Women Lead
September 28, 2021

Kamu Salah dan Belajar, Kamu Cuma Menjadi Manusia

Manusia tak luput dari kesalahan, itu fakta. Yang paling penting, mereka tak berhenti belajar dari kesalahan tersebut.

by Jasmine Floretta V.D., Reporter
Lifestyle
Share:

Pada (26/9), ABC News merilis wawancara eksklusif bersama BTS dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Dalam wawancara berdurasi 11 menit itu, BTS dan Korsel-1 membahas berbagai macam topik, termasuk Sustainable Development Goals Moment (SDG Moment), salah satu agenda di Sidang Umum PBB ke-76 di New York, (20/9). Juju Chang, pembawa berita menanyakan bagaimana BTS bisa bekerja untuk mencapai kesetaraan gender sebagai bagian dari salah satu gol SDGs itu sendiri, mengingat fandom mereka juga didominasi oleh perempuan.

Dari pertanyaan tersebut RM pun menjawab, pada 2015 dan 2016 ia panen kritik dari para penggemar mengenai lirik misoginis yang ia tulis. Dari kritikan-kritikan tersebut, ia lantas berefleksi soal bias tak sadar apa saja yang ia miliki. Tak tanggung-tanggung, ia juga dengan senang hati meminta profesor dari kajian perempuan untuk memeriksa lirik yang ia tulis. Alasannya, ia ogah melakukan kesalahan yang sama, sehingga membuat penggemar perempuannya kecewa. Ia cuma mau memperbaiki diri jadi manusia yang lebih baik.

Apa yang dilakukan RM adalah bentuk dari unlearn and relearn. Dilansir melalui halaman Mvorganizing.org, unlearn and relearn mengacu pada proses membuang pandangan, pemikiran, dan pengetahuan yang sudah ketinggalan zaman untuk dipelajari ulang, hingga bisa beradaptasi di dunia modern. Proses unlearn and relearn ini sangat penting sampai-sampai seorang penulis kenamaan Amerika, Alvin Toffler mengatakan, “Buta huruf abad ke-21 bukan soal tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa belajar, melupakan, dan belajar kembali (learn, unlearn, and relearn).”

Lalu bagaimana, sih caranya kita bisa belajar dari kesalahan dengan melakukan unlearn and relearn ini? Berikut 5 tips buat kamu agar kamu bisa segera memulainya:

1. Menantang Dirimu Sendiri untuk Terus Terbuka pada Kritik atau Pandangan Berbeda

Tahap pertama dalam proses unlearn and relearn adalah dengan membuka diri atas kritik dan pandangan berbeda. Jangan membentengi diri kamu sendiri dan menganggap cuma isi kepalamu saja yang jadi kebenaran tunggal.

Tahap ini penting karena kamu diminta untuk secara terus menerus menantang pemikiran atau pandangan yang kamu anggap terbaik dengan mengundang orang lain berperan aktif sebagai aktor yang akan “menginterogasi” pemikiran atau pandangan-pandangan kamu sebelumnya. Dari sinilah kamu belajar untuk melihat sesuatu dari berbagai sisi tidak hanya dalam satu sisi yang kamu anggap benar.

Dalam prosesnya, kamu akan terbiasa untuk tidak dengan mudah menyimpulkan pandangan atau pemikiran karena kamu sudah memiliki pertimbangan aspek-aspek lain. Hal ini yang nantinya akan melatih kamu untuk menjadi seseorang yang tidak mudah menghakimi orang lain.

2. Selalu Bangun Diskusi Sehat dengan Orang Lain

Kedua, yang tak kalah penting, selalu melibatkan diri dalam diskusi sehat dengan orang lain tanpa menjadi terlalu dominan. Hal ini mungkin terdengar sulit apalagi banyak sekali dari kita yang tak terbiasa menjalani diskusi sehat.

Namun, dibandingkan dengan berusaha mendominasi diskusi, mulailah menjadi pendengar lebih banyak. Jika kita merasa paling tahu, pintar, dan benar, maka akan sulit menerima bahwa kita perlu belajar lagi dan harus berubah. Karena itulah, latihlah diri memberikan porsi seimbang dalam diskusi.

Dengan demikian, diskusi sehat yang dilakukan dua arah akan melatih kita untuk secara terus menerus merumuskan masalah dan pertanyaan yang dapat kita ambil dari pandangan atau pemikiran orang lain. Melalui perumusan masalah dan pertanyaan ini, kita akan secara proaktif mencari informasi yang bertentangan dengan asumsi pribadi dan belajar hal anyar.

3. Menyadari dan Menerima Kamu Punya Bias Tidak Sadar 

Setelah melalui dua proses di atas, kamu akhirnya menyadari bahwa bias tidak sadar itu tak bisa terhindarkan. Menyadari hal ini tentunya bukan sebuah kelemahan ataupun kesalahan, namun tindakan manusiawi.

Kita lahir di dunia yang tidak setara dengan kelompok tertentu, dengan privilese masing-masing. Dalam tahap ini, kita bisa memulainya dengan menghindari stereotip dan generalisasi berlebihan. Setelah itu carilah cara untuk belajar hal-hal yang tidak kita tahu sebelumnya dengan membangun ruang aman bersama orang lain. 

4. Menerima Kemungkinan Adanya Ketidaknyamanan atas Perubahan 

Setelah mengetahui bias tidak itu eksis, kita akan masuk dalam proses berikutnya: Keinginan akan perubahan. Guna melakukan perubahan, kita harus mengetahui, selama hidup, akan selalu ada ketidaknyamanan.

Rasa tidak nyaman ini adalah hal krusial dalam melakukan perubahan, karena itu membuatmu berani keluar dari zona nyaman. Oleh sebab itu, jadikanlah rasa tidak nyaman ini sebagai temanmu, karena dengan begini, kamu tidak lagi melihat perubahan sebagai sebuah ancaman, namun keharusan. Rasa tidak nyaman ini nantinya menjadi alarm untuk terus berubah, mengembangkan diri, dan tumbuh.

Ketika kamu tumbuh, kamu dapat mengenal dirimu dengan lebih baik dari sebelumnya, terhubung secara otentik dengan orang-orang di sekitarmu, bahkan menginspirasi orang lain untuk mengambil langkah yang sama denganmu.

5. Berusaha Memperbaiki Diri dan Memproyeksikan Diri di Masa Depan

Melakukan perubahan artinya kamu berusaha secara terus menerus memperbaiki diri jadi lebih baik lagi. Memperbaiki diri tidak hanya melibatkan identitas dirimu dengan masa lalu, namun juga masa depan. Cobalah untuk memproyeksikan dirimu sendiri pada masa depan.

Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan, seperti mengapa kamu memilih berubah dan memperbaiki diri? Apa yang terjadi jika kamu tidak melakukannya? Apa yang akan terjadi jika kamu memutuskan untuk memperbaiki diri? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntunmu untuk memikirkan tindakan-tindakan apa saja seharusnya kamu lakukan kedepannya. 

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.