Tak Cuma Picu Turbulens Pesawat, Krisis Iklim juga Jegal Perjalanan Kereta
Banjir yang melanda sejumlah wilayah pada pertengahan Januari menyebabkan pembatalan dan keterlambatan puluhan perjalanan kereta api. Gangguan operasional ini berdampak langsung pada penumpang. Mereka terpaksa mencari moda transportasi alternatif di tengah cuaca ekstrem.
Hera Diani, penumpang kereta api jarak jauh rute Bandung–Jakarta, menerima pemberitahuan pembatalan perjalanan secara mendadak pada (18/1) siang, saat ia sudah dalam perjalanan menuju stasiun.
“Saat itu aku sudah di taksi online menuju stasiun, tiba-tiba dapat kabar keretanya batal. Akhirnya putar balik ke Stasiun Tegalluar untuk naik kereta cepat Whoosh,” ujarnya kepada Magdalene, (19/1).
Ia mengaku panik karena bepergian bersama anak dan khawatir terjebak kemacetan jika beralih ke moda darat. Tiket Whoosh pun cepat habis karena banyak penumpang mengalami situasi serupa. Hera baru tiba di Jakarta pada malam hari.
Gangguan tidak hanya dialami penumpang kereta jarak jauh. Wahdini Adhani, 27, pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) lintas Jakarta–Bogor, juga terdampak keterlambatan akibat gangguan operasional.
“Saya jadi terlambat sampai kantor. Harapannya perawatan sarana dan prasarana bisa lebih ditingkatkan supaya kenyamanan antarkereta lebih merata,” katanya.
Baca Juga: Setiap Hari adalah Perang Saya Melawan Trauma, Kisah Jurnalis yang Menulis Palestina
Banjir Ganggu Operasi, KAI Rugi Miliaran Rupiah
PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) menyebut banjir menjadi penyebab keterlambatan hingga pembatalan perjalanan kereta di sejumlah wilayah, terutama di Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta dan Daop 4 Semarang.
Dalam periode 17–18 Januari, sebanyak 57 perjalanan kereta api dibatalkan. KAI mencatat kerugian mencapai Rp3,5 miliar akibat gangguan operasional tersebut.
“Ada dua titik banjir di wilayah Pekalongan dan satu titik di Daop 1 Jakarta Kota. Dampaknya bukan hanya pada operasional, tetapi juga pada citra dan kondisi finansial perusahaan,” kata Manajer Humas PT KAI Franoto saat dihubungi Magdalene, (20/1).
Franoto menjelaskan, jalur rel yang terendam banjir akan menjalani peningkatan kualitas lintasan. KAI juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memperbaiki sistem drainase di sekitar jalur kereta.
Ia mengakui pembatalan perjalanan KRL turut memicu penumpukan penumpang di sejumlah stasiun, meski KAI mengklaim memiliki data volume penumpang untuk mengantisipasi lonjakan.
“Kami memantau kondisi jalur secara real time melalui petugas di lapangan,” katanya.
Baca Juga: Kartu Pers Tak Lagi Cukup Melindungi: Intimidasi Jurnalis dalam Aksi Massa
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan lebat pada periode 20–26 Januari. Wilayah yang masuk kategori siaga antara lain Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Banten.
“Pengaruh dinamika atmosfer global, regional, dan lokal masih signifikan dan berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia,” tulis BMKG dalam keterangannya.
Rentetan gangguan transportasi akibat banjir ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur publik di tengah cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
















