January 19, 2026
Culture Opini Screen Raves

Pengalaman Saya Nonton ‘Dracin CEO’, Hiburan dengan Plot yang Itu-itu Saja 

Micro-short drama terlihat seperti hiburan yang tidak berbahaya. Plotnya bahkan tak jauh beda satu dengan yang lain. Namun, ada dampak buruk yang menunggu psikologi penontonnya.

  • January 19, 2026
  • 6 min read
  • 74 Views
Pengalaman Saya Nonton ‘Dracin CEO’, Hiburan dengan Plot yang Itu-itu Saja 

Saat sedang nongkrong, tetiba teman saya berkata, “Gue lagi nunggu bapak gue ngaku kalau dia CEO, gue yakin banget sebenarnya dia nyamar.” Saya tahu dari mana lelucon itu berasal: Short-micro drama yang iklannya muncul setiap menggeser reels Instagram atau FYP TikTok.  

Saya tahu karena menonton iklan aplikasi penayang drama, terkadang sampai selesai. Terdengar buang-buang waktu memang, tetapi kadang penasaran mengalahkan logika. Pun demikian, yang iklan berikan tentu saja tidak utuh. Sekali lagi, hanya untuk memuaskan rasa penasaran, saya unggah aplikasi yang menayangkan drama tersebut.  

Setelah beberapa kali menonton, saya sadar, semua drama semacam itu memiliki plot yang sama. Seorang borjuis yang menyamar jadi warga kelas menengah-bawah untuk mengetes cinta pasangannya. Ia akan direndahkan oleh orang-orang sekitar, entah mantan kekasih pasangannya, keluarga pasangannya, atau bahkan dikhianati anak buahnya. 

Di akhir cerita, pemeran utama akan meluruhkan penyamaran dan membalas orang-orang yang sempat merendahkannya. Entah dibuat bangkrut karena ternyata sang pemeran utama adalah investor, memerintahkan polisi untuk menangkap para antagonis dalam drama tersebut.  

Saya pun bertanya-tanya, kalau semua plotnya sama, kenapa drama seperti ini terus diproduksi dengan pemain yang berbeda? Bukankah itu artinya ada permintaan yang terpenuhi? Namun siapa yang meminta dan kenapa mereka menginginkan drama semacam ini?  

Baca juga:‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup 

Menyelami Dracin 

Untuk permulaan, saya mengunggah tiga aplikasi yang menayangkan drama-drama tersebut. Dari iklan Instagram, saya mendapatkan aplikasi bernama NetShort. Ketika membukanya, saya dihadapkan pada berbagai judul drama.  

Ciri-ciri produknya seragam: Setiap episode berdurasi 1-5 menit, ada sekitar 70-80 episode untuk menyelesaikannya, dan hanya bisa menonton secara gratis untuk beberapa episode pertama. Saya memilih menonton drama berjudul ‘I’m Not a Plumber, I’m the Hidden Heir’ di aplikasi NetShort.  

Drama ini bercerita tentang lelaki bernama Leon yang drop out dari kampus untuk menjadi tukang ledeng demi membiayai biaya pengobatan ayahnya. Meski begitu, orangtua Leon ternyata hanya berpura-pura meminta bantuan. Mereka sebenarnya borjuis yang memakai kain sutera dan berendam di kolam berenang pribadi setiap malam.  

Saat ibu Leon komplain atas kehidupan anaknya yang sulit, sang ayah menjelaskan itu adalah didikan yang diturunkan keluarganya. Penyamaran tersebut membantu Leon menjadi orang yang tangguh dan tidak dimanjakan kekayaan. Saya sebetulnya bingung dengan penjelasan tersebut.  

Jika memang didikan tersebut sudah turun-menurun, kenapa juga Leon enggak tahu hal tersebut? Bukannya dia seharusnya melihat atau mendengar kisah saudaranya yang dipaksa hidup susah untuk menjadi tangguh? Akhirnya saya mengambil kesimpulan sendiri: Mungkin mereka tipe keluarga kaya yang tidak punya kedekatan emosional.  

Baca juga: ‘Mens Rea’: Fakta Lama dan Kepanikan Moral yang Enggak Perlu 

Membingungkan 

Cerita kemudian berkembang, membawa Leon bertemu perempuan bernama Serena. Diceritakan, Serena adalah remaja kaya-raya dari keluarga yang memiliki perusahaan besar. Ia dan Leon menimba ilmu di universitas yang sama, hingga Leon akhirnya keluar karena ‘masalah ekonomi’. Julukan Serena di universitas: ‘Ratu kampus’.  

Kisah pertemuan keduanya cukup janggal. Leon, yang selalu tertarik pada Serena secara fisik, mendapat panggilan untuk memperbaiki pipa kamar mandi di apartemen yang bocor. Ternyata, kebocoran terjadi di kamar sang ratu kampus. Di tengah perbaikan pipa, Serena kedatangan tamu, lelaki bernama Theo.  

