March, 01 2016
Kastrasi Penis: Refleksi atas Homofobia

Homoseksualitas kerap disamakan dengan tidak atau kurang maskulin bagi pria. Di mata lelaki yang homofobik, maskulinitas tak ubahnya seperti monster kelaparan yang harus terus diberi makan agar tetap utuh.

by Hendri Yulius
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Namanya Bawong. Menurut dirinya sendiri, ia cakep, berhidung mancung, dan berkulit kuning langsat. Pahanya, masih menurut dia sendiri, mirip seperti paha perempuan, sehingga diam-diam banyak cowok yang menyenangi dia.
 
Pada suatu malam, di asrama tempatnya tinggal waktu SMA, sahabat karibnya yang juga lelaki tiba-tiba mencium pipinya. Tangan sahabatnya ini lantas merangkulnya. Terjepit antara perasaan kaget setengah mati dan upaya menjaga perasaan karibnya ini, Bawong pun berpura-pura “tak sengaja” menghindari sahabatnya ini. Adegan singkat ini kemudian menggedor dirinya.
 
Ia mengaku, “…Ada dalam perasaan saya yang tidak bisa saya lawan. Harga diri saya seperti dipanggang. Saya kemudian diimpit oleh penyakit untuk selalu menunjukkan dan membuktikan kelelakian saya.”
 
Demi merestorasi kelelakiannya yang telah ‘dirusak’ oleh sahabatnya ini, Bawong pun mulai nekad menggandeng dan menggauli perempuan. Tak hanya satu, tetapi jumlah perempuan yang ditidurinya mencapai tiga kali lipa usianya saat menginjak tahun kedua di universitas. Semua itu dilakukan agar, ujar Bawong, “Semua orang harus tahu bahwa saya laki-laki. Genting-genting rumah, pohon-pohon, angin, mata orang lain yang meskipun tak saya kenal, harus tahu bahwa saya laki-laki.”
 
Bawong mungkin hanyalah tokoh dalam cerpen “Yang Terhormat Nama Saya” dari Emha Ainun Nadjib , penulis dan budayawan kelahiran Jombang yang akrab disapa Cak Nun. Tetapi, apa yang dirasakan dan dilakukan Bawong bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat kita, terutama laki-laki ketika harus berhadapan dengan konstruksi gender yang ada. Terlahir dengan penis secara biologis membuat lelaki harus berperilaku maskulin. Dan yang mengerikannya adalah maskulinitas ini terkadang harus dibuktikan melalui cara yang cukup “keras”.
 


Dalam penelitian etnografinya, C.J Pascoe menulis bahwa di sekolah, kini ada yang dinamakan “the fag discourse” [diskursus ‘banci’—bila saya ingin menerjemahkannya ke bahasa Indonesia]. Anak lelaki yang tidak mengkuti norma maskulin yang ada akan dipanggil banci dan tak sedikit juga yang mengalami tindak perundungan (bullying).
 
Menurut Pascoe, diskursus ini merefleksikan sebuah ketakutan terhadap ketertarikan seksual antara lelaki. Lebih jauh lagi, hinaan “fag” [banci] ini juga bisa mengacu pada sesuatu yang sebenarnya bukan homoseksual, tetapi pada ‘femininitas’ seorang lelaki. Lelaki harus maskulin. Bila ia tampil feminin atau tidak bisa mengikuti norma maskulin yang ada, maka ia akan dipanggil banci dan dianggap lelaki yang tidak maskulin.
 
Oleh karenanya, anak-anak lelaki ini, demi membuktikan maskulinitasnya, berlomba-lomba untuk mendapatkan pacar perempuan. Hal ini tak lain untuk membuktikan bahwa mereka bukan homo, dan juga, maskulin. Parahnya lagi, masih demi pembuktian ini, mereka menggunakan tubuh perempuan sebagai medium. Menyentuh dan mendominasi tubuh perempuan adalah bentuk afirmasi terhadap maskulinitasnya. Dalam satu kasus, bahkan seorang lelaki tiba-tiba memukul bagian selangkang murid perempuan dengan pemukul drum seraya berteriak, “Get raped!” [Perkosa lu!]
 
Maskulinitas lelaki dibangun di atas ketakutannya terhadap feminitas. Hal ini bukan sesuatu yang baru. Meskipun sedikit-banyak masih heteronormatif, Sigmund Freud dengan teori psikoanalisisnya berguna untuk melihat bagaimana ketakutan dan maskulinitas ini dibangun dalam diri seorang laki-laki.
 
Menurutnya, manusia terdiri dari id, ego, dan superego. Id merupakan hasrat kita yang paling jujur, termasuk seks. Namun, superego yang berupa aturan dan norma yang berada di luar tubuh kita mengekang hasrat kita ini. Pertemuan dan negosiasi antara id dan superego membentuk ego. Namun, hasrat yang direpresi habis-habisan supaya sesuai dengan norma ini kemudian masuk ke alam bawah sadar (unconscious mind). Dan mimpi, bagi Freud merupakan ekspresi dari hasrat seksual yang terpendam di alam bawah sadar kita.
 
Selain itu, salah satu konsepnya yang paling dikenal adalah Oedipus Complex. Dalam perkembangan seksualnya, si anak akan mengalami hasrat seksual terhadap orang tua lawan jenisnya (Ya, Freud selalu menggunakan kacamata laki-laki heteroseksual). Anak laki-laki jatuh cinta pada ibunya, tetapi ia tahu ayahnya merupakan pesaingnya. Ayahnya melarang si anak laki-laki untuk bersetubuh dengan ibunya. Ketika si anak sadar bahwa ayahnya punya penis (Freud biasa juga menyebutnya sebagai phallus) dan si ibu tidak punya, si anak mengalami ketakutan bahwa penis ibunya telah dikastrasi oleh ayahnya. Ia tak ingin penisnya dikastrasi, kemudian ia pun menghapus hasratnya terhadap ibunya dan belajar untuk mengambil posisi peran seperti ayahnya. Ketika dewasa ia akan memilih seorang perempuan untuk kemudian menjadi seperti ayahnya.
 
Konsep lain yang tak kalah ‘uniknya’ adalah penis envy (iri akan penis). Karena Freud tampaknya tergila-gila dengan phallus, maka baginya anak perempuan akan selalu mengalami rasa iri terhadap penis karena ia tidak memilikinya.
 
Obsesi terhadap kepemilikan penis (juga, ketakutan akan kehilangannya) juga muncul dari teori fetishism dari Freud. Tetapi, fetish yang bersifat seksual agaknya harus kita kembalikan pada pemikir Sigmund Freud. Coba bayangkan seorang anak kecil lelaki yang belum pernah melihat vagina tiba-tiba tak sengaja melihat vagina saudari atau ibunya yang berbeda dengan penis miliknya. Si anak yang polos ini mengira si ibu atau saudarinya juga seharusnya memiliki penis yang sama dengannya, tetapi sayangnya, bentuk vagina yang tidak ngejendol membuat dia berpikir bahwa penis ibu dan saudarinya ini telah dikastrasi, alias disunat habis.
 
Melihat itu, si anak lelaki itu pun merasa ketakutan setengah mati. Bagaimana bila penisnya juga dikastrasi habis? Rasa takut itu mulai menyelimuti dirinya hingga akhirnya, ia melihat kaki ibunya dan membayangkan bahwa penisnya memang tidak ada di selangkangan, tetapi ada di pergelangan kaki tersebut.
“Nggak, nggak, penis Ibu masih ada. Tapi, ia ada di kakinya.” Si anak lelaki itu terus bergumam dan membayangkan batang penis itu ada di kaki sang Ibu. Perlahan-lahan ia berusaha mengalahkan rasa takutnya akan kastrasi habis batang alat vital miliknya sendiri. Nah, itulah sedikit ilustrasi untuk memudahkan kita memahami pemikiran Freud tentang fetish.  
 
Jadi, menurut Bapak psikoanalisis ini, fetishism adalah sebuah bentuk pemindahan ketakutan akan vagina yang bentuknya tidak seperti penis. Bagi para lelaki, vagina terlihat seperti penis yang terkastrasi atau tersunat habis, sehingga rasa takut akan kastrasi yang dialami oleh lelaki ini harus dipindahkan ke bagian tubuh perempuan yang lain. Bagian tubuh lain ini kemudian dianggap sebagai ‘penis’ yang terkastrasi itu. Jadi, bagi lelaki versi Freud, fetishisme adalah upaya untuk mengalahkan rasa takut akan kastrasi dengan mencari dan menciptakan penggantinya dengan bagian tubuh lain – seperti misalnya kaki – atau dalam perkembangannya, juga menggantinya dengan obyek lain di luar tubuh, seperti misalnya kutang.


Menjadi gay, dalam pemahaman masyarakat kita yang amat heteronormatif, berarti tidak atau kurang maskulin. Melalui kacamata lelaki homofobik ini, maskulinitas berubah menjadi sesuatu yang hegemonik.

 
Secara keseluruhan, ketakutan akan kastrasi ini membuat lelaki belajar bahwa penis adalah segala-galanya sebagai pembedanya dengan perempuan. Menjadi gay atau berhubungan seksual dengan lelaki berpotensi untuk mengingatkan kembali lelaki pada ketakutannya akan kastrasi, pada ketakutannya akan kehilangan maskulinitasnya sendiri, pada ketakutannya akan penis yang tidak berfungsi sebagaimana konstruksi yang ada (baca: menyetubuhi perempuan dan mengambil peran seperti ayahnya).
 
Membayangkan hubungan seksual dengan sesama lelaki, membuat mereka berada dalam situasi ketakutan dan ancaman, sama seperti ingatan primal tentang penis yang terkastrasi, sehingga ia menjadi tak lebih seperti “perempuan”. Menjadi gay adalah sesuatu yang kastratif, terutama bagi maskulinitasnya ketika ia malah menjadi “obyek” dari lelaki lain.
 
Karenanya, maskulinitas lelaki selalu berada dalam ketakutan dan ancaman; ia tak pernah stabil. Ia membutuhkan afirmasi, seperti yang dialami oleh Bawong dan anak laki-laki dalam penelitian CJ Pascoe, meskipun afirmasi yang dilakukan terkadang penuh dengan agresi, dominasi, dan pelecehan terhadap perempuan.
 
Makanya, tidak heran kalau lelaki yang homofobik seringkali berkata, “Awas lu ditaksir sama homo” dan berbagai ungkapan lain yang kadang berlebihan, seolah mereka seganteng atau lebih ganteng dari Bradley Cooper. Sebab ini adalah cara untuk mengatasi ketakutan berlebihan dalam diri mereka sendiri dan membuktikan kalau mereka maskulin dan heteroseksual.
 
Menjadi gay, dalam pemahaman masyarakat kita yang amat heteronormatif, berarti tidak atau kurang maskulin. Melalui kacamata lelaki homofobik ini, maskulinitas berubah menjadi sesuatu yang hegemonik. Ia menjadi laiknya seperti monster kelaparan yang harus selalu terus diberi makan, agar ia tetap utuh. Ia selalu membutuhkan pembuktikan.
 
Menariknya lagi, ada penelitian yang membuktikan bahwa seseorang dengan tingkat homofobia yang tinggi biasanya memiliki ketertarikan sesama jenis juga yang dikubur dalam-dalam. Keberadaan gay dan lesbian hanya mematik perasaan ini kembali ke permukaan, sehingga menjadi ancaman bagi yang harus dilawan dan ditutupi sedemikian rupa. Nah!
 
Hendri Yulius adalah penulis Coming Out dan pengajar kajian gender dan seksualitas.