May, 29 2017
Kebangkitan Agama dan Persoalan Rumah Tangga

Kebangkitan agama maupun Revivalisme Islami tidak hanya berkaitan dengan isu berskala besar seperti politik global, akan tetapi juga menyentuh ranah pribadi.

by Daud Sihombing
Issues // Politics and Society
Share:


Dalam kajian akademis tentang agama ada istilah kebangkitan agama (religious resurgence) yang mengacu pada keadaan dimana agama muncul kembali dalam berbagai wujud dan memiliki peran signifikan dalam beragam sektor. Fenomena ini dapat dilihat dari adanya tren meningkatnya kemunculan simbol agama dan ekspresi beragama. Komunitas agama juga mulai berusaha untuk mencoba memberikan pengaruh kepada kebijakan dan juga pemerintahan. Dalam konteks yang lebih sempit, ada juga yang disebut dengan revivalisme Islami (Islamic revivalism). Secara garis besar istilah ini memiliki kesamaan dengan kebangkitan agama, hanya saja untuk istilah yang satu ini menekankan pada kembalinya peran nilai dan simbol Islam.
 
Sudah banyak kajian yang membahas dua fenomena tersebut dan mengaitkannya dengan keadaan kontemporer akhir-akhir ini. Banyak di antaranya menghubungkan dengan peran agama dalam politik di suatu negara ataupun kasus-kasus lain dengan skala yang tak kalah besarnya. Kemudian pertanyaannya, apakah dua fenomena tersebut sama sekali tidak mempengaruhi kehidupan dalam skala kecil, misalnya di dalam keluarga?
 
Saya dibesarkan dalam keluarga lintas iman. Ibu saya seorang Muslim, ayah saya seorang Nasrani sampai akhirnya sekitar dua tahun ke belakang mulai belajar tentang Islam dan mempraktikkannya. Apa yang mendasari keputusan ayah saya tersebut? Saya harap memang ada dorongan hati dan keinginan yang tulus dari ayah saya untuk mempelajari Islam. Di sisi lain saya melihat adanya pergeseran persepsi ibu saya tentang keluarga yang ideal, hubungan lintas iman, sampai sosok suami.
 
Kebangkitan agama yang sempat disinggung sebelumnya hadir dalam berbagai hal, salah satunya semakin banyaknya simbol agama muncul di ruang publik. Kemunculan ini juga banyak rupanya, misalnya acara agama di televisi. Akhir-akhir ini banyak sekali stasiun televisi yang menayangkan acara agama seperti ceramah, khususnya Islam. Selain ceramah juga ada acara yang membawakan informasi atau kisah-kisah yang berkaitan dengan Islam. Acara sinetron juga dibungkus dengan simbol-simbol Islam, mulai dari karakter yang memakai busana Islami dan juga digambarkan sebagai orang yang saleh.
 
Informasi yang ada dan penggambaran karakter yang ditayangkan di televisi turut membentuk potret baru dan juga stereotip tentang kesalehan. Kemudian pada perkembangannya hal-hal tersebut masuk ke dalam ranah yang lebih personal. Dalam kasus yang saya alami, ibu saya mempunyai persepsi baru tentang seperti apa keluarga yang ideal, yakni keluarga yang seluruh anggotanya seiman.



 
Selain itu juga muncul imaji sosok suami dambaan, yaitu sebagai pemimpin keluarga dan imam. Sayangnya persepsi-persepsi tersebut juga diamini oleh pengajian atau ceramah yang diadakan di sekitar tempat tinggal kami. Syiar-syiar yang disampaikan kurang lebih tidak ada bedanya dengan apa yang disampaikan di televise, bahkan bisa lebih radikal. Ketika para ulama, baik di televisi maupun pengajian, berceramah dengan menggebu-gebu, tidakkah mereka sadar bahwa ada keluarga yang menjadi berubah karena omongannya itu?
 
Baik kebangkitan agama maupun revivalisme Islami tidak hanya berkaitan dengan isu berskala besar seperti politik global, akan tetapi juga menyentuh ranah pribadi. Keduanya tidak melulu soal bangkitnya agama di segala aspek, tetapi juga berkaitan dengan hal mikro. Fenomena-fenomena tersebut telah berperan dalam membentuk cara pandang baru tentang agama dan juga cara beragama baik di ranah komunal dan individu. Lebih jauh lagi, fenomena-fenomena tersebut berperan dalam berubah cara pandang ibu saya, cara pandang saya, dan mungkin cara pandang kalian juga tentang agama.
 
Daud Sihombing adalah lulusan Studi Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada