January 17, 2020
Feminis Tak Melulu Marah-Marah, Rasa Humor Perlu untuk Hadapi Masalah

Penggunaan humor tidak mengecilkan gagasan feminisme, malah mengafirmasi pengalaman perempuan.

by Patresia Kirnandita, Junior Editor
Issues // Politics and Society
Share:

Pada Desember 2019, Presiden AS Donald Trump menyerang aktivis lingkungan penyabet gelar Person of the Year 2019 versi majalah Time, Greta Thunberg. Dalam cuitannya di Twitter, Trump mengatakan remaja 17 tahun itu punya masalah dalam mengelola amarahnya. Ia menambahkan bahwa Greta mesti lebih santai, misalnya dengan pergi menonton film bareng teman-temannya.

Ejekan Trump ini mendapatkan protes keras dari sebagian warganet. Namun Greta, yang didiagnosis memiliki sindrom Asperger, merespons dengan elegan. Alih-alih menyerang balik secara langsung, Thunberg menggunakan olok-olok Trump untuk mengganti bio Twitternya: “Seorang remaja yang sedang berusaha mengatasi masalah pengelolaan amarah. Sekarang sedang santai dan nonton film lawas bareng teman.”

Strategi yang diterapkan Greta bukan hal baru dalam dunia aktivisme. Sarkasme, satir, dan lawakan sering dipakai saat orang-orang hendak mengangkat isu rasialisme, ketimpangan kelas, dan sebagainya, termasuk juga feminisme.

Feminis termasuk yang sering dicap tidak punya rasa humor dan dituding “galak”. Sebagian pihak yang menyebut diri feminis ditemukan “marah-marah”, baik di dunia online maupun offline, demi memasukkan nilai yang dipercayainya kepada orang-orang yang memegang pandangan tradisional dan normatif. Tidak sedikit dan tidak jarang yang langsung mendamprat siapa pun yang tidak sepaham.

Menertawakan suatu masalah bukan berarti menganggapnya kecil. Itu bisa menjadi cara paling efektif dan kuat dalam menguak masalah tersebut dan kemudian mengatasinya.

Memang kita perlu marah atas ketidakadilan, dan rasa kesal sering kali tidak terhindarkan saat mendapati hal yang melecehkan, merendahkan, atau tidak adil bagi perempuan. Namun ini menjadi perkara karena selain tindakan tersebut dirasa tidak menghargai pihak lain yang berbeda pendapat, cara marah-marah malah mendatangkan tudingan bahwa feminis tidak bisa mengomunikasikan gagasannya dengan baik. Dan sering kali amarah itu langkah tidak strategis dan mendatangkan pukulan balik bagi gerakan.

Saya ingat, dalam sebuah acara seputar feminisme dan media, seorang pembicara sempat mengatakan bahwa sebagai feminis, kita tidak perlu memaksakan keyakinan kita kepada sekitar yang berbeda pandangan. Yang kita lakukan adalah menyebarkan informasi bahwa ada cara pandang alternatif terhadap suatu realitas. Tentu saja yang lebih adil gender. Bagaimana caranya? Macam-macam. Satu di antaranya adalah lewat humor, sejalan dengan pilihan tindakan Greta.

Berikut ini beberapa gambaran bagaimana komedi atau humor digunakan para perempuan untuk menyuarakan nilai-nilai feminisme atau kritik terhadap situasi sosial.

Stand up comedy

Awalnya, ada pandangan seksis bahwa perempuan itu tidak bisa melucu. Komedian-komedian perempuan dianggap garing. Kalaupun mereka ada di atas panggung, hal yang diceritakan untuk ditertawakan adalah kondisi mereka yang terkait keperempuanan atau ketubuhannya. Menghina diri sendiri menjadi pilihan sebagian perempuan dalam melontarkan cerita humor.

Seiring waktu, muncul perempuan-perempuan yang lebih percaya diri, cerdas, cerdik, dan mengundang tawa sebanyak yang dilakukan komedian laki-laki. Lebih jauh lagi, menghina diri sendiri sebagai strategi melawak bergeser. Setidaknya itu yang diungkapkan oleh komedian Australia, Hannah Gadsby, yang kebetulan bertubuh tinggi besar dan seorang lesbian.

Dalam pertunjukan stand-up comedy-nya yang bertajuk Nanette yang ditayangkan Netflix, ia berkomentar, “Saya sudah lama mempertanyakan hal terkait komedi. Saya tak begitu nyaman lagi di dalamnya… Saya membangun karier dengan humor menjelekkan diri dan saya tidak mau lagi melakukan itu. Karena, kamu tahu artinya menjelekkan diri ketika itu muncul dari seseorang yang termarginalkan? Itu bukan kerendahan hati. Itu mempermalukan diri. Saya mengkritik diri saya sendiri saat mengatakan ini.”

Baca juga: 'Perempuan Berhak' Ruang Nyaman Bagi Komika Perempuan

Pendapat Gadsby ini senada dengan argumen dalam penelitian tahun 2018 dari dari Iowa State University, mengenai retorika feminis dalam stand-up comedy. Dulu, komedian perempuan memakai strategi ­self deprecatory atau mengejek diri sendiri guna mengundang tawa penonton. Kini, strategi tersebut bergeser. Mereka mulai tampil sebagai sosok-sosok perempuan percaya diri, seksi, provokatif, dan tentu saja, jenaka.

Di samping itu, penelitian tersebut juga menyoroti bagaimana stand-up comedy digunakan oleh feminis sebagai sarana untuk melakukan aktivisme tanpa terkesan terlalu ngegas. Lewat lawakan, mereka membagikan potongan-potongan keseharian mereka sebagai perempuan. Yang mereka sampaikan di dalamnya bukan sekadar seloroh asal lewat, tetapi juga kritik terhadap kondisi ketika mereka menghadapi diskriminasi dan stigma karena alasan gender dan tradisi. Komedi yang dibawakan perempuan menyuguhkan cara pandang alternatif terhadap realitas—yang selama ini sering kali dinarasikan oleh laki-laki.

Ambil contoh lelucon komika India, Aditi Mittal. Dalam pertunjukannya yang berjudul Things They Wouldn’t Let Me Say, ia mengkritik tekanan sosial terhadap perempuan lajang usia kepala tiga. “Saya sadar, berusia 30 dan melajang serta menjadi perempuan India itu seperti menjadi Tupperware yang ditaruh di bagian belakang kulkas, lalu kamu bertanya, ‘Apakah ini (isi Tupperware) masih bagus?’,” kata dia.

Sementara itu, kritik terhadap stereotip perempuan berpredikat janda dan ibu tunggal sempat dilontarkan komika Mega Syalsabillah, jebolan Stand Up Comedy Academy di Indosiar. Di samping keresahan tersebut, ia juga mengangkat stigma terhadap perempuan berhijab sepertinya yang sering dihakimi karena bertato.

Baca juga: Magdalene’s Mind Live Podcast: Komedi dan Cerita Tentang Beragama

Media sosial

Pelecehan seksual yang gampang ditemukan di dunia kencan online mendorong Alexandra Tweten menciptakan akun Instagram dan Twitter @byefelipe. Ia mempertontonkan kelakuan buruk para laki-laki di fitur percakapan kencan online ketika mereka ditolak atau diabaikan, seperti percakapan berikut:

Kemudian, di Twitter ada akun @NoToFeminism. Ini bukan akun untuk menyerang para feminis, tapi menjadi ruang satir dan parodi dari gerakan anti-feminisme. Salah satu cuitan akun berpengikut 159 ribu tersebut berbunyi, “I don’t need feimsis the Georgia abortion bill makes SENSE. Unborn fetuses are humans worthy of consideration but adult woman are not! And once the fetus grows up and becomes a woman, it goes back to not mattering. It’s #simple #abortion #math.”

Baca juga: ‘Call-Out Culture’ di Media Sosial: Berfaedah atau Bikin Lelah?

Unggahan-unggahan feminis media sosial sering pula dibubuhi meme. Popularitas meme di kalangan anak muda, ditambah pemakaian gambar-gambar yang populer di dalamnya, membuat informasi yang dilekatkan dengan meme lebih mudah menyebar dan diserap.  

Ada yang menganggap bahwa penggunaan humor mengecilkan gagasan-gagasan feminisme. Namun pendapat itu disanggah banyak pihak, termasuk Lisa Merrill, akademisi AS yang menulis artikel “Feminist Humor: Rebellious and Self-Affirming”. Ia menyatakan, materi lawakan feminis mengafirmasi pengalaman para perempuan. Bukan sosok-sosok perempuan tersebut yang ditertawakan dalam humor feminis, melainkan kekangan terhadap merekalah yang dianggap konyol, ujarnya.

Sependapat dengan Merrill, pendiri situs aktivisme Everyday Sexism Project, Laura Bates juga mengatakan kepada The Guardian, “Menertawakan suatu masalah bukan berarti menganggapnya kecil. Itu dapat menjadi cara terefektif dan paling kuat dalam menguak masalah tersebut dan kemudian mengatasinya.”

Pilihan sebagian orang untuk menggunakan humor dalam aktivismenya tidak terlepas dari preferensi audiens. Tidak semua orang yang tertarik pada isu kesetaraan gender mau dan bisa mengonsumsi materi-materi serius seperti yang disampaikan dalam seminar atau diskusi. Bahasa-bahasa sederhana dan jenaka lebih gampang mereka serap dan kemudian harapannya, nilai yang ditransfer dalam humor feminis bisa mereka terapkan.

Tak selamanya masalah dapat selesai dengan marah-marah atau ceramah. Mengambil kacamata lain dan memandang masalah itu dari sisi berbeda, kemudian menertawakannya, bukan opsi yang mustahil diambil. Humor itu membikin nyaman, menularkan solidaritas, untuk kemudian kita pakai sebagai senjata melawan tekanan-tekanan yang ada.  

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop