January 18, 2018
Feminisme Juga Butuh Laki-laki

Laki-laki perlu jadi bagian dari gerakan feminisme karena di tengah masyarakat patriarkal, suara mereka akan lebih lantang terdengar.

by Maryam Jameelah
Issues // Politics and Society
Share:
Selama setahun belakangan, saya dan beberapa teman di Malang, Jawa Timur, sedang merintis sebuah embrio gerakan feminis. Kata embrio menjadi tepat mengingat gerakan ini masih sangat kecil dan rapuh. Kami tidak bermuluk-muluk ingin menghancurkan masyarakat patriarkal, menciptakan suatu tatanan masyarakat baru yang adil dalam melihat perbedaan, peka terhadap gender dan bersih dari segala jenis seksisme. Tapi itu ada di mimpi kami, meski kami tahu itu sangat jauh. Kami sadar mimpi-mimpi itu hanya akan terwujud bersama dengan komunitas atau organisasi lain yang bervisi sama, terutama laki-laki, yang mendominasi peta gerakan masyarakat sipil di Malang.

Gerakan melawan budaya patriarkal, yang sudah bertengger di tiap asumsi filosofis dan landasan berpikir masyarakat, benar-benar berat dan membutuhkan teman. Oleh sebab itu, gerakan kami di Malang selalu melibatkan komunitas-komunitas lain yang sudah lebih dulu ada dan mapan. Komunitas-komunitas tersebut selalu rendah hati untuk berbagi ilmu dengan kami. Mereka selalu mengingatkan hal yang sama: “Bergerak di wilayah keadilan gender akan sangat berat, akan kering dukungan, akan menjadikan banyak kawan berguguran. Kalian harus kuat menghadapi hal itu.”

Awalnya kalimat itu berlalu begitu saja, sampai akhirnya kami benar-benar merasakannya sendiri. Bahwa tidak semua orang dan komunitas maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain bisa menerima gerakan ini. Seperti yang mudah ditebak, hujatan cukup sering datang menerpa. Beberapa dari para komunitas yang didominasi laki-laki. Beberapa mendahulukan prasangka hingga muncul pernyataan semacam, “Kita kan musuhnya sama, perjuangan kita untuk keadilan sama. Harusnya kalian mendukung bukan mengoreksi”, atau, “Apa sih gerakan perempuan itu, nambah-nambahin konflik saja. Hari ini perempuan sudah diberi ruang kok enggak bersyukur”.

Kami memahami betul bahwa prasangka dan konflik adalah buah dari dialog yang tidak selesai. Tapi sayangnya, selama ini tidak pernah ada dialog, hanya ada cemooh. Jangankan dialog, mendengar kata feminis saja yang muncul sepertinya perasaan ngeri sembari membayangkan perempuan-perempuan jalang yang tak punya rasa bersyukur. Stigma bahwa feminisme adalah gerakan egosentris yang menyuarakan kesetaraan namun hanya memikirkan satu gender benar-benar sudah meradang.

Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana definisi keadilan yang diperjuangkan bisa muncul jika tak ada ruang bagi subyek-subyek subordinat seperti perempuan, gender ketiga, atau ras-ras yang diperlakukan inferior untuk mendefinisikan keadilan? Ini menunjukkan fakta bahwa keadilan didefinisikan secara sepihak oleh subyek dominan. Bagaimana bisa ada kesetaraan khas suara-suara kiri jika mendengarkan pendapat perempuan saja terburu-buru untuk tersinggung?




Ingin sekali kami menjelaskan bahwa feminisme bukanlah tentang meninggikan perempuan, tetapi feminisme adalah tentang kesetaraan. Tentang bagaimana laki-laki perempuan maupun gender ketiga bisa memiliki ruang akses keadilan yang sama. Bagaimana definisi keadilan dari setiap subyek dapat bertemu dan terealisasi.

Lalu mereka buru-buru akan menyanggah, “Kalian itu yang dipikirkan laki-laki perempuan saja. Ada hal lain yang lebih penting. Ada ribuan orang yang tidak bisa makan karena kelaparan, ada  orang-orang yang tertindas oleh kejahatan negara. Persoalan revolusi jauh lebih penting daripada sekedar konflik kecil yang kalian anggap penindasan. Sekarang yang terpenting kita merebut hegemoni dari penguasa.” Dan kami akan berkata dalam hati, syukur-syukur jika berani menjawab dengan lantang: “Persoalan penindasan terhadap perempuan akan tetap ada. Apakah kalian yakin revolusi akan menghilangkan penindasan terhadap perempuan? Kami para perempuan saja bergidik mendengar kata hegemoni.”

Apakah hasilnya akan sama jika hegemoni dipegang mereka yang di hatinya masih ada prasangka, dan bahkan enggan memberi subyek subordinat ruang untuk berbicara tentang keadilan menurut pendapatnya sendiri? Selama kita belum selesai mendudukkan keadilan dengan sudut pandang yang seimbang, itu sama menakutkannya dengan kondisi hari ini.

Para pegiat feminisme tidak pernah ingin meninggi. Kami hanya ingin berbagi ruang gerakan yang nyaman. Ruang tanpa seksisme dan prasangka. Ruang tanpa disproporsi keadilan dan opresi. Ruang yang tidak mungkin dicapai tanpa bantuan lelaki. Tanpa pemahaman laki-laki bahwa seksisme itu bukan joke populis. Bahwa kami pun berusaha membebaskan laki-laki dari stereotip. Kami percaya tak semua laki-laki berjiwa patriarkal. Masih ada para lelaki yang tidak membiarkan produk patriarki menguasai pikiran mereka. Masih banyak laki-laki yang adil sejak dalam pikiran.

Dan kami menginginkan mereka menjadi bagian di dalamnya. Mengapa demikian? Karena sebagai laki-laki yang hidup di zaman patriarkal, suara mereka akan lebih lantang terdengar. Tak ada orang yang akan mengatai mereka jalang atau perempuan tak tahu diuntung. Mengapa? Karena mereka laki-laki. Karena sebenarnya mereka telah memegang hegemoni.

Percayalah, kami tidak merendahkan kalian. Kami bahkan mengakui kemampuan kalian mengendalikan wacana saat ini. Dengan kalian berdialog dengan kami dan memahami tujuan yang sama, mungkin kelak kalian akan mau tampil bersama dan menyuarakan keadilan yang interseksional. Karena kami tak memungkiri, bahwa sampai hari ini suara laki-laki masih menjadi suara yang paling di dengar.

Feminisme bukan gerakan yang ingin menyingkirkan laki-laki, namun justru kami ingin meluhurkan laki-laki bersama-sama dalam ruang yang seimbang.

Maryam Jameelah aktif sebagai konselor Women Crisis Center Dian Mutiara Malang dan tergabung dalam Resister Indonesia. Sesekali menumpahkan rasa di blog mrymjameela.tumblr.com.