September 08, 2017
Gerakan Mahasiswa Kental Maskulinitas

Organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran berpolitik menjadi tidak menarik saat tujuan politik yang diperjuangkan hanya menyangkut hajat laki-laki saja.

by Dea Safira Basori
Issues // Politics and Society
Share:
Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar "gerakan mahasiswa"? Kemungkinan laki-laki muda berjas almamater universitasnya sedang berorasi menggunakan pengeras suara yang didekatkan ke mulutnya. Ia dikelilingi oleh teman-teman sebayanya yang juga sama-sama mengenakan jas almamater sedang mendemonstrasi di depan sebuah gedung pemerintahan. Mereka berbondong-bondong menyuarakan aspirasinya di bawah terik matahari.

Gambaran itu tidak keliru. Sampai hari ini, organisasi mahasiswa sayangnya masih didominasi laki-laki. Lembaga ini melanggengkan budaya patriarki yang menghalangi perempuan untuk bergerak ke depan. Bahkan di fakultas yang isinya 80 persen mahasiswi, laki-laki masih dianggap paling mumpuni untuk memimpin badan mahasiswa.

Dalam kepengurusan badan mahasiswa, perempuan sering ditempatkan pada posisi-posisi seperti kesekretariatan dan pekerjaan kasar yang lebih melibatkan banyak tenaga sementara laki-laki adalah pembuat keputusan. Dalam penyelenggaraan sebuah acara, perempuan dijadikan seksi konsumsi, undangan, hubungan masyarakat, acara, serta seksi pendukung lainnya, sementara laki-laki ditempatkan sebagai pusat perhatian serta lebih banyak diberikan porsi sebagai pembicara. Walaupun perempuan sangat terlihat sebagai penggerak acara tersebut, namun perempuan direpresentasikan sebagai kelompok yang hanya memenuhi kepentingan laki-laki. Pemikiran dan suara perempuan cenderung tenggelam sementara banyak laki-laki mengambil kredit atas kerja mereka.

Sering terlihat di acara seminar di kampus universitas, jajaran petinggi kampus adalah laki-laki yang duduk di depan, di atas sofa yang lebih empuk sambil menyaksikan presentasi seminar yang berlangsung, mereka juga yang akan memberikan tanda penghargaan di akhir acara. Sedangkan perempuan akan terlihat sebagai pembawa acara atau pembawa bingkisan makanan untuk para pembicara dan tamu kehormatan (yang notabene adalah pejabat kampus).

Banyak himpunan mahasiswa dan organisasi mahasiswa di tingkat kampus mengeksklusifkan diri dari perempuan dengan pembentukan sebuah divisi khusus untuk perempuan. Walaupun awalnya divisi tersebut dibentuk untuk pemberdayaan perempuan, namun yang terjadi adalah peminggiran perempuan. Hal ini berlanjut ke tingkat organisasi masyarakat dan partai politik, dimana divisi khusus perempuan adalah pajangan semata untuk mempercantik dan memenuhi kualifikasi partai politik untuk melibatkan perempuan dalam jumlah tertentu. Hal seperti ini dapat terlihat jelas ketika deklarasi atau peluncuran sebuah organisasi massa dan partai politik, yang berada di atas panggung yang paling banyak adalah laki-laki.



Hal-hal seperti ini turut menjadi faktor mengapa politik tidak menjadi menarik di mata perempuan. Adanya peminggiran, intimidasi dan dominasi yang dilakukan oleh laki-laki membuat perempuan tak mampu menembus batasan yang tak terlihat tersebut. Demi menunjukkan riwayat kerja mereka berorganisasi, ada perempuan yang rela mengondisikan diri namun akhirnya dibungkam karena adanya eksklusivitas tersebut. Situasi yang memarjinalkan dirinya memang tidak serta merta diutarakan oleh pemimpinnya namun dapat dirasakan di antara perempuan yang berupaya bekerja di dalam organisasi.

Tidak heran jika dalam gerakan mahasiswa, ada kelompok mahasiswi yang cenderung apatis. Mereka sebenarnya cukup peduli dengan berbagai isu namun saat mereka terbungkam hanya karena mereka perempuan, maka mereka akan mencari cara lain untuk memberdayakan diri tanpa melibatkan laki-laki. Selain itu, tuntutan dan tekanan sosial seperti perempuan harus menikah seusai sekolah, membuat mahasiswi cenderung memikirkan cara agar lebih cepat selesai sekolah dan buru-buru menikah ketimbang mengikuti gerakan yang akhirnya menyita waktu.

Padahal pelibatan perempuan dalam mengambil keputusan dan menjadi bagian dari inti sebuah organisasi sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlangsungan organisasi. Namun kita tidak bisa serta merta menaruh sejumlah perempuan dalam kepengurusan inti tanpa memerhatikan kebutuhan untuk menanggapi isu perempuan, seperti hambatan dalam mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Isu perempuan seperti peraturan yang bias gender, kekerasan seksual (termasuk pelecehan di antara anggota organisasi) dan lain-lain perlu menjadi bahasan para petinggi organisasi.

Organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran berpolitik menjadi tidak menarik saat tujuan politik yang diperjuangkan hanya menyangkut hajat laki-laki saja, dan upaya untuk mendapatkan kesejahteraan dan penghidupan yang layak dan aman untuk perempuan menjadi tidak tersuarakan.

Kebutuhan perempuan untuk mencapai penghidupan yang layak pun bukan sekedar pembagian sembako gratis saja seperti yang biasa dilakukan oleh banyak organisasi mahasiswa dan masyarakat, namun melibatkan mahasiswi dan segala lapisan masyarakat perempuan untuk dapat menyuarakan isu-isu yang dirasakannya penting.

Jika organisasi sekecil organisasi mahasiswa masih abai memerhatikan kebutuhan perempuan maka jangan heran jika organisasi kemasyarakatan pun masih belum memberi kontribusi kepada masyarakat pada umumnya.

Dea Safira Basori adalah perempuan kelahiran Jawa yang senang melakukan eksplorasi jiwa mengalahkan segala rintangan untuk menemukan hasrat, hidup dan cinta. Sekarang sedang menyelesaikan studinya di kedokteran gigi dan mempelajari tarian tradisional Jawa serta menaruh minat pada isu perempuan, hubungan internasional dan kebijakan luar negeri. Ia dapat disapa di akun twitter @DeaSB dan situsnya di www.deasafirabasori.com.