January 23, 2026
Culture Issues People We Love Prose & Poem

Firliana Purwanti: Perceraian adalah Jalan Pembebasan itu 

Berbekal pengalaman personal, Firliana Purwanti menulis ‘Kamarina Rindu Cinta untuk membongkar stigma janda, perceraian, dan ilusi pernikahan bahagia.

  • January 23, 2026
  • 15 min read
  • 72 Views
Firliana Purwanti: Perceraian adalah Jalan Pembebasan itu 

Hidup Kamarina adalah cetak biru keberhasilan yang diimpikan banyak perempuan. Di usia 37 tahun karier cemerlangnya. Ia bekerja di sebuah lembaga internasional berbasis di Belanda dengan penghasilan dua digit yang menjanjikan stabilitas, serta kepemilikan aset berupa properti dan mobil atas namanya sendiri. Ia juga dikelilingi oleh Ara dan Jimmy, dua sahabatnya yang solid dan selalu bisa menjadi sandaran. 

Namun, di balik kesempurnaan itu, cinta jadi satu-satunya yang membuat Kamarina merasa kurang lengkap. Pernikahannya dengan Hendra, lelaki yang dulu ia puja kandas. Relasi asmara mereka bukan lagi jadi ruang melepas penat, melainkan ladang ranjau dengan pertengkaran yang melelahkan.  

Kehangatan fisik ikut menghilang. Segala bentuk keintiman, termasuk hubungan seksual, tak lagi hadir dalam kehidupan rumah tangga mereka. 

Ketika menyadari cinta tak lagi hidup di dalam pernikahannya, Kamarina memilih bercerai. Keputusan menjadi calon janda justru membuka perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Alih-alih terpuruk, ia menemukan lapisan-lapisan pembelajaran hidup yang selama ini tertutup oleh ekspektasi tentang pernikahan bahagia. 

Pada Selasa (20/1), Magdalene berbincang dengan Firliana selama satu jam melalui layar Zoom. Ia mengisahkan bagaimana caranya meramu novel perdananya. Berikut petikan wawancara kami tentang inspirasi, harapan, dan keberanian Firliana kala memilih bercerai: 

Baca juga: Horor, Tubuh, dan Perempuan: Dua Jam Bersama Intan Paramaditha 

Apa sebenarnya yang menjadi pemantik utama bagi Kamu untuk menuliskan kisah ini? 

Aku sebenarnya bercerai sudah cukup lama, sepuluh tahun lalu di 2016 dengan pernikahan yang sudah berjalan sembilan tahun. Tapi bukan berarti begitu ketok palu langsung ada niat untuk menulis, ya. Prosesnya panjang. Setelah bercerai, aku melewati fase pemulihan sampai akhirnya mulai mencari pasangan baru.  

Titik baliknya justru terjadi tiga tahun kemudian, di 2019, saat aku jatuh cinta lagi. Buat aku, itu keajaiban. Aku enggak pernah menyangka kalau di usia yang sudah masuk kepala empat, aku masih bisa merasakan jatuh cinta lagi yang rasanya itu seperti anak umur 17 tahun. Dari situ aku jadi berpikir, “Ih, rugi banget ya kalau orang-orang takut jadi janda karena stigmanya.”  

Masyarakat kita enggak tahu kalau menyandang status janda itu bisa menyenangkan banget. Kamu seperti dapat kesempatan untuk recycle hidup, kembali lagi ke masa-masa lajang. Menemukan cinta yang baru itu ternyata sangat menyenangkan, that freedom is fun. Pengalaman jatuh cinta inilah yang menjadi salah satu komponen utama kenapa aku merasa harus menulis buku ini. 

Selain itu, ada faktor lain saat aku pindah ke Kanada. Di sana aku kerja di sebuah pengadilan, dan selama tiga bulan pertama aku ditempatkan di pengadilan keluarga. Setiap hari aku melihat berbagai macam kasus perceraian. Menariknya, ternyata pola perceraian di Indonesia maupun di Kanada itu mirip-mirip, dari soal laki-laki yang enggak bertanggung jawab sampai urusan minta harta gono-gini. Di saat yang sama, teman-teman juga mulai banyak yang curhat soal pernikahan mereka yang sudah dingin atau toksik. 

Tiba-tiba saja kepala aku penuh dengan referensi tentang perceraian dari berbagai sisi. Semua itu membuat aku merasa harus berbagi dan memberi kekuatan kepada perempuan-perempuan di luar sana yang mungkin terjebak dalam pernikahan dingin dan toksik. Aku ingin mereka enggak takut untuk cerai, dan caranya adalah dengan membongkar stigma janda melalui tulisan ini. 

Sejauh mana novel ini sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadimu, dan sejak kapan isu perceraian serta kekerasan domestik ini menjadi concern utama dalam perjalanan karier maupun personal Kamu? 

Isu ini sebenarnya sudah menjadi napas hidup dan kerja-kerja aku sejak lama sekali. Kalau ditarik ke belakang, waktu aku kerja di Pusat Kajian Wanita dan Gender sekitar tahun 2001-2003, itu adalah masa-masa krusial di mana UU Penghapusan KDRT belum disahkan. Aku terjun banget di sana, melakukan kerja-kerja advokasi dan aku ingat banget momen-momen ikut melobi ke DPR bareng teman-teman Komnas Perempuan supaya undang-undang ini bisa gol.  

Jadi aku sudah terpapar sangat lama dengan isu bahwa pernikahan itu sering kali bukan tempat yang aman bagi perempuan. Tapi lucunya, aku baru benar-benar menyadarinya secara personal belakangan saat proses menulis. Kasus perceraian yang dipicu kekerasan di ruang sangat privat itu beneran bisa terjadi ke siapa pun, terlepas lo itu aktivis perempuan atau bukan. Status lo sebagai aktivis pemberdayaan perempuan enggak jadi jaminan lo kebal dari realitas itu. 

Apa yang aku tulis di novel ini adalah true story. Ada satu bagian yang paling membekas, yaitu waktu petugas Posbakum (Pos Bantuan Hukum) bertanya ke aku, “Mbak mengalami KDRT enggak?” Di situ aku asli bengong, diem aja. Aku merasa ada benturan antara rasa malu dan logika yang enggak nyambung.  

Gila aja, aku ini orang yang ikut mengadvokasi undang-undang itu sampai jadi pedoman resmi buat petugas bertanya ke klien, eh sekarang malah aku sendiri yang ada di posisi klien itu. Aku mengalami apa yang selama ini aku perjuangkan untuk orang lain. Itu proses yang sangat berat untuk diakui secara jujur. 

Ternyata, kalau kekerasan itu terjadi pada diri sendiri, lo jadi sulit untuk menganalisisnya karena lo enggak bisa keluar dari tubuh lo sendiri. Menulis novel ini adalah cara aku untuk “keluar” dan melihat persoalan seorang Firliana dari kacamata orang luar. Setelah dituliskan, semuanya jadi jauh lebih clear di kepala aku.  

Aku baru sadar, “Oh, ternyata yang aku alami selama ini memang KDRT.” Ada kekerasan finansial di sana, di mana aku ditelantarkan, juga kekerasan secara seksual. Ibaratnya kita ini sedang melihat gajah. Kalau kita sendiri yang jadi gajahnya, kita enggak bakal bisa lihat seberapa lebar kuping kita atau bagaimana bentuk buntut kita. Kita butuh jarak.  

Makanya proses nulisnya lama, karena aku butuh waktu untuk mengakui bahwa aku adalah penyintas kekerasan itu. Kalau aku bukan aktivis, mungkin aku akan lebih ringan mengakui kalau aku perempuan lemah yang kena KDRT, tapi karena status aku aktivis yang memberdayakan orang secara publik, pas mengalaminya sendiri di ruang domestik, rasanya malunya luar biasa. 

Selain karena ada keterputusan antara diri dan realita, apa yang sebenarnya terjadi di ruang domestik Kamu saat itu sehingga sempat tertahan cukup lama dalam relasi tersebut sebelum akhirnya memutuskan bercerai? 

Aku mau jujur bilang, perempuan yang paling berdaya sekali pun bisa kehilangan kendali atas tubuh dan nasibnya sendiri ketika sudah masuk ke ruang domestik. Ini yang banyak orang enggak paham. Analisis aku terhadap diri sendiri saat itu adalah, ternyata masih ada ketakutan mendalam di diri kita kalau berakhir sendirian.  

Ada ketakutan enggak punya pasangan, dan secara enggak sadar kita masih butuh validasi sosial lo itu pantas dan laku untuk punya pasangan. Perasaan butuh validasi itu ternyata susah banget dihilangkan, enggak peduli seberapa tinggi jabatan lo atau seberapa mandiri finansial lo

Dalam kasusku, mantan suamiku memanfaatkan sifat “bucin” aku saja. Dia tahu persis aku itu bucin banget. Jadi dia berasumsi aku akan melakukan apa saja termasuk mengabaikan diri sendiri hanya untuk mempertahankan pernikahan itu. 

Tapi kemudian aku sampai di satu titik di mana aku sudah enggak sanggup lagi. Dia kaget banget pas aku akhirnya menggugat cerai, dia enggak nyangka aku bisa mengambil langkah se-radikal itu. Kalau kamu baca novelnya, ada bab di mana Kamarina mau bunuh diri, kan? Itu adalah refleksi dari titik paling rendah dalam hidup aku. 

Ada satu momen nyata di mana aku benar-benar mikir, “Apa aku mati aja ya?” Aku merasa lelah banget karena terus-terusan mencari perhatian, mencari kasih sayang, tapi enggak pernah dapat respons dari orang yang aku cintai. Tapi tepat di momen aku mau menyerah itu, pikiran aku langsung tersentak: “Hah, gila lo Firlia! Lo itu aktivis pemberdayaan perempuan, masa lo mau mati karena alasan ini? Yang bener aja!” Kesadaran itu muncul kaya tamparan.  

Besoknya, tanpa tunggu lama, aku langsung bergerak secara taktis. Semua dokumen penting aku kumpulkan, sertifikat, surat nikah, sampai perjanjian pranikah aku pegang dan aku amankan di kantor. Aku langsung konsultasi sama lawyer dan mulai menyusun draft gugatan cerai aku sendiri. Dalam hitungan bulan, surat itu masuk ke pengadilan. Itu adalah titik balik paling krusial buat aku, dan sejak saat itu, aku jadi punya komitmen yang jauh lebih dalam untuk peduli pada isu-isu ini, karena aku tahu rasanya berada di lubang yang sedalam itu. 

Baca juga: Rambu Dai Mami, Pemimpin Perempuan dari Tanah Sumba

Kamu sempat menyinggung soal tingginya angka gugatan cerai oleh perempuan di Pengadilan Agama dalam novel. Mengapa Kamu melihat fenomena ini berkaitan erat dengan isu beban ganda? 

Jadi gini, beban ganda yang dihadapi perempuan sekarang itu sudah sampai di titik yang “enggak lucu” lagi. Kita harus sadar kalau dampak sosialnya itu mahal banget dan kita sudah di tahap we cannot afford maintaining double burden anymore

Bayangkan, data membuktikan sekitar 75 persen sampai 78 persen orang yang menggugat cerai itu adalah perempuan. Kalau memang ada orang-orang yang katanya peduli sama ketahanan keluarga dan ingin angka perceraian turun, kuncinya cuma satu, beban ganda ini yang mesti di-address

Masalahnya, yang gagal dalam gerakan kesetaraan gender selama ini adalah pendidikan kesetaraannya itu sendiri. Kita belum sampai pada pemahaman kolektif bahwa pekerjaan di rumah itu sebenarnya nggak ada jenis kelaminnya. Baik laki-laki maupun perempuan harusnya bisa dan mau ngerjain pekerjaan rumah tangga.  

Kemarin saya bersama teman-teman bahkan sempat bercanda, jangan-jangan pemberdayaan perempuan selama ini itu scam-nya laki-laki saja? Pemberdayaan kita terlalu berhasil sampai perempuannya bisa macam-macam. Bisa cari duit, bisa urus anak, bisa segalanya sementara laki-lakinya jadi merasa enggak perlu ngapa-ngapain.  

Kalau dibiarkan terus, taruhannya adalah institusi pernikahan itu sendiri. Perempuan-perempuan yang punya agensi sekarang sudah pada malas nikah karena mereka sudah tahu ujung-ujungnya cuma bakalan menjalankan beban ganda yang melelahkan. “Eh, capek deh,” pikir mereka. 

Aku mau jujur bilang, perempuan yang paling berdaya sekali pun bisa kehilangan kendali atas tubuh dan nasibnya sendiri ketika sudah masuk ke ruang domestik. Ini yang banyak orang enggak paham. Analisis aku terhadap diri sendiri saat itu adalah, ternyata masih ada ketakutan mendalam di diri kita kalau berakhir sendirian.

Kenapa beban ganda ini nggak boleh dianggap enteng? Karena biaya sosialnya tinggi sekali saat sebuah pernikahan hancur. Ketika lo cerai, yang tadinya satu rumah, sekarang harus punya rumah sendiri-sendiri. Di zaman sekarang, punya satu rumah saja susahnya minta ampun buat bayar KPR-nya, apalagi harus pisah rumah.  

Belum lagi aturan sekarang yang mewajibkan pisah rumah minimal enam bulan kalau mau cerai. Jadi, kalau isu domestik ini enggak diberesin, kita cuma nunggu waktu sampai pernikahan nggak lagi dianggap sebagai opsi yang masuk akal buat perempuan. 

Menarik sekali melihat bagaimana karakter Kamarina berjuang dengan identitas barunya. Di satu sisi ada narasi tentang kemandirian perempuan, namun di sisi lain ada kebutuhan emosional dan spiritual yang sering kali berbenturan. Mengapa penting buat Kamu menulis terkait gerakan dalam identitas baru Kamarina ini? 

Karena gini, kita itu sering banget dikasih narasi kalau jadi perempuan sendirian itu enggak apa-apa, jadi mandiri itu keren, dan segala macamnya. Tapi di saat yang sama, aku mempercayai kalau manusia baik laki-laki maupun perempuan itu pada hakikatnya adalah makhluk sosial dan seksual juga. Jadi, ada tarik-menarik yang nyata antara keinginan lo untuk tetap independen dengan kebutuhan lo akan intimacy.  

Nah, perjuangan Kamarina di novel ini adalah soal how to balance that out. Gimana caranya lo tetap bisa bahagia sendirian karena lo mencintai diri sendiri (love yourself), tapi lo juga enggak membohongi diri bahwa lo itu makhluk biasa yang punya hasrat seksual dan keinginan untuk berbagi hidup dengan orang lain. Itu manusiawi banget. 

Selain soal keseimbangan emosi, aku juga ingin bawa pesan kalau Islam itu sebenarnya tidak menstigma perceraian. Aku jujur sebel banget sama hadis yang sering dipakai buat menakut-nakuti perempuan, yang katanya Allah menghalalkan perceraian tapi itu sesuatu yang paling dibenci-Nya.  

Ternyata, setelah ditelusuri, hadis itu enggak sahih! Bayangkan, yang membuat perempuan merasa terpuruk saat bercerai itu karena dia enggak cuma ditekan secara sosial, tapi juga secara agama. Orang bisa dengan gampangnya bilang, “Gila ya lo, melakukan hal yang dibenci Allah,” tanpa tahu kalau si perempuan ini mungkin sedang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Itu jahat banget, lho, dan narasi itu harus dibongkar gila-gilaan. 

Aku punya cerita menarik soal ini. Waktu aku sekolah di Kanada, aku ketemu perempuan imigran Timur Tengah. Bayangkan, dia dinikahkan umur 17 tahun, punya anak tiga atau empat, enggak kuliah karena cuma urus rumah tangga, lalu tiba-tiba ditinggal suaminya. Di Kanada, dengan modal ijazah SMA, dia cuma bisa kerja di McDonald’s dengan gaji 15 dolar per jam. Tapi dia bangkit, dia kuliah lagi di kampus aku sampai sukses dan jadi pembicara. Dia bikin peer support group bernama Rise Beyond Divorce. Nah, dialah yang pertama kali ngenalin aku sama Surat An-Nisa ayat 130. 

Aku baru benar-benar “menemukan” ayat itu di sana, yang intinya bilang kalau laki-laki dan perempuan bercerai, itu enggak apa-apa, bahkan Allah akan meluaskan rezeki mereka. Logikanya sederhana. Kalau cerai itu dilarang total, kenapa ada syariat dan aturannya di dalam Al-Qur’an? Menemukan pemahaman ini sangat melegakan hati aku, bahkan membuat aku beribadah dengan rasa yang lebih damai sekarang.  

Aku yakin banyak banget perempuan di luar sana yang butuh ayat itu sebagai pegangan. Karena kita enggak bisa memungkiri kalau di negeri ini, agama itu melekat banget dalam kesadaran kita sehari-hari. 

Dalam novel ini, Kamu juga memberikan perhatian khusus pada isu harta gana-gini dan perjanjian pranikah. Adakah alasan khusus kenapa Kamu memasukan isu ini dalam novel? 

Karena kenyataannya teman-temanku sendiri banyak banget yang nggak punya perjanjian pranikah. Makanya, kasus harta gana-gini ini sengaja aku masukin ke dalam cerita. Aku ingin orang-orang sadar betapa pentingnya punya perjanjian pranikah itu. Dan sebetulnya itu adalah bukti cinta juga. If you’re secure dan percaya dengan hubungan kalian, harusnya itu bukan masalah. Justru itu fungsinya untuk saling menjaga.

Misalnya kalau kamu punya bisnis atau aset tertentu, itu harus diproteksi supaya kalau ada apa-apa di masa depan, semuanya sudah aman. Jangan sampai seperti kasus Ayam Goreng Nyonya Suharti itu, lho, yang mereknya malah dipegang sama suaminya. 

Fenomena successful women yang akhirnya malah berakhir dengan laki-laki “mokondo” ini memang PR banget buat kita semua. Harusnya undang-undang perkawinan kita itu bisa lebih memproteksi perempuan dalam situasi seperti ini. Karena jujur saja, sistem kita sekarang ini nggak fair. Di undang-undang dibilang laki-laki itu pencari nafkah, nah kalau laki-lakinya ternyata gagal menjalankan peran itu, harusnya aturan pembagian harta 50-50 itu nggak berlaku secara otomatis. Tapi sayangnya, interpretasi hukum kita unfortunately masih cenderung menguntungkan pihak laki-laki saja. 

Padahal, semangat dari aturan pembagian 50-50 itu kan sebenarnya untuk melindungi ibu rumah tangga yang nggak punya penghasilan selama pernikahan. Wajar kalau dia dapat setengah harta karena dia sudah mengurus domestik. Tapi proteksi itu jadi gagal mencapai tujuannya kalau situasinya terbalik. Perempuannya yang kerja keras cari uang, tapi laki-lakinya gagal jadi kepala keluarga, eh pas cerai si laki tetap minta setengah.  

Meskipun begitu, kalau lo baca putusan Mahkamah Agung yang terakhir, sebenarnya sudah mulai cukup ramah perempuan, sih. Ada salah satu yurisprudensi yang bilang bahwa kalau perempuannya yang mencari nafkah, maka bagian harta gana-gininya bisa lebih besar karena perempuan itu mengalami beban ganda. Hebatnya, istilah “beban ganda” itu ditulis eksplisit dalam pertimbangan Hakim. Jadi sebenarnya Mahkamah Agung kita enggak buta gender banget dan itu sedikit banyak memberi harapan buat isu-isu pernikahan yang penting bagi perempuan. 

Baca juga: Menciptakan Pilihan untuk Merawat Bumi: Cerita Tania, Perempuan di Dunia Teknologi 

Salah satu istilah yang paling mencuri perhatian di bab pertama novel Kamu adalah “Janda Kolagen”. Apa sebenarnya makna di balik istilah ini, dan mengapa transformasi fisik menjadi bagian penting dalam perjalanan pemulihan seorang perempuan pasca-perceraian? 

Salah satu hal yang paling berat ketika bercerai itu adalah belajar mencintai diri sendiri lagi. Lo harus sampai pada titik di mana lo sadar kalau lo nggak butuh orang lain buat mencintai diri lo sendiri, dan jujur, itu proses yang butuh waktu lama banget. Mungkin orang bertanya-tanya, kenapa bab pertamanya itu judulnya “Janda Kolagen”? 

Sebenarnya, “Janda Kolagen” itu adalah simbol bagaimana tokoh Kamarina itu struggling melakukan transformasi untuk mencintai dirinya sendiri. Bagi aku, salah satu indikator lo mulai mencintai diri sendiri adalah ketika lo mulai menghargai diri lo dengan menginvestasikan hal-hal ke tubuh lo sendiri. Mulai dari olahraga, makan yang bener, sampai perawatan ke salon.  

Lo mau botoks kek, mau apa pun, ini bukan soal lo ingin memenuhi standar kecantikan publik, bukan. Tapi ideologi di kepala lo ketika lo berangkat ke skincare clinic adalah lo mau investasi ke diri lo karena lo berharga. Lo mau mencintai diri lo sendiri dan lo nggak butuh orang lain untuk melakukan itu buat lo. Jadi, istilah “Janda Kolagen” tuh arahnya ke sana. 

Ini juga hasil observasi pribadi aku, ya. Semua teman-teman aku yang habis bercerai, serius deh, semuanya jadi cantik! Aku sampai kadang-kadang mikir, ini ada fenomena apa ya? Aku sendiri pun ngerasa begitu.  

Kalau aku lihat foto aku sepuluh tahun lalu, pas zaman cerai tahun 2016, aku mikir, “Ih aku jelek banget dulu!” Itu terjadi karena dulu aku enggak investasi ke diri sendiri. You didn’t love yourself enough, sehingga dulu lo ngerasa investasi satu juta buat kosmetik aja rasanya enggak pantes. Itu kan gila menurut aku. 

Jadi, ketika ada perempuan bercerai kemudian dia jadi lebih cantik, kita harus menghargai itu, karena itu adalah proses dia mencintai diri sendiri. Aku sekarang enggak mau lagi menghakimi orang yang ke salon atau nge-botoks, karena ya dia memang mau menikmati uang hasil kerja kerasnya.  

Dulu kan kita sibuk mikirin keluarga, sibuk ngebiayain laki, terus lo dapet apa? Kesannya lo ngejagain banget supaya ada laki di samping lo, seolah-olah lo baru berharga kalau ada laki yang lo bayarin terus hidupnya. That’s what happened to me a long time ago. Jadi kalau orang tanya kenapa “Janda Kolagen”, itu karena dia sedang berusaha mencintai dirinya sendiri.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.