Serupa dengan Serena, Theo juga adalah anak pengusaha kaya. Keduanya dijodohkan oleh orangtua dengan tujuan merger perusahaan. Namun, dalam drama ini, Theo digambarkan sebagai tokoh kurang ajar. Ia datang ke apartemen dalam keadaan mabuk dan ingin memperkosa Serena.  

Leon pun menyelamatkan Serena. Ia memukul jidat Theo dengan kunci inggris besar, menghentikan percobaan pemerkosaan itu. Theo lantas bangkit dalam keadaan marah dan segaris darah mengalir di dahinya. Kebingungan kembali muncul. Sekuat apa Theo bisa bangkit dalam hitungan detik setelah dipukul kunci inggris?  

Saat Theo ingin membalas, Serena mencegahnya dengan mengatakan Leon adalah pacar barunya. Untuk membuktikan, Serena mencium Leon di hadapan Theo. Setelah ia pergi, Serena ditelepon ayahnya yang ikut-ikutan marah karena membuat Theo marah. Tak terima dimarahi, Serena mengembalikan apartemen dan semua uang yang diterimanya dari sang ayah.  

Singkat cerita, ratu kampus yang tak memiliki tempat tinggal kebingungan. Ia kemudian menerima tawaran Leon untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Cerita dilanjutkan dengan Leon dan Serena yang bertahan saat direndahkan orang-orang di sekitarnya, sembari menumbuhkan rasa cinta.  

Semua itu berlangsung hingga akhirnya orangtua Leon menampakan diri untuk membuka identitas asli anaknya. Mereka yang merendahkan mendapatkan balasan. Jujur, begitu banyak yang harus diproses, hingga saya tak berhenti mengerutkan dahi sembari menonton. Sebelum menjawab satu kebingungan dengan asumsi, drama ini bikin saya punya kebingungan lain. 

Baca juga: Bagaimana Media Jadi Sponsor Kekerasan: Pelajaran Penting Usai Baca ‘Broken Strings’ 

Kesulitan dalam Menonton  

Saya hanya bisa mengerti drama ini dari visual dan subtitle. Jika kamu berpikir karakter Leon, Serena, dan Theo berbicara Bahasa Inggris, kamu salah. Mereka berbicara Bahasa Mandarin.  

Netizen kerap memanggil hiburan semacam ini dengan sebutan ‘dracin’ atau drama Cina. Saya mendapatkan berbagai kesulitan dalam menonton dracin. Selain karena plot yang itu-itu saja, iklan yang harus saya saksikan setiap ingin membuka episode sangat mengganggu.  

Setidaknya, saya harus menunggu iklan 40 detik untuk membuka satu episode. Dalam satu hari saya bisa membuka 10 episode. Jika kuota tersebut sudah habis, saya harus menunggu 24 jam kemudian untuk mendapatkan kuota baru. Jadi, untuk menghabiskan satu series yang jika ditotal berdurasi 2 jam, saya butuh satu minggu.  

Entah mengapa dracin punya daya tarik yang membuat penontonnya melekat. Menurut penelitian berjudul ‘Daya Tarik Short Drama China: Fenomena Konsumsi Cepat dalam Perspektif Psikologi Sosial’, format yang singkat, tetapi padat secara emosional membuat orang menonton dracin.  

Dalam penelitian itu, Nadia (2025) menuliskan konsumsi dracin yang cepat memerikan hiburan yang efisien dan kedekatan emosional pada penontonnya. Sementara, Professor dari East China Normal University, Tang Yonghua berpendapat micro-short drama mengandalkan jalan cerita yang memberikan kepuasan pada penonton.  

Khalayak akan merasakan kepuasan setiap protagonis dalam film ini naik tingkat. Mereka akan menunggu protagonis menghabisi antagonis yang sangat menyebalkan. Selain empati pada tokoh utama, penonton dibuat merasa lebih pintar dengan menertawakan adegan tak masuk akal dan bisa menangani keadaan dengan lebih baik.  

Namun, penelitian berjudul “Research on the Motivations and Cognitive Changes of Older Groups Watching Micro-Short Dramas in the Smart Media Era” mengatakan dracin bisa berpengaruh buruk pada mental.  

Melakukan survei terhadap penonton dracin berusia tua, YU Qinghua (2025) mengatakan responden yang terlalu dalam memakai perasaan dalam menyaksikan micro-drama bisa kesulitan memisahkan dirinya. Mereka akan merasa dracin adalah realitas dan kecewa jika jalan hidup tidak sesuai dengan plot instan yang ada di dalamnya.  

Sayangnya di hidup ini tidak ada yang instan, untuk mengakses plot yang penuh keinstanan itu saja saya harus nonton iklan dan menunggu kuota episode gratis terisi kembali.  

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.