December 14, 2016
Kita Mendatangi Agama, Bukan Agama Mendatangi Kita

Alangkah baiknya jika kita menggunakan nalar kritis kita untuk mengembara ke dalam sudut gelap yang takut untuk kita kunjungi demi mencari jawaban kita sendiri tentang apa yang kita yakini.

by Dewi Susanti
Issues // Politics and Society
Share:
Tinggal di Indonesia berarti kita secara sadar atau tidak sadar dipaksa untuk memeluk satu dari enam agama yang diakui negara. Banyak orang yang memeluk agama karena warisan ajaran keyakinan dari orang tuanya. Namun, dalam perjalanan hidup mungkin banyak dari kita pernah ada di titik dimana kita mempertanyakan hal-hal filosofis semisal siapa diri kita, untuk apa kita hidup, apakah Tuhan itu benar ada, ke mana manusia pergi setelah meninggal, dll.

Pencarian atas jawaban-jawaban itu membuat saya mulai mempertanyakan agama saya, lalu semua agama secara keseluruhan, dan hal itu membawa saya mengenal ateisme, agnotisme, dan deisme. Pada satu titik akhirnya saya meyakini untuk menjadi seorang deist.

Pilihan menjadi seorang deist tidak serta merta membuat saya tenang dan damai. Menjadi deist berarti menjadi minoritas terkecil dalam lingkaran sosial yang penuh unsur agama di Indonesia. Ada teman yang pergi, ada orang asing yang seenaknya menghakimi, banyak yang memandang hina, tekanan untuk terus berpura-pura membuat saya kembali mempertanyakan segalanya dan mencoba belajar lagi dari nol.

Pembelajaran itu dimulai dengan mengevaluasi semua pengalaman sosial maupun agamis yang mempengaruhi keputusan saya untuk tidak memeluk agama, berusaha untuk berdamai dengan itu, lalu mengasah nalar, tak hanya akal untuk menerima ajaran agama yang baik untuk pengembangan diri dan umat secara keseluruhan. Bahwa cerita kelam adanya unsur kekerasan dalam sejarah perkembangan agama adalah umum dan itu semua karena ulah manusia yang memang berakal tetapi sangat rentan akan bisikan setan.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun bergulat dalam lingkaran pertanyaan, jawaban, negasi, evaluasi, saya kembali berdoa dan beribadah. Namun, pemikiran saya yang tidak menganggap Tuhan dengan kedekatan personal tetap tidak bisa saya hilangkan. Saya mempercayai-Nya dan berlindung kepada-Nya, tetapi saya tidak akan lupa untuk memberi kredit kepada diri saya sendiri dan orang-orang terkait atas pencapaian saya ataupun kegagalan saya.




Keramaian di media saat ini mengenai aksi bela agama membuat saya merasa sedih dan kecewa. Represi mayoritas terhadap minoritas kini lebih terang-terangan dan intens. Sikap yang ditunjukkan oleh para pendukung aksi tersebut di media sosial maupun di kehidupan nyata dengan aksi-aksi yang lebih kecil mau tidak mau membuat saya berpikir bahwa mereka adalah orang-orang yang berpikir agama mendatangi kita.

Dalam sejarah-sejarah agama dituliskan bahwa orang-orang suci entah itu Buddha, Yesus, maupun Nabi Muhammad pergi mengembara ataupun menyendiri di dalam gua lalu kemudian menerima wahyu dari Tuhan. Ada sebuah perjalanan yang mereka lalui untuk menerima ajaran tersebut.

Di masa yang lebih modern ini dengan kesibukan yang tak terhindarkan kita tidak harus lalu membuang semua yang kita miliki untuk menjadi pertapa atau pergi mengembara ke tempat yang jauh. Namun, alangkah baiknya jika kita menggunakan nalar kritis kita untuk mengembara ke dalam sudut gelap yang takut untuk kita kunjungi demi mencari jawaban kita sendiri tentang apa yang kita yakini.

Pada saat kita akhirnya mendapatkan “hidayah” tersebut dengan akal pikiran yang jernih tanpa bias akan rasa keagungan karena kita adalah manusia dengan kebenaran yang paling sempurna, kita akan bisa melihat bahwa sebenarnya semua manusia di muka bumi ini adalah saudara kita. Terlepas dari apa warna kulitnya, sukunya, bentuk matanya, orientasi seksualnya, maupun agama yang diturunkan dari orang tuanya ataupun dicarinya sendiri.

Dewi Susanti, selain alfabet, mampu membaca huruf hiragana, katakana, kanji, Arab, dan hangul tapi lupa hanacaraka. Suka menulis tapi tidak suka nge-blog.