May, 22 2018
Intoleransi dan Persekusi Berawal dari Kesepian

Betapa kesepiannya orang-orang yang memilih jalan menjadi diri sendiri, maupun menjadi intoleran.

by Ajeng
Issues // Politics and Society
Share:
Satu dekade terakhir merupakan periode yang penuh dengan catatan tindakan terorisme di ruang publik. Tindakan yang mengancam dan merugikan fisik ini tidak hanya berbentuk pengeboman, namun juga pembubaran diskusi, penghentian acara kebangsaan, serta penutupan paksa sebuah kawasan atau tempat seperti  Pondok Pesantren Al-Fatah di Yogyakarta pada Februari 2016.  
 
Sementara itu, ada tindakan-tindakan yang sering kali tidak tercatat dan dianggap tidak berdampak dalam kehidupan warga sipil, termasuk ujaran kebencian di sosial media dan persekusi individu baik di ruang publik maupun privat.
 
Sejak serangkaian bom bunuh diri diledakkan baru-baru ini, saya merasakan kesedihan tidak hanya karena melihat jatuhnya korban, namun juga melihat narasi negara. Saya melihat kerangka narasi negara tentang terorisme selalu ada dalam sudut pandang periodik dan memisahkan dua kelompok hitam dan putih. Peristiwa pengeboman dianggap sebagai rekayasa atau peristiwa kecil yang sebenarnya menutupi atau merupakan rencana politik praktis yang lebih besar. Berangkat dari pemikiran tersebut maka dua skenario konspirasi teori akhirnya dibuat untuk menjadikan satu pihak sebagai musuh dan pihak lain adalah korban. Narasi negara ini kemudian diadopsi oleh pewarta dan media, dan lebih parahnya lagi, kemudian digunakan sebagai narasi tutur oleh masyarakat sipil.
 
Dalam kehidupan akar rumput, fakta yang terjadi sebenarnya sederhana dan berpijak. Bahwa pada 13-14 Mei 2018 terjadi serangkaian bom bunuh diri di Surabaya dan peristiwa tersebut memakan korban nyawa serta mencoreng muka umat Islam. Dengan tidak menggunakan narasi negara dan media, warga sipil memiliki kendali penuh untuk melakukan usaha-usaha nyata dalam menjalin dan mempertahankan perdamaian, karena dari merekalah kecurigaan dan prasangka diakumulasi. Dari mereka juga kecurigaan dan prasangka bisa luluh lantak sebelum berubah menjadi aksi. Narasi negara yang dikotomis membuat masyarakat sipil seakan tidak punya kendali atas apa yang terjadi. Warga sipil dilihat sebagai korban atau alat, bukan aktor atau agen.
 
Warga sipil tentu saja peduli dan ingin berperan menuntaskan teror sampai ke akar-akarnya. Pendidikan pengenalan diri dan identitas multikultural harus dilakukan di akar rumput. Warga sipil yang belum paham bahwa setiap individu dan kelompok memiliki modal identitas yang berbeda-beda dapat meletakkan kecurigaan dan prasangkanya tanpa disadari. Sementara modal identitas yang dimaksud dapat menempatkan beberapa individu dalam hak istimewa (privilese) tanpa harus bekerja dan berusaha lebih.  
 


Malam lalu, saya melihat infografik yang diunggah kawan saya tentang cara mencegah radikalisme, salah satunya adalah bahwa jika ada tetangga yang tidak banyak bicara dan jarang keluar rumah, maka laporkan pada RT/RW. Selain itu ada juga ciri-ciri terorisme yang di dalamnya termasuk: tidak mau bersosialisasi, menginap di rumah kontrakan secara bergantian, memiliki uang namun tidak bekerja, dan melakukan aktivitas yang tertutup. Ciri-ciri tersebut bisa sangat merujuk pada pekerja sosial dengan kantor virtual seperti saya.
 
Infografik tersebut sangat tendensius dan berisiko memelihara kecurigaan dan prasangka dalam masyarakat. Kita hanya diperintah jika ada tetangga yang pendiam maka kita punya hak untuk curiga dan melaporkannya, padahal bisa saja tetangga tersebut memang jarang bicara atau mungkin tertutup.
 
Dalam usaha pemenuhan atas dan dasar dan hak asasi manusia, ada dua hal yang sering kita lupakan, yakni rasa aman dan nyaman atau diterima, serta kebebasan dari ancaman. Suasana saling curiga dan ketakutan tak beralasan dalam bermasyarakat sebenarnya adalah akar dari intoleransi itu sendiri.
 
Sipil yang kesepian
 
Pada 2017 lalu, lembaga saya melakukan penelitian untuk mengukur keterlibatan perempuan muda dalam pembangunan desa. Untuk mendapatkan jawaban mengapa perempuan muda dipinggirkan dalam proses pengambilan keputusan, kami melakukan wawancara mendalam kepada responden di delapan wilayah di Indonesia.
 
Saya berkesempatan mewawancarai dua ibu berusia di bawah 30 tahun. Di luar tema wawancara yang sudah ditentukan, salah satu ibu tersebut mengungkapkan kegundahannya terhadap kelompok pengajian yang diikutinya. Dia jengah dengan ceramah-ceramah intoleran dari ulama selama pengajian, karena  kebanyakan mengejek agama selain Islam dan mengatakan untuk tidak mengikuti cara hidup tersebut dan menjauhi kelompok agama lain. Ibu kedua juga menambahkan cerita-cerita yang serupa tentang ujaran kebencian terhadap agama non-Islam.
 
Ketika saya memberi obat mujarab persoalan tersebut dengan bertanya, "Mengapa mbok tidak meninggalkan pengajian itu saja?", mereka menjawab, "Enggak enak sama ibu ini dan ibu itu, mbak. Lagian di dalam pengajian ada arisannya, kan enggak bisa ditinggal begitu saja."
 
Perkumpulan pengajian ini sebenarnya bukan ruang aman dan tempat mengembangkan diri bagi para perempuan seperti dua ibu itu. Ruang ini justru menjadi arena perebutan sumber daya bagi masyarakat di akar rumput. Jika perempuan-perempuan ini terlihat patuh, maka penghormatan dan kesempatan berjejaring bisa didapat. Hal itu membuat posisi mereka di mata masyarakat semakin tinggi dan mereka menjadi lebih dekat dengan sumber daya untuk menjual dagangan atau mengajukan utang ke koperasi.
 
Dari kisah tersebut, saya bisa menebak betapa kesepiannya orang-orang yang memilih jalan menjadi diri sendiri dan betapa orang-orang yang menjadi intoleran juga sama saja, kesepian dan tak memiliki kawan untuk berkeluh-kesah karena ruang mereka dibatasi dan dikontrol..
 
Alih-alih saling curiga antar tetangga dan berujung kompetisi menuduh, sebaiknya kita bisa mulai dari diri kita sendiri untuk lebih terbuka dengan banyak perbedaan dan mau mendengar. Jika ada tetangga yang diam dan tidak mau bergaul, buatlah kenduri di rumah dan undanglah tetangga tersebut. Jika dia tidak datang, maka bungkuslah makanan dan hantarkan ke rumahnya.
 
Jauh lebih penting bagi kita untuk memelihara ikatan dengan ruang hidup daripada melihat teror dari narasi negara dan mengumpatnya dari teras rumah melalui media sosial.
 
Menghapuskan rasa saling curiga dan membangun kekuatan bersama tidak hanya mampu mencegah persekusi dan mengembalikan martabat manusia yang utuh, namun juga mencegah menguatnya intoleransi. Melemahnya intoleransi akan mengurangi peran militer dalam menangani kasus-kasus penuntasan terorisme, sehingga biaya bernegara kita tidak habis untuk anggaran militer dan bisa dialihkan untuk kepentingan-kepentingan lain seperti kesehatan, pendidikan, dan pangan.
 
Ajeng adalah Koordinator National Forum Aktivis pereMpuan Muda Indonesia (FAMM-I) dan praktisi yoga. Sampai opini ini terbit, dia masih sibuk membangun ruang aman bagi perempuan dan menjadikannya sebagai proses pemulihan batin dan ruang politik. Meskipun percaya pada falsafah non-logis, Ajeng percaya bahwa pembagian kelas manusia berdasarkan zodiak adalah bentuk modern diskriminasi.