July 20, 2020
Ini Alasan Kenapa Kamu Harus Nonton ‘The Old Guard’

‘The Old Guard’ merepresentasikan karakter-karakter LGBT yang menginspirasi dan menggemaskan.

by Candra Aditya
Culture
Share:

Ketika kalian membaca ini mungkin kalian sudah tahu bahwa The Old Guard adalah salah satu film orisinal Netflix yang paling banyak ditonton. Dengan penonton 72 juta orang, film garapan Gina Prince-Bythewood ini masuk ke daftar film orisinal Netflix terlaris bersama Extraction (99 juta penonton), Birdbox (89 juta penonton), 6 Underground (83 juta penonton), dan The Irishman (64 juta penonton). Mendengar ini saya senang karena kemungkinan besar sekuelnya bisa jadi akan dibuat.

The Old Guard, yang diadaptasi dari komik karya Greg Rucka dan Leandro Fernandez, menceritakan tentang sekelompok prajurit yang mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan diri dengan cepat. Mereka adalah Andy (Charlize Theron), Booker (Matthias Schoenaerts), Joe (Marwan Kenzari), dan Nicky (Lca Marinelli). Masalah terjadi ketika mereka menemukan orang yang sama seperti mereka, Nile (KiKi Layne), di tengah-tengah misi mereka menyelamatkan anak-anak yang disekap di Sudan. Andy pun mencari Nile dan mengajaknya untuk bergabung bersama gengnya.

Tentu saja seperti blockbuster pada umumnya, kamu akan bertemu dengan yang namanya pengkhianatan, korporat yang mencoba menangkap mereka demi membuat obat yang membuat manusia kekal, dan berbagai adegan aksi yang menjadi jualan. Seolah menjual Charlize Theron memegang kapak berbentuk bulat tidak cukup, para pembuat The Old Guard memberikan penonton beberapa adegan yang lumayan untuk membuat seru sendiri di rumah.

Tapi bukan hal-hal standar tersebut yang menjadikan kenapa film ini mencolok dibandingkan blockbuster sejenis. This film is surprisingly so gay and I’m here for it.

Baca juga: ‘365 Days’ Terlalu Problematik untuk Dibilang Seksi

Selain kemampuan sutradaranya yang baik dalam menggambarkan kegelisahan karakter-karakternya yang nyata, satu hal yang paling mencolok dalam The Old Guard adalah bagaimana dia merepresentasikan karakter LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) di dalamnya. Dalam adegan kilas balik kita melihat kedekatan Andy dengan makhluk abadi lain bernama Quynh (Veronica Ngo) dan betapa kematian Quynh mempengaruhi Andy sebagai seorang manusia. Penggambaran kedekatan antara Andy dan Quynh lebih dari sekedar sahabat yang menjalani masalah ini sama-sama. Prince-Bythewood menggambarkan hubungan mereka dengan bumbu romansa yang subtil sehingga ketika karakter Quynh ditangkap, kamu bisa merasakan betapa sakit dan menderitanya Andy.

Kalau hal tersebut sudah cukup untuk membuat kamu terpesona, tunggu sampai kalian melihat adegan Joe dan Nicky ketika mereka ditangkap dan disekap dalam sebuah van. Ketika film berjalan, kamu mungkin tidak akan sadar bahwa Joe dan Nicky adalah pasangan. Ini karena sutradaranya menggambarkan geng The Old Guard ini mempunyai ikatan yang lebih dari sekedar saudara. Mereka saling tatap dengan penuh cinta, mereka saling peluk dengan penuh perasaan, mereka menggenggam tangan masing-masing tanpa perlu diminta.

Lalu kemudian dengan halusnya kita diperlihatkan adegan Joe dan Nicky tidur berpelukan. “Oh, mungkin mereka cuman bromance.” Itu mungkin yang banyak orang pikir ketika mereka pertama kali menyaksikan ini. Tapi kemudian Prince-Bythewood memberikan satu lagi adegan saat Nicky dan Luca tidur satu ranjang dan berpelukan. Kalau sebelumnya mereka tidur di tanah karena mereka sedang dalam misi, sekarang mereka digambarkan memang memilih untuk tidur bersama.

Baca juga: Drama Korea ‘Sweet Munchies’ Seharusnya Bisa Ngehits, Sayangnya...

Lalu datanglah adegan fenomenal itu. Ketika Nicky dan Joe ditangkap dan dimasukkan ke dalam van, para penjahat tertawa-tawa menyaksikan betapa dekat dan passionate-nya Nicky dan Joe satu sama lain. Mereka terus menanyakan kabar satu sama lain apakah mereka baik-baik saja. Si penjahat bertanya, “Apakah dia pacarmu?” sambil tertawa mengejek.

Saat itulah Joe kemudian mendeklarasikan cintanya dalam sebuah pidato cinta pasangan LGBT yang mungkin paling menyentuh dalam sejarah blockbuster Hollywood:

You’re a child. He’s not my boyfriend. This man is more to me than you can dream. He’s the moon when I’m lost in darkness, and warmth when I shiver in cold. And his kiss still thrills me even after a millennium. His heart overflows with a kindness of which this world is not worthy. I love this man beyond measure and reason. He’s not my boyfriend. He is all, and he is more.”

I mean… swoon.

Kedengarannya sangat sederhana dan trivial tapi ini adalah sebuah hal yang sangat langka yang bisa kamu temukan dalam sebuah blockbuster Hollywood yang jelas, tujuannya dibuat untuk mencari uang. Dari kemarin-kemarin kita sering mendengar bahwa Hollywood berusaha keras untuk merepresentasikan semua ras dan orang-orang LGBT dengan benar tapi kadang-kadang hasilnya hanya lip service atau tokenisme. Atau dibuat dengan sangat kecil sehingga kalau kamu tidak sensitif, kamu akan melewatkannya. Ini yang dilakukan oleh Pixar, Disney dan banyak lagi. Ingat betapa hebohnya isu live action Beauty and the Beast yang katanya akan ada karakter gay? Kalau kamu menonton filmnya, Anda mungkin akan enggak ngeh mana penggambaran adegan yang dimaksud.

Baca juga: 10 Film dan Serial TV Bertema LGBT yang Wajib Ditonton

“Can, lo lebay deh. Banyak tau karakter-karakter gay di blockbuster Hollywood.”

Ok, mungkin. Tapi hitung berapa banyak karakter-karakter tersebut yang tampil hanya sebagai comic relief atau sebagai candaan (I’m looking at you, Michael Bay). Atau apakah karakter tersebut mempunyai peran yang signifikan terhadap ceritanya. Itulah sebabnya saya gembira ketika melihat The Old Guard karena satu pasangan dalam film ini tidak hanya digambarkan secara eksplisit bahwa mereka mencintai satu sama lain, tapi konsisten diperlihatkan dari awal sampai akhir film bahwa cinta mereka adalah hal yang krusial. Oh, tentu saja fakta bahwa mereka memerangi kejahatan bersama-sama dengan daya tempur yang tinggi juga membantu untuk membuat saya mengidolakan mereka dengan mudah. Unsur komedi romatis dalam hubungan mereka (tadinya musuhan kemudian cinlok) juga membuat hubungan antara Joe dan Nicky sangat menggemaskan.

Keputusan Gina Prince-Bythewood untuk tidak tedeng aling-aling dalam menyatakan, “Ya, mereka hidup ribuan tahun, ya mereka pacaran, dan ya mereka kompeten dalam memerangi orang-orang jahat” adalah sesuatu yang menurut saya perlu dirayakan. Sangat menginspirasi. Sangat murni. Dan gemas. Dan dengan ini saya ingin membuat petisi agar adegan mereka berdua di sekuelnya ditambah.

"The Old Guard" dapat disaksikan di Netflix.

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.