Horor Pernikahan ala Kimo Stamboel: Dari ‘Abadi Nan Jaya’ ke ‘Janur Ireng’
Nama Kimo Stamboel nyaris selalu identik dengan horor yang berdarah-darah dan brutal. Sejak Macabre (Rumah Dara)—film yang menandai kebangkitan horor ekstrem Indonesia pasca-2000-an—Kimo konsisten membangun semesta sinema yang memeluk kekerasan dan humor gelap.
Headshot dan The Night Comes for Us mempertebal jejak obsesinya pada tubuh yang hancur dan kekerasan yang dikoreografikan, sementara Ivanna dan Sewu Dino menunjukkan bagaimana formula itu diterjemahkan ke horor mitologis arus utama. Namanya kembali ramai diperbincangkan sejak Badarawuhi di Desa Penari rilis Lebaran 2024.
Selama 2025, ia produktif dengan merilis dua film panjang: Abadi Nan Jaya, horor subgenre zombie produksi Netflix, tayang akhir Oktober lalu; Kemudian, Janur Ireng: Sewu Dino the Prequel dirilis tepat pada malam Natal kemarin.
Secara subgenre maupun alur cerita, kedua film ini berdiri di dua dunia yang berbeda. Abadi Nan Jaya berfokus pada wabah zombie di sebuah pedesaan, sementara Janur Ireng berkisah tentang perebutan kuasa antar keluarga besar paling berpengaruh di tanah Jawa, dengan ritual gelap dan kekuatan iblis sebagai alat legitimasi.
Namun di balik perbedaan itu, ada benang merah yang konsisten muncul. Keduanya sama-sama berbicara tentang perempuan, keluarga, dan pernikahan sebagai sebuah institusi. Untuk membahas kesamaan tersebut, saya duduk bersama sutradara Kimo Stamboel.
Baca juga: #MadgeKaleidoskop 2025: 5 Film Indonesia Pilihan Magdalene dan Isu Menarik yang Dibawanya
Keluarga Disfungsional dan Perempuan
Dua film terakhir Kimo secara konsisten memotret keluarga yang disfungsional. Dalam Abadi Nan Jaya, karakter yang diperankan Donny Damara menikahi Karina (Eva Celia), sahabat anaknya sendiri. Pernikahan itu tidak menciptakan keutuhan, malah melahirkan perang dingin dan luka yang tak pernah sembuh di dalam keluarga.
Sementara itu, Janur Ireng menampilkan keluarga Kuncoro, sebuah klan yang secara sadar melakukan ritual kegelapan—bahkan mengorbankan anggota keluarga sedarah—demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaan.
Kimo mengakui bahwa keluarga disfungsional adalah subjek yang selalu menarik baginya. Dalam Janur Ireng, ia menggambarkan tujuh keluarga besar penguasa Jawa yang rela melakukan hal-hal ekstrem demi tujuan mereka: dari pernikahan sedarah hingga merelakan istri bersetubuh dengan iblis demi memperoleh kekuatan.
“They’re not a happy family,” ujar Kimo. Justru karena mereka tidak dipotret sebagai keluarga ideal, konflik menjadi lebih hidup. Ia bahkan menambahkan, “Someday, kalau gue bikin film tentang happy family, pasti tetap ada yang broken.”
Dalam bukunya Story: Substance, Structure, Style, and the Principles of Screenwriting, Robert McKee menulis bahwa kerapuhan karakter menciptakan kedekatan emosional, memungkinkan penonton untuk berempati lebih dalam. Pendekatan inilah yang terasa kuat dalam dua film terakhir Kimo.
Menariknya, keluarga-keluarga yang ia potret sama-sama tidak menghadirkan figur ibu biologis secara utuh. Kimo menegaskan bahwa hal ini bukan keputusan yang disengaja. Fokus utamanya justru pada penggambaran perempuan-perempuan dengan karakter kuat, baik di Abadi Nan Jaya maupun Janur Ireng.
Dalam tradisi horor, representasi perempuan sering terjebak dalam trope lama—mulai dari damsel in distress, sosok pasif yang menunggu diselamatkan, hingga final girl, perempuan terakhir yang bertahan hidup dan menghadapi antagonis, seperti Laurie dalam Halloween (1978).
Film-film Kimo tidak berhenti pada reproduksi trope tersebut. Sebaliknya, perempuan ditempatkan sebagai subjek yang menanggung beban moral paling berat dalam cerita.
Di akhir Abadi Nan Jaya, Karina (Eva Celia Latjuba) dihadapkan pada pilihan yang nyaris tak manusiawi: meninggalkan sahabat lamanya—yang sempat terlibat konflik panjang sebelum akhirnya berdamai—karena terinfeksi gigitan zombie. Karina pergi dengan sepeda motor, membawa anak sahabat yang ia tinggalkan, dan meninggalkan luka yang tak bisa disembuhkan.
Dalam Janur Ireng, Intan (Ratu Rafa) juga dipaksa mengambil keputusan besar. Setelah kehilangan ayah dan rumahnya akibat kebakaran, ia memilih mengikuti pamannya—sosok yang nyaris asing—demi peluang hidup baru.
Bagi Kimo, kekuatan karakter lahir dari pilihan yang mereka ambil. Dalam Janur Ireng, Intan dan Sabdo (Marthino Lio) sama-sama mengambil risiko dengan mempercayai seseorang yang mengaku sebagai keluarga, meski ikatan itu rapuh. Pilihan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam kondisi ketika mereka sudah kehilangan segalanya, keputusan itu menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal.
Baca juga: 5 Film Indonesia 2024 dari #MadgeReview: Jeritan Milenial Sampai Konflik Masyarakat Adat
Institusi Pernikahan Melalui Lensa Kimo Stamboel
Dua film terakhir Kimo Stamboel memotret institusi pernikahan dari dua arah yang kontras. Dalam Abadi Nan Jaya, pernikahan justru hadir sebagai sumber keretakan keluarga. Ketika sang ayah (Donny Damara) menikahi sahabat anak perempuannya, sang anak langsung mengambil jarak—ia berhenti berbicara, bukan hanya dengan ayahnya, tetapi juga dengan sahabat yang kini menjadi ibu tirinya.
Janur Ireng menawarkan potret yang bahkan lebih ekstrem. Demi kekayaan dan kekuasaan, keluarga Kuncoro menjadikan pernikahan sedarah sebagai praktik yang dianggap wajar. Tarjo (Tora Sudiro) secara sadar memanipulasi Intan dan Sabdo agar tinggal di rumahnya, karena ia berniat menikahi keponakannya sendiri. Lebih jauh lagi, pernikahan itu mensyaratkan Intan untuk bersetubuh dengan makhluk halus peliharaan keluarga mereka, Bokolono, sebagai bagian dari ritual.
Dari dua gambaran ini, mudah membaca adanya kritik terhadap institusi pernikahan—terutama ketika pernikahan dijalankan sebagai alat kontrol dan kekuasaan.
Namun Abadi Nan Jaya tidak berhenti pada nada pesimistis. Film ini juga menghadirkan sisi lain dari cinta dan pernikahan melalui karakter Ningsih (Claresta Taufan) dan Rahman (Ardit Erwandha). Sejak awal, Rahman sebenarnya telah menyiapkan cincin. Ningsih bahkan sudah bersiap untuk dilamar. Namun satu panggilan telepon membuat niat itu tertunda. Ketika wabah zombie melanda desa mereka, waktu untuk melamar tak pernah benar-benar datang.
Ironisnya, momen paling romantis justru hadir di akhir film. Saat mereka dikepung zombie dan kematian tak terelakkan, Rahman akhirnya memberikan cincin itu kepada Ningsih—tepat ketika para zombie mulai melahap tubuh mereka.
Saya bertanya kepada Kimo bagaimana ia memandang institusi pernikahan. “Sangat hopeful,” jawabnya singkat. Bagi Kimo, perjalanan Ningsih dan Rahman bukan tentang pernikahan itu sendiri, melainkan tentang keberanian mengatakan hal yang penting sebelum semuanya terlambat.
“Kalau lo mau memperbaiki hidup lo, atau hubungan lo sama seseorang, just do it now,” tegas Kimo. Dan itulah yang terjadi di film. Rahman sebenarnya bisa saja melamar sejak awal, tetapi simbol cintanya justru baru terucap saat hidup mereka berada di ujung.
Tema serupa juga muncul dalam relasi Kenes dan Karina, pasangan yang telah membeku hubungannya selama bertahun-tahun. Baru di akhir film, ketika Kenes telah terinfeksi zombie, mereka benar-benar berdamai. Kenes mempercayakan anaknya kepada Karina—sebuah bentuk rekonsiliasi yang datang terlambat, namun jujur.
Pada titik ini, Abadi Nan Jaya sebenarnya tidak secara eksplisit bertujuan mengkritik institusi pernikahan, meski pembacaan semacam itu terbuka bagi penonton. Janur Ireng, sebaliknya, memperlihatkan sikap yang lebih tegas. Kimo memandang pernikahan yang digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan—terutama melalui manipulasi dan kekerasan simbolik—sebagai sesuatu yang bermasalah.
Bagi Kimo, ketika institusi pernikahan dijalankan dengan cara kotor demi kepentingan tertentu, nilai yang seharusnya dijaga di dalamnya justru hancur sejak awal.
Pernikahan juga kerap digunakan sebagai alat bercerita dalam film bergenre tertentu beberapa tahun terakhir. Film Ready or Not (2019), misalnya, menggunakan pernikahan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan sebuah keluarga yang disfungsional, sekaligus menjadi film survival tentang pengantin perempuan yang terjebak dalam keluarga psikopat.
Ada pula banyak film horor lain yang memanfaatkan pernikahan sebagai perangkat naratif, seperti The Invitation (2022), Pengantin Setan (2025), hingga Pernikahan Arwah karya Paula Agusta (2025). Entah disadari atau tidak, pernikahan kini lebih sering dipotret dalam film horor. Beberapa dekade lalu, tema ini justru lebih dominan dalam film bergenre komedi.
Film-film rom-com era 1990-an dan 2000-an kerap menggambarkan pernikahan sebagai happy ending atau bahkan sebagai tema utama, mulai dari Four Weddings and a Funeral (1994), My Best Friend’s Wedding (1997), hingga The Wedding Singer (1998). Tren ini berlanjut hingga era film komedi dewasa berperingkat R pada 2010-an ke atas, seperti The Wedding Ringer (2015) atau—bagi saya—salah satu film komedi terbaik sepanjang masa, Bridesmaids (2011). Di Indonesia sendiri, ada Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1986), Get Married (2007), hingga Kapan Kawin? (2015).
Pernikahan yang sebelumnya dieksploitasi oleh genre komedi kini bergeser ke genre horor. Barang kali bukan tanpa alasan: sebab di balik hal-hal manis yang diromantisasi, ia juga bisa menyimpan sesuatu yang menakutkan. Pernikahan, salah satunya.
















