Kronologi Kecelakaan Pesawat ATR 42-500: Black Box Ditemukan, 8 Korban Tewas
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam penerbangan tersebut, tercatat ada 10 orang di dalam pesawat, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Begitu kabar hilangnya pesawat diterima, tim SAR gabungan langsung melakukan operasi pencarian dengan dugaan awal terjadi kecelakaan pesawat. Pada Minggu pagi, 18 Januari 2026, tim SAR akhirnya menemukan puing-puing pesawat di lereng Puncak Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Lokasi penemuan berada di sisi selatan puncak, sementara badan pesawat teridentifikasi berada di bagian utara kawasan Bulusaraung.
Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut masih belum diketahui. Proses evakuasi puing pesawat dan korban masih terus berlangsung dan dilakukan secara bertahap oleh tim di lapangan.
Berikut rangkuman fakta-fakta terkait insiden pesawat ATR 42-500 yang dilaporkan hilang kontak.
Pesawat ATR 42-500 Mengangkut 10 Orang
Dikutip dari Metro TV News dalam laporan Bandara Adisutjipto Tegaskan Pesawat ATR 42-500 Mengangkut 10 Orang, jumlah penumpang pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu pagi, 17 Januari 2026, dipastikan sebanyak 10 orang. Meski sempat beredar manifes penerbangan yang mencantumkan 11 nama, pihak Bandara Adisutjipto Yogyakarta menegaskan bahwa jumlah penumpang aktual tetap 10 orang.
Manajer Umum PT Angkasa Pura Indonesia Cabang Bandara Adisutjipto, Kolonel Pnb. Wibowo Cahyono Soekadi, menjelaskan bahwa pesawat tersebut membawa tujuh kru dan tiga penumpang.
“Total kru-nya ada tujuh, kemudian pax-nya (penumpang) ada tiga,” ujar Wibowo pada Rabu, 21 Januari 2026.
Saat memberikan keterangan kepada media di hari kejadian, Wibowo juga menegaskan bahwa pesawat memang hanya mengangkut 10 orang, meskipun data manifes mencantumkan satu nama tambahan. Hingga kini, ia belum memberikan penjelasan detail terkait perbedaan data dalam dokumen manifes yang sempat beredar.
Wibowo hanya menyampaikan bahwa pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport lepas landas dari Bandara Adisutjipto pada pukul 08.58 WIB. Ia memastikan seluruh proses keberangkatan, mulai dari pemeriksaan X-ray hingga boarding, telah dilakukan sesuai prosedur operasional bandara.
“Semua prosedur dari keberangkatan sampai pemeriksaan di X-ray sudah kami lakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku di bandara. Kemudian di ruang tunggu, setelah itu boarding menuju ke Makassar,” jelasnya.
Baca Juga: Indonesia Tak Lagi Bebas Siklon Pemicu Bencana, Seberapa Siap Negara?
Black BoxPesawat ATR 42-500 Berhasil Ditemukan
Dikutip dari Detik News dalam artikel Black Box Pesawat ATR 42-500 yang Jatuh Telah Ditemukan!, tim khusus (timsus) berhasil menemukan black box pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Perangkat penting tersebut ditemukan di bagian ekor pesawat.
Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, menyampaikan bahwa penemuan black box dilakukan di Posko Operasi SAR Gabungan, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, pada Rabu, 21 Januari 2026.
“Kita berhasil menemukan black box,” ujar Dody, dikutip dari detikSulsel.
Ia menambahkan bahwa black box ditemukan sekitar pukul 11.00 WITA dan sudah berhasil dilepas dari ekor pesawat sebelum dibawa turun menuju posko evakuasi di Desa Tompobulu.
Sebelumnya, tim khusus memang dikerahkan untuk menjangkau lokasi ekor pesawat yang berada di tebing dengan kedalaman sekitar 131 meter dari Puncak Gunung Bulusaraung. Black box tersebut diyakini masih menempel di bagian ekor pesawat sejak awal pencarian.
“Ada timsus kita yang mencari ekor pesawat sama black box,” kata Kolonel Inf Abi Kusnianto di Posko Operasi SAR Gabungan, Rabu (21/1).
Baca Juga: Bencana Sumatera Bukan Panggung Hiburan, Setop jadi ‘Performative Government’
8 Korban Ditemukan, 2 Masih Dalam Pencarian
Tim SAR gabungan kembali menemukan enam jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Kamis, 22 Januari 2026.
Dengan penemuan terbaru ini, jumlah korban pesawat ATR 42-500 yang berhasil ditemukan bertambah menjadi delapan orang, sementara dua korban lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Dikutip dari Kompas dalam laporan Update Kecelakaan Pesawat ATR 42-500: 8 Korban Ditemukan, 2 Masih Dicari, Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Dody Priyo Hadi menjelaskan bahwa enam jenazah tersebut ditemukan oleh tim elang pada rentang waktu pukul 09.30 hingga 10.46 WITA.
“Ada enam jenazah yang lokasinya tersebar di putaran radius 50 meter dari yang ditemukan pertama,” ujar Dody di Posko Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Kamis (22/1/2026).
Menurut Dody, kondisi jenazah sudah mengalami pembengkakan karena baru ditemukan sekitar enam hari setelah pesawat jatuh. Situasi ini membuat proses identifikasi langsung di lapangan menjadi cukup menantang.
“Dilaporkan kondisinya membesar sehingga tim yang di depan sulit untuk mengenali,” jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa posisi enam jenazah berada lebih dari 100 meter di bawah titik penemuan korban pertama dan sekitar 250 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
“Kurang lebih di bawahnya di selatan sekitar seratus meter ke bawah,” ungkap Dody.
Sebelumnya, dua korban telah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel, yakni pramugari Florencia Lolita Wibisono (33) dan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Deden Maulana.
“Hari ini sudah delapan korban dengan satu potongan tulang lengan,” kata Dody.
Sementara itu, dua korban lainnya masih terus dicari dengan strategi pembagian sektor pencarian serta penambahan personel cadangan untuk mempercepat proses evakuasi.
Baca Juga: ‘No Comment’: Bagaimana Merespon Tragedi Publik dengan Bertanggung Jawab
Kondisi Cuaca Saat Pesawat ATR 42-500 Mengalami Kecelakaan
Dikutip dari Kompas dalam artikel Cerita di Balik Kecelakaan Tragis Pesawat ATR 42-500: Ikut Misi Pencarian, Kini Malah Dicari, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani memaparkan kondisi cuaca di wilayah Maros, Sulawesi Selatan, saat pesawat mengalami kecelakaan.
Menurut Teuku, di area Bandara Sultan Hasanuddin—yang menjadi lokasi tujuan pendaratan pesawat—terpantau adanya awan cumulonimbus (Cb) pada saat kejadian.
“Di Bandara tujuan di Sultan Hasanuddin, untuk kondisi pada saat kejadian, 17 Januari 2026 pukul 12.30 WITA, itu METAR yang dilaporkan adalah angin bertiup dengan kecepatan 13 knot, jarak pandangnya 9 kilometer, suhu udara 31°C, dan tekanan udara 1.007 mb,” jelas Teuku.
Ia menambahkan bahwa cuaca di sekitar bandara saat itu berupa hujan sesaat, dengan awan cumulonimbus setebal 1–2 oktas di ketinggian sekitar 1.700 kaki, serta awan lebih tebal 3–4 oktas di ketinggian 1.800 kaki.
“Memang di area bandara itu dipengaruhi oleh awan Cb yang cukup tebal,” sambungnya.
Secara umum, menurut Teuku, kondisi cuaca tersebut masih tergolong relatif stabil untuk aktivitas penerbangan. Namun, keberadaan awan cumulonimbus tetap perlu diwaspadai, terutama saat fase pendekatan dan pendaratan pesawat.
“Berdasarkan citra satelit Himawari IR Enhanced pada 17 Januari 2026 pukul 11.00–13.30 WITA, suhu puncak awan di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C. Ini menunjukkan adanya awan tinggi dan awan tebal (dense cloud) di sekitar wilayah tersebut,” terang Teuku.
















