October 19, 2020

Demonstrasi, Kecemasan Orang Tua, dan Pelajaran untuk Melepaskan

Berita demonstrasi dan kabar anak-anak yang hilang selepas aksi memicu kecemasan sekaligus menjadi pengingat orang tua untuk belajar melepaskan.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Lifestyle
Share:

Ada sesuatu yang berubah ketika melihat berita demonstrasi besar-besaran di berbagai penjuru Indonesia, yang menolak pengesahan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja. Kecemasan saya meningkat melihat berbagai berita ini, terutama saat saya menoleh ke arah putra saya yang masih batita.

Sebagaimana demo tahun lalu, tidak sedikit anak sekolah yang diberitakan bergabung dalam aksi di berbagai tempat. Lalu muncul berita penangkapan anak-anak bocah itu. Foto-foto remaja tanggung yang dilucuti pakaiannya, dijemur, dan berhadapan dengan aparat. Ada juga kakak-kakak mahasiswa mereka yang dikabarkan “hilang” semenjak ikut aksi. Selain itu, potret orang tua yang menangis meminta anaknya pulang setelah demonstrasi menyebar di internet.

Saya memeluk putra saya erat-erat, sambil berharap ia tidak akan pernah menjadi salah satu demonstran yang diberitakan semacam itu.

“Nanti kamu ikut demo juga, ya. Jangan diam kalau ada ketidakadilan,” celetuk pasangan saya. Dia sewaktu kuliah dulu memang aktif berorganisasi dan mendukung gerakan-gerakan mahasiswa.

Saya mendelik. Di satu sisi, saya tahu ia ada benarnya. Namun di lain sisi, saya masih tidak kuat membayangkan risiko-risiko yang akan terjadi pada anak kami bila ia vokal di negara ini. Lebih lanjut terkait penerapan UU Cipta Kerja ini, saya tidak rela bila di masa depan ia menjadi pekerja di negeri ini, dan dieksploitasi atau dipandang sebelah mata haknya oleh pengusaha atau pemerintah. Keprihatinan saya membaur dengan kekhawatiran yang sedikit menyesakkan dada saya saban melihat berita nasional.

Ya ampun, kan masih jauh perjalanan anak kamu. Dia baru ulang tahun yang pertama.

Memang itu benar. Tetapi sebagaimana banyak orang tua lain yang berharap bisa mempersiapkan masa depan cerah buat anaknya, saya pun sudah berangan-angan membuat plan B, C, D dan seterusnya kalau kondisi di negara ini kian mencekik buat anak saya.

Di tengah kecemasan yang merayap ini, saya teringat kembali momen ketika saya melahirkan dia. Saya berikrar, hal pertama dan terberat yang harus saya pelajari seiring dengan menjalani peran sebagai orang tuanya adalah melepaskan. Melepaskan dia, melepaskan perasaan ingin mengontrol situasi, melepaskan kecemasan yang telah lama jadi “bakat” saya.

Saya dibesarkan oleh orang tua yang cenderung overprotective, inginnya bermain aman, jarang mempercayai anak, dan senang mengendalikan saya sesuai “jalur”. Pola asuh mereka tidak hanya di ingatan, tetapi berefek pula terhadap bagaimana saya menyikapi aneka kejadian dalam hidup.

Saya tumbuh menjadi gampang cemas dan mudah terpuruk ketika menemukan kegagalan atau ketidaksempurnaan, karena saya “belajar” untuk terus menjadi yang paling prima. Saya menjadi haus akan pengakuan orang, tetapi begitu mendapatkannya, saya masih merasa kosong.

Tentu pola asuh hanya menjadi satu dari banyak faktor yang membentuk sisi buruk diri saya ini. Tetapi setidaknya, dari situ saya memahami dan tumbuh keinginan untuk tidak mereplikasi pengalaman saya pada putra saya.

Baca juga: Pola Asuh Otoritatif yang Hangat namun Tegas Bermanfaat Bagi Anak

Intervensi hanya saat darurat

Dari beberapa buku dan artikel pengasuhan yang saya baca, orang tua pencemas punya kecenderungan untuk mengendalikan hidup anaknya sampai akhirnya yang terburuk terjadi: Melupakan bahwa anak adalah a person of his/her own, abai bahwa anak punya kehendak sebagaimana manusia lain dan bisa memilih hal di luar ekspektasi orang tua. Lebih buruk lagi, mereka yang berusaha untuk menyelamatkan anaknya dari kegagalan atau kekecewaan malah akan “merusak” anaknya. Kedengaran familier bagi saya.

Tak usah jauh-jauh berpikir ketika nanti anak saya remaja atau jadi mahasiswa dan memilih berdemo. Sekarang saja, anak saya sudah bisa memilih mana yang mau dia makan atau mainkan dan yang tidak. Biasanya orang tua mau anak gampang makan dan memainkan hal yang aman, tetapi itu tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Pasti ada momen anak jatuh, terluka, kecewa. Pasti akan tiba waktunya anak mengabaikan larangan, bantuan, atau keinginan orang tua.

Sebuah pelajaran yang bagus tentang ini saya dapatkan dari buku The Danish Way of Parenting karya Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl. Mereka menganalogikan, saat anak memanjat kayu  dan jatuh, kali pertama orang tua akan memberikan uluran tangan. Namun berikutnya, berdasarkan pola asuh orang-orang Denmark, orang tua akan hanya menjulurkan sebuah jari untuk membantu anak berdiri, dan selanjutnya membiarkan anak berusaha sendiri. Bukan berusaha mengangkat atau memaksanya.

Penting bagi orang Denmark untuk tidak mengintervensi anak kecuali darurat. Pasalnya, mereka berpikir, anak-anak bisa melakukan hal baru dan butuh ruang untuk membangun kepercayaan diri sendiri.

Seiring bertambahnya usia, anak akan punya kemampuan memilih dan beropini. Tidak jarang pilihannya tersebut berseberangan dengan yang orang tua inginkan dan ini merupakan hal lain yang perlu belajar dilepaskan oleh orang tua.

Dari buku Keluarga Kita yang ditulis Najeela Shihab, saya belajar menghadapi situasi ini. Ia menyarankan, dalam berkomunikasi dengan anak, meskipun orang tua tidak melulu 100 persen sepakat dengan pendapat anak, mereka perlu menyatakan persetujuan atau menemukan titik tengah untuk bersepakat. Caranya bisa dengan mengatakan, “Pendapat kamu benar juga”, “Aku setuju dengan pendapat kamu”, atau “Yuk, buat kesepakatan”.

Saya memahami ini sangat penting untuk diterapkan karena saya pernah merasakan penolakan ketika beropini atau bertanya pada orang tua. Saya pernah mendapatkan jawaban, “Pokoknya kalau dibilangin orang tua harus nurut” atau sejenisnya. Ini meneguhkan relasi hierarkis anak-orang tua sementara pada saat itu, khususnya waktu beranjak remaja, saya lebih membutuhkan relasi pertemanan dengan mereka.

Baca juga: Rasa Bersalah, ‘Teman Toksik’ Para Ibu yang Perlu Diputuskan

Saya mau sekali melihat anak saya menganggap saya sebagai teman dalam perjalanan hidupnya. Kontrol dan pengawasan yang tidak berlebihan tentu akan tetap saya dan pasangan terapkan selagi dia berusia anak. Tetapi kami ingin dia tahu, dia punya kami untuk berbagi tanpa rasa segan, malu, atau ketakutan dihakimi.

Pelajaran melepaskan juga penting diterapkan berkenaan dengan kesehatan atau nyawa anak. Saya sadar bahwa saya tidak bisa mengendalikan apa pun yang terjadi dalam tubuh anak saya. Berusaha tentu bisa, memberikan asupan yang baik, menjaganya untuk tidak mendekati barang berbahaya, mengobatinya sesuai saran dokter, tapi urusan terkena penyakit, virus, atau bakteri yang tak kasat mata, siapa yang bisa mengendalikan?

Terdengar ekstrem mungkin, tetapi saya tetap membayangkan bila suatu hari dia tidak ada di tengah-tengah kami lagi. Atau begitu menginjak 18 tahun, dia akan pergi melanjutkan studi atau bekerja, dan perlahan waktu kebersamaan kami terpangkas banyak. Atau mungkin dia akan melupakan orang tuanya, atau tidak suka lagi dengan kami karena berbeda pandangan. Ini semua bukan untuk mengompori kecemasan diri, tetapi pengingat bahwa hidup akan terus berjalan dengan atau tanpa keberadaan anak saya, dan apa yang akan saya lakukan setelahnya.

Di tengah pandemi, saya mendengar banyak orang kehilangan pekerjaan dan pemasukan, bahkan di antara mereka ada yang anaknya putus sekolah. Saya pun melihat sisi gelap itu di ujung terowongan hidup saya: Bagaimana kalau saya dipecat atau perusahaan bankrut, bagaimana kalau pasangan juga kehilangan pekerjaan, bagaimana kalau kami tidak bisa menyekolahkan dan memberi makan bergizi pada anak? Pikiran-pikiran intrusif ini menggoda sekali, tetapi lagi-lagi, saya mendaraskan mantra “let it go” karena masa depan tidak ada yang mengetahui.

Belajar melepaskan dan berusaha tidak terjerembap di pikiran yang akan datang dan ketidakpastian juga bermanfaat bagi saya, karena saya didorong terus untuk hadir di masa kini. Menikmati tiap detik yang lewat, tiap kesusahan, tangis, geregetan, amarah yang muncul ketika saya menjalani peran ibu dan selagi anak saya masih tertatih berjalan dan belum lancar bicara. Masih senang berada di gendongan saya dan belum berpikiran untuk kelayapan sepanjang hari tanpa kabar.  

Kata-kata saya ini boleh jadi terdengar teoretis atau muluk, apalagi mengingat hal-hal yang tadi saya katakan memicu cemas belakangan ini. Omong kosong orang tua tidak merasa nelangsa dan kecewa saat sesuatu yang tak terkontrol terjadi. Tetapi, tulisan ini adalah upaya saya untuk mengingatkan diri, juga berbagi kepada para orang tua lainnya, bahwa melepaskan adalah pelajaran yang melekat dari peran sebagai ibu dan ayah, sama halnya dengan kewajiban dan hak kita sebagai orang tua yang muncul begitu anak lahir.

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop