October, 25 2017
Istri-istri dalam Belenggu Kontrasepsi

Pemakaian kontrasepsi masih saja dibebankan kepada perempuan.

by Birgitta Ajeng
Issues // Politics and Society
Share:

Ada satu lagi pertanyaan – selain pertanyaan tentang kapan menikah – yang juga sangat mengganggu kehidupan perempuan. Pertanyaan itu datang setelah seorang perempuan menyandang status sebagai seorang istri dan ibu. Padahal pertanyaan itu bisa saja diajukan kepada seorang suami, bukan melulu istri. Pertanyaan itu berbunyi: Kapan KB?
Di dalam kehidupan pribadi saya, pertanyaan itu banyak datang dari orang tua, sedikit dari teman, dan satu kali dari tenaga medis. Ibu saya adalah orang pertama yang bertanya sekaligus menasihati saya untuk segera mengikuti program KB (Keluarga Berencana), beberapa hari setelah saya melahirkan anak pertama.
Tidak hanya satu kali, petuah dari bibir ibu saya muncul terus-menerus. Pada beberapa kesempatan, Ibu bahkan mewanti-wanti, jangan sampai saya hamil lagi ketika anak pertama saya masih bayi.
Sesungguhnya, saya mendengarkan semua nasihat ibu dengan baik. Namun Ibu mungkin tidak melihat hal itu karena saya hanya selalu menjawab: Iya, nanti. Singkat. Jawaban itu pun membuat saya tampak tengah bermain-main atau menyepelekan persoalan hamil, melahirkan, dan punya anak.
Padahal jauh di dalam lubuk hati,  saya benar-benar memikirkan semua itu masak-masak. Saya memutuskan untuk tidak hamil lagi dalam waktu dekat, sebab anak pertama saya masih bayi. Lagipula luka operasi di perut saya juga belum kering. Jika saya kebobolan, hal itu tentu tidak baik bagi kesehatan jiwa dan raga saya, anak, serta keluarga.
Hanya saja, pemikiran tersebut tidak tampak di permukaan, karena tidak diejawantahkan ke dalam tindakan menelan pil KB, suntik KB, atau pemasangan intrauterine device (IUD) yang sering disebut KB spiral. Lantaran saya tidak segera mempraktikkan metode kontrasepsi yang sedang tren di kalangan teman dan tetangga saya, ibu tak henti memberi wejangan.
Kesetaraan gender dalam KB
Jujur, saya memang tidak memakai alat kontrasepsi, karena saya masih trauma akan luka perih bekas sayatan pisau operasi di perut. Saya juga masih sedang mengikhlaskan keberadaan goresan-goresan tipis dan tebal yang membuat perut saya menyerupai kulit jeruk. Kalau saya menelan pil KB, suntik KB, atau pemasangan KB spiral, ada beberapa risiko lain yang harus saya tanggung.
Efek samping dari masing-masing metode kontrasepsi pun berbeda-beda. Suntik KB satu bulan, misalnya, dapat membuat saya mengalami sakit kepala, nyeri pada payudara, penambahan berat badan, pendarahan, serta menstruasi tidak lancar atau bahkan berhenti. Suntik KB tiga bulan juga memberikan efek samping yang kurang lebih sama, dan dapat sedikit mengurangi kepadatan tulang selama masa KB.
Sedangkan tubuh saya mungkin dapat mengalami tekanan darah yang meningkat, pembekuan darah, bercak darah, mual, berat badan naik, dan payudara mengeras bila mengonsumsi pil KB.



Sementara pemasangan KB spiral hormon dapat memicu kista ovarium, dan berpotensi menyebabkan jerawat, sakit kepala, perubahan suasana hati, dan nyeri payudara di awal pemakaiannya. Lantas KB spiral tembaga dapat memicu pendarahan menstruasi atau kram.
Risiko-risiko tersebut membuat saya takut. Saya tidak ingin tubuh saya mengalami perubahan atau sakit lagi. Lagipula, saya berpikir bahwa metode kontrasepsi di atas telah membuat tubuh perempuan yang sehat menjadi seakan-akan sakit, karena harus minum pil KB atau suntik KB dan merasakan efek sampingnya.
Sebagai solusi untuk mencegah kehamilan dalam waktu dekat, saya dan suami memutuskan untuk memakai kondom. Suami saya sempat meminta rekomendasi kondom kualitas terbaik kepada temannya. Akhirnya, kami mendapat rekomendasi kondom asal Jepang dengan harga cukup tinggi, dan kami setia dengan produk tersebut.
Saat suami saya setuju untuk memanfaatkan kondom sebagai alat kontrasepsi, saya merasa bahagia. Setidaknya, tubuh saya tidak perlu menanggung risiko-risiko di atas yang mungkin muncul dan saya dapat berbagi tugas dengan dia dalam urusan reproduksi.
Namun sayang, pemakaian kontrasepsi pada laki-laki belum banyak dilakukan di Indonesia. Bahkan, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), urusan KB cenderung dibebankan kepada istri.
Dalam siaran pers berjudul Sarasehan Peningkatan Peran dan Kualitas Movitator KB Pria, yang diterbitkan di dalam situs resmi BKKBN pada 8 Agustus 2017, diungkapkan bahwa tingkat pemakaian kontrasepsi pada laki-laki masih sangat rendah.
Dari seluruh Indonesia, pemakaian kontrasepsi pada pria hanya 2 persen, dengan pembagian 1,8 persen pria memakai kondom, dan 0,2 persen pria melakukan vasektomi. Artinya, pemakaian kontrasepsi masih dibebankan kepada perempuan.  
Masih dari siaran pers yang sama, beberapa penelitian menunjukkan bahwa rendahnya partisipasi pria dalam KB disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, akses informasi yang terbatas. Kedua, akses pelayanan yang terbatas. Ketiga, masih ada hambatan sosial maupun kultural, sehingga masih diperlukan dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam rangka meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap KB pada laki-laki.
Di samping itu, rendahnya KB pada laki-laki juga terjadi karena norma-norma kehidupan masyarakat Indonesia masih memprioritaskan kaum laki-laki. Data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 mengungkapkan bahwa persentase laki-laki yang mempunyai pandangan bahwa KB adalah urusan perempuan cukup tinggi, yaitu 41,5 persen.  Padahal suami harus ikut terlibat dalam urusan KB.
Di dalam siaran pers tersebut, Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty bahkan menegaskan, “Kesetaraan dan keadilan gender dalam KB dan kesehatan reproduksi harus meningkat, kita harus membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan reproduksi bukan hanya tanggung jawab istri, tetapi merupakan tanggung jawab bersama suami dan istri.”
Kontrasepsi untuk laki-laki
Adapun alat kontrasepsi yang digunakan oleh laki-laki, seperti yang sudah disebutkan di atas, yaitu kondom dan metode vasektomi. Masih menurut BKKBN, ada banyak bukti yang mendukung efektivitas kondom dalam menunda kehamilan dan pencegahan penularan Penyakit Menular Seksual (PMS). Kondom juga membantu menurunkan risiko terjadinya kanker leher rahim pada perempuan.
Sementara vasektomi merupakan metode kontrasepsi yang menyerupai sterilisasi.  Vasektomi dilakukan dengan memotong saluran sperma (vas deferens) yang membawa sperma dari testis ke penis. Ini bertujuan untuk menghentikan aliran sperma ke penis. Jadi, saat laki-laki ejakulasi, sperma tidak lagi keluar bersama air mani.
Vasektomi tentu berbeda dengan dikebiri. Kalau dikebiri, testis atau buah pelirnya dibuang, sehingga produksi hormon laki-laki akan terganggu atau malah tak diproduksi lagi.
Vasektomi juga tidak memiliki efek samping terhadap kemampuan seks pada laki-laki. Metode ini tidak akan menghilangkan sensasi orgasme, ereksi, bahkan ejakulasi. Seorang laki-laki tetap dapat melakukan hubungan seksual beberapa hari setelah melakukan vasektomi.
Hanya saja, sesaat setelah prosedur vasektomi, laki-laki mungkin akan mengalami nyeri di testis. Namun hal itu terjadi hanya sementara. Vasektomi merupakan metode kontrasepsi permanen dan memiliki prosedur yang aman, serta minim komplikasi.
Karena itu, laki-laki harus lebih berpartisipasi dalam menegakkan KB dengan ikut memakai alat kontrasepsi. Sebab, bukankah kehadiran anak merupakan buah kerja sama pasangan suami istri? Kontrasepsi pada laki-laki dapat membantu melepaskan tubuh perempuan dari belenggu efek samping kontrasepsi.
Birgitta Ajeng adalah mantan wartawan di sebuah majalah kesehatan, yang juga seorang istri dan ibu dari satu anak perempuan. Di waktu luang, ia gemar menulis fiksi, dan hal-hal ringan lainnya di birgittaajeng.com.