggalkanku, aku tahu Allah akan selalu ada di sini bersamaku. Aku merasa bahwa hubunganku dengan Allah lebih kuat daripada sentimen penuh kebencian dari sebagian komunitas Islam. Agama membuatku merasa lebih baik dan aku ingin tetap hidup bersamanya apa pun yang terjadi.

Aku tahu aku tidak akan pernah menjadi muslim sejati (kalau memang ada tolok ukur untuk menjadi muslim sejati). Aku tetap tidak mengenakan hijab. Aku masih menyukai perempuan. Aku tidak akan bisa bergaul dengan komunitas Muslim. Aku tidak akan pernah memeluk esensi dari menjadi seorang Muslim secara penuh, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya di jalan Allah yang Maha Benar. Bahkan aku mungkin masih akan masuk neraka. Masih banyak nilai-nilai inti Islam yang bertentangan dengan keyakinan pribadiku, dan aku tidak bermasalah dengan itu. Aku lebih dari sekedar seksualitasku dan/atau agama yang kuanut.

Agama memiliki fungsi yang berbeda bagi orang-orang yang berbeda. Bagiku, agama memberikan rasa damai, perlindungan, dan pemenuhan yang tidak dapat aku temukan di mana pun. Agama mengingatkanku untuk menjalani hidup yang sederhana. Agama memberiku tujuan. Memang agama itu abstrak. Aku mungkin tidak akan pernah bisa mengerti kenapa salat membuatku nyaman dan itu juga tidak apa-apa. Tidak perlu merasionalkan sesuatu yang irasional.

Inti dari semua ini adalah, aku tidak mau meyakinkan orang-orang untuk mengikuti caraku beragama atau menjauh dari itu. Kamu harus tetap melakukan apa yang membuatmu bahagia apa pun yang terjadi. Tidur dengan cewek-cewek bikin kamu bahagia? Lakukanlah, selama suka sama suka. Minum bikin kamu bahagia? Lakukanlah, asal jangan menyetir setelahnya. Menjalankan ajaran agama membuatmu bahagia? Lakukan, tapi jangan jadi brengsek dan memaksakan kepercayaanmu ke orang lain.

Aku sudah bisa mendengar orang-orang beragama memanggilku “munafik”. Kuacungkan jari tengahku untuk mereka.

Artikel ini diterjemahkan oleh Nikita Devi dari versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Nami Fathya, known as @namivague online, is a Jakarta based political science student. A self-proclaimed jack of all trades, she is particularly interested in politics, visual arts, and French new wave cinema.