September 07, 2015
Budaya 'Gym' dan Citra Tubuh yang Buruk: Pengalaman Saya

Setelah mengubah hidupnya dan turun berat badan, masalah baru dimulai: badannya tidak pernah dianggap cukup langsing atau kencang oleh para pelatih dan orang-orang di tempat kebugaran.

by Citra Amelia Rachmadani
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Beberapa tahun belakangan ini, masyarakat kita terutama penduduk kota mulai menyadari pentingnya bergaya hidup sehat. Pusat kebugaran, perlombaan maraton, festival yoga hingga bermacam-macam diet diperkenalkan. Semua demi membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.

Saya dulunya adalah wanita penderita obesitas. Keinginan untuk menurunkan berat badan muncul pada pertengahan 2013 karena saat itu saya mahasiswa semester akhir, sedang mencari pekerjaan dan seluruh perusahaan menghendaki karyawan dengan penampilan menarik, dan tentu saja untuk alasan kesehatan. Saya memutuskan untuk menjadi anggota di pusat kebugaran milik kampus. Tidak perlu waktu lama untuk menurunkan berat badan, saya hanya butuh enam bulan. Namun masalah mulai muncul ketika berat badan saya mulai memasuki kategori ideal.

Seorang pelatih pribadi yang bertugas di pusat kebugaran tersebut mulai mengoreksi bentuk tubuh saya; selulit yang masih menumpuk di paha, perut yang belum rata dan kencang serta massa otot yang masih jauh di bawah dari kriteria ideal.

Pertengahan 2014 saya memutuskan untuk lebih serius dalam latihan beban dan membeli beberapa suplemen kebugaran untuk menunjang program pembentukan badan. Saya bahkan menjadi lebih kejam terhadap diri saya. Saya bisa latihan dua hingga tiga jam sehari selama enam hari berturut-turut tanpa istirahat. Mengikuti dua kelas latihan sekaligus di hari yang sama dan menerapkan pola makan yang sangat ketat. Saya bahkan merasa tidak puas dengan pencapaian saya saat itu. Beberapa kenalan di pusat kebugaran tersebut dan pelatih pribadi terus saja mengoreksi kekurangan bentuk tubuh saya.

Sampai pada satu titik, bulan Maret 2015 saya menjadi lebih benci dengan tubuh saya. Saya merasa saya kurang menarik karena tidak memiliki bentuk perut yang rata dan kencang. Saya lebih mempercayai kata kenalan saya di pusat kebugaran yang mengatakan saya tak cukup kurus dan terlihat masih gemuk. Bentuk tubuh saya yang seperti buah pir membuat tubuh saya terlihat montok karena ukuran pinggul dan paha lebar bila dibandingkan dengan kelompok bentuk lainnya.

Saya mulai sering memuntahkan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh karena stress akut. Motivasi saya untuk pergi berolahraga di pusat kebugaran tak lagi untuk alasan kesehatan melainkan untuk memenuhi kepuasan visual orang-orang di pusat kebugaran tersebut.

Merasa hal ini mulai mengganggu kondisi psikis dan hubungan sosial, saya membicarakan masalah ini dengan seorang kawan yang saya kenal melalui Instagram dan dia adalah seorang pelatih pribadi di Jakarta.

Saya terhenyak dengan apa yang Deb Mahatmasari, kawan saya tersebut, katakan, “kita menghabiskan waktu kita membenci bentuk tubuh kita karena perkataan orang lain, bukan? Berolahraga menjadi hal yang penting karena itu adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Tuhan. Menjadikan tubuhmu sehat jauh lebih penting dari hanya memuaskan keinginan orang lain. Ingatlah, manusia akan terus mengoreksimu untuk apa yang kamu punya”.

Benar, perempuan lebih sering dituntut untuk menjadi langsing. Kita selalu dituntun untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak jelas itu. Apa yang dilakukan oleh pelatih pribadi dan kenalan saya di pusat kebugaran tersebut tak lain adalah memberi pengertian yang salah tentang standar kecantikan dan body image atau citra diri.

Apa yang kita lihat di majalah dimana model mengenakan bikini, memamerkan perut rata dengan sedikit definisi otot perut dan oblique merupakan hasil olah foto dan teknik pencahayaan yang dilakukan fotografer semata. Klaim tentang pil penurun berat badan yang mampu menurunkan berat badan hingga puluhan kilo dalam waktu cepat hanya taktik pemasaran produk yang digunakan perusahaan untuk meningkatkan penjualan. Media menjadi salah satu alat yang memberi pengertian yang salah tentang body image hal ini yang meningkatkan angka anorexia dan kematian akibat penyalahgunaan produk pelangsing.

Apa yang saya pelajari dari kejadian ini? Menjadi nyaman dengan apa yang kita punya, memiliki tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat serta menjadi percaya diri adalah definisi baru dari kata seksi. Yah, strong and fit is the new sexy. Dan saat ini motivasi saya untuk berolahraga untuk alasan kesehatan, definisi otot dan tubuh kencang adalah bonus dari kerja keras saya di pusat kebugaran.

Citra Amelia Rachmadani adalah lulusan Universitas Brawijaya, Malang. Ia suka angkat beban dan senang memotivasi perempuan lain untuk menjadi lebih sehat. Mengidolakan Andien Aisyah, ia dapat dikontak di Twitter lewat @ctramelia